Breaking News
Live Update Berita Terkini

Kisah “Trio of Terror” dan Gol Pertama Yordania di Piala Dunia

Kamis, 18 Jun 2026
Editor: Jamalul Insan
Penyerang tim nasional Yordania Ali Olwan mengangkat jersei bernomor punggung 11 saat merayakan golnya ke gawang Austria pada laga Grup J Piala Dunia 2026 di Stadion San Francisco Bay Area, Amerika Serikat, Selasa (16/6/2026) waktu setempat. Itu adalah jersei rekannya, Yazan Al-Naimat, yang harus absen dari Piala Dunia 2026 karena cedera lutut. (ANTARA/AFP/Getty Images/Dean Mouhtaropoulos)
Dengarkan dgn suara Siap
2.1K pembaca
SAN FRANCISCO  (Kabarpublik.id) – Kisah-kisah soal tim nasional Yordania menyembul setelah mereka kalah 1-3 dari Austria pada laga Grup J Piala Dunia 2026 di Stadion San Francisco Bay Area, Amerika Serikat, Rabu (17/6) pagi WIB.

Mari mengawalinya dengan kisah tentang bagaimana perjuangan Yordania hingga dapat menjalani debut di Piala Dunia. Ya, pertandingan kontra Austria merupakan pertandingan pertama Yordania di turnamen empat tahunan tersebut setelah berpuluh tahun mencoba peruntungan demi lolos dari fase kualifikasi.

Untuk mengunci satu tempat di Piala Dunia 2026, Yordania memperlihatkan performa mengesankan di kualifikasi zona Asia dengan hanya tiga kali kalah dari 16 pertandingan putaran kedua dan ketiga. Mereka sukses menorehkan kemenangan pada delapan laga dan sisanya berakhir seri.

Bukan cuma itu, Yordania pun memamerkan ketajaman dengan membuat 32 gol atau rata-rata dua gol pada setiap laga kualifikasi tersebut.

Melaju ke Piala Dunia 2026, Yordania mengakhiri penantian selama 40 tahun atau sejak keterlibatan mereka pada kualifikasi Piala Dunia 1986.

Yordania memperlihatkan pula bagaimana mereka bangkit setelah menelan kekecewaan besar pada kualifikasi Piala Dunia 2014. Kala itu, hanya tinggal menghadapi Uruguay di playoff antarkonfederasi pada dua leg untuk melaju, Yordania justru keok.

Yordania yang saat itu dalam motivasi tinggi kalah dengan agregat 0-5 dari Uruguay yang diperkuat pemain-pemain tenar seperti Diego Forlan, Edinson Cavani, Luis Suarez dan Diego Godin.

Namun, tidak salah kalau timnas Yordania dijuluki Al-Nashama atau Para Kesatria. Frustrasi yang datang silih berganti tidak membuat mereka kehilangan kekuatan dan harapan. Pelan-pelan, Yordania bangkit dari kegelapan.

Keberhasilan Yordania lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi buah dari upaya mereka menghasilkan satu generasi emas sepak bola yang mulai unjuk gigi pada tahun 2023.

Generasi ini, yang terdiri atas  pemain-pemain seperti Yazan Al-Naimat, Mousa Al-Tamari, Ali Olwan, Mohammad Abu Hasheesh, Abdallah Nasib dan Ibrahim Sadeh secara mengejutkan sukses membawa Yordania menjadi runner-up Piala Asia 2023, pencapaian yang belum pernah diraih sepanjang keikutsertaan mereka di kompetisi tersebut. Sebelumnya, prestasi terbaik Yordania di Piala Asia adalah masuk ke perempat final pada 2004.

Mereka juga berandil besar saat membawa Yordania untuk pertama kalinya merebut status runner-up Piala Arab tahun 2025. Penyerang Yordania Ali Olwan bahkan menjadi pencetak gol terbanyak turnamen itu dengan enam gol.

“Saya selalu menyampaikan bahwa kami akan menjadi generasi terbaik dalam sejarah Yordania ketika mencapai sesuatu yang signifikan. Kami sudah melakukannya dengan mencapai final Piala Asia untuk pertama kali (tahun 2023-red),” ujar Olwan seperti tertulis dalam web FIFA.

