Mengutip pernyataan Angkatan Laut IRGC, Senin, IRIB melaporkan bahwa serangan rudal dan drone menargetkan infrastruktur militer AS di Juffair, Bahrain, serta sistem radar pengawasan udara jarak jauh dan radar pengawasan maritim di Oman.
Tak lama setelah pengumuman Iran itu, Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyatakan sirene serangan udara kembali berbunyi di seluruh negeri dan mendesak penduduknya agar tetap tenang dan segera menuju tempat aman terdekat.
IRGC menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim adalah jika Amerika Serikat mengakhiri campur tangan militernya di jalur perairan strategis tersebut dan menghormati kedaulatan negara-negara pesisir.
IRGC juga memperingatkan bahwa aktivitas militer AS yang berkelanjutan di Selat Hormuz akan memicu “insiden yang lebih besar” yang dapat memengaruhi sektor minyak dan gas dunia.
Klaim terbaru ini muncul di tengah meningkatnya aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Sebelumnya, pada Minggu, IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Adapun pada Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dengan tujuan mengakhiri konflik militer dan mencapai perjanjian damai yang bersifat permanen.
Namun, menyusul eskalasi terbaru, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman dengan Iran tersebut telah “berakhir”.
Sumber: Anadolu (ant)






