Breaking News
Live Update Berita Terkini

Inilah 51 Saham HSC, yang Dirilis BEI

Rabu, 15 Jul 2026
Editor: Jamalul Insan
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik (tengah) menggelar konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7/2026). ANTARA
Dengarkan dgn suara Siap
4.5K pembaca
JAKARTA  (Kabarpublik.id) – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis sebanyak 51 saham yang masuk kriteria high shareholding concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Saham yang masuk kriteria High Shareholding Concentration (HSC) adalah saham yang kepemilikannya terpusat pada segelintir pihak atau kelompok tertentu. Akibatnya, jumlah saham yang beredar dan bebas diperjualbelikan di publik (dikenal sebagai free float) menjadi sangat sedikit atau terbatas.

Saham-saham kategori HSC tersebut otomatis akan dikeluarkan oleh BEI dari indeks-indeks utama, di antaranya indeks LQ45, IDX30, hingga IDX80.

“Kami akan segera mengumumkan ada 37 saham baru masuk dalam kriteria high shareholding concentration, sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham,” ujar Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, dalam keterangannya, yang dikutip di Jakarta, Rabu.

Berikut daftar lengkap 51 saham masuk kriteria HSC:

1. PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)

2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)

3. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)

4. PT Ifishdeco Tbk (IFSH)

5. PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV)

6. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)

7. PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)

8. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)

9. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)

10. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)

11. PT Mahkota Group Tbk (MGRO)

12. PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)

13. PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)

14. PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)

15. PT DCI Indonesia Tbk (DCII)

16. PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

17. PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)

18. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)

19. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)

20. PT Bank Permata Tbk (BNLI)

21. PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)

22. PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)

23. PT Soho Global Health Tbk (SOHO)

24. PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)

25. PT FAP Agri Tbk (FAPA)

26. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)

27. PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)

28. PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)

29. PT Siantar Top Tbk (STTP)

30. PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)

31. PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)

32. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)

33. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)

34. PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)

35. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)

36. PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)

37. PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)

38. PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)

39. PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)

40. PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)

41. PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)

42. PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)

43. PT MD Entertainment Tbk (FILM)

44. PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)

45. PT Golden Flower Tbk (POLU)

46. PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)

47. PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)

48. PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)

49. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)

50. PT Bank Mega Tbk (MEGA)

51. PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)

Total sebanyak 51 saham HSC tersebut merupakan hasil tambahan dari sebanyak 37 saham HSC baru, dari sebelumnya telah dirilis sebanyak 14 saham HSC.

Adanya tambahan 37 saham HSC itu setelah ditetapkannya kriteria baru yaitu Price Impact Ratio untuk menetapkan saham-saham berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun dapat masuk kategori HSC.

Jeffrey menjelaskan Price Impact Ratio yaitu memperhitungkan perubahan harga saham tersebut terhadap velocity-nya, yang mana velocity dihitung dari rata-rata volume transaksi terhadap jumlah saham yang ada di publik (free float).

Artinya, saham-saham yang aktivitas volume transaksinya rendah tentu akan menghasilkan velocity yang rendah, dan dengan velocity yang rendah namun perubahan harganya yang besar, tentu akan menghasilkan Price Impact Ratio yang tinggi.

BEI akan melakukan evaluasi secara periodik tiga bulanan (kuartalan) untuk saham-saham kriteria HSC, atau mengikuti siklus evaluasi indeks utama di BEI.

“Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya high shareholding concentration. Tentu trigger factors lain yang terkait dengan kegiatan pengawasan itu akan tetap dilakukan,” ujar Jeffrey. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.