Grafik ilustrasi pertandingan penyisihan Grup J Piala Dunia 2026 antara Austria melawan Yordania yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Levi’s, Bay Area, California, Amerika Serikat, Selasa (16/6/2026) waktu setempat. ANTARA INFOGRAFIK

Trio of terror

Di kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, Yordania memiliki tiga pemain serang yang sangat dominan dalam menggedor pertahanan lawan yaitu Ali Olwan, Yazan Al-Naimat dan Mousa Al-Tamari.

Saking “menyeramkannya” mereka, FIFA memberikan julukan sebagai trio of terror.

Bagaimana tidak, jika ditotal, ketiga pemain tersebut menghasilkan 24 dari 32 gol Yordania di kualifikasi Piala Dunia 2026.

Ali Olwan membuat sembilan gol, Al-Naimat menghadirkan delapan gol dan Al-Tamari melesakkan tujuh gol.

Dari antara mereka, hanya Al-Tamari yang bermain di Eropa, tepatnya di klub Stade Rennais (Rennes) di Liga Prancis, di mana dia membuat tujuh gol dan 11 assist dari 36 penampilan untuk timnya di semua kompetisi musim 2025/2026.

Olwan dan Al-Naimat berkiprah di Liga Qatar, masing-masing untuk tim Al-Sailiya dan Al-Arabi.

Sayangnya, menjelang Piala Dunia 2026, tepatnya pada pertandingan perempat final Piala Arab 2025, Desember, Yazan Al-Naimat mengalami cedera lutut parah. Dengan terpaksa, dia tidak dibawa ke Piala Dunia 2026. Meski demikian, semangat Al-Naimat tetap mengiringi setiap langkah tim nasional Yordania.

Pada pertandingan Yordania di Grup J Piala Dunia 2026 melawan Austria di Stadion San Francisco Bay Area, Amerika Serikat, Rabu (17/6) pagi WIB, Yordania bermain dengan meyakinkan.

Tepat 30 menit setelah tertinggal dari lawan yang memecahkan kebuntuan lewat Romano Schmid (20′), Yordania menyamakan skor menjadi 1-1 melalui tendangan kaki kanan Ali Olwan.

Gol itu mendapatkan sambutan meriah. Akhirnya, Yordania mempunyai gol di Piala Dunia. Gol yang sudah sangat lama dinanti-nantikan.

Perayaan gol tersebut semakin emosional ketika Ali Olwan mengangkat jersei bernomor punggung 11 saat merayakan golnya. Itu adalah jersei yang biasa digunakan rekannya, Yazan Al-Naimat.

Terkait hal itu, salah satu bek andalan timnas Yordania yang juga tidak dipanggil ke Piala Dunia 2026 karena cedera, Issam Smeeri, menyebut bahwa para pemain di skuad mereka tidak pernah meninggalkan satu sama lain dalam kondisi apapun. Semuanya saling mendukung di bawah kepemimpinan sang pelatih, Jamal Sellami.

Smeeri, yang ikut membawa Yordania ke final Piala Arab 2025, menegaskan bahwa Yordania adalah tim yang kompak dan padu.

“Ketika memakai jersei Yordania, kami tidak pernah bermain dengan mentalitas yang hanya terdiri dari 11 pemain,” tutur Smeeri.

Sementara bagi Olwan, selain mengukir sejarah bagi negaranya, golnya ke gawang Austria juga membuatnya kini sudah mengoleksi 28 gol di timnas Yordania, tinggal berselisih satu gol dari pemain tersubur Yordania sepanjang masa Hamza Al-Dardour (29 gol).

Saat peluit panjang dibunyikan wasit tanda pertandingan berakhir, Yordania memang takluk 1-3 setelah Austria menambah dua gol.

Namun, mereka sudah mempertontonkan kepada dunia bahwa timnas Yordania bukan lagi skuad sampingan yang hanya jadi penggembira turnamen.

Dua gol terakhir Austria yang berbuah kemenangan mereka juga tidak berasal dari permainan terbuka, melainkan dari bunuh diri Yazan Alarab (76′) dan penalti Marko Aranautovic (90+12′).

Itu menunjukkan ketahanan mental dan fisik pemain-pemain Yordania yang terbukti mampu menyulitkan lawan-lawan mereka.

Di Grup J, Yordania masih akan melawan Aljazair pada 22 Juni dan juara bertahan Argentina lima hari kemudian. Apa pun hasilnya kelak, Yordania pantas keluar dari lapangan dengan kepala tegak diriingi tepuk tangan para suporter mereka.

Manusia-manusia yang sudah berjuang keras, apalagi selama bertahun-tahun, tidak layak pulang dengan wajah tertunduk. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.