Pembawaannya supel, membuat orang merasa akrab seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun.
“Sebenarnya saya sempat mau menyerah saja. Tidak jadi ke sini, soalnya nilai dolar AS sangat tinggi,” ujar Nurul di sela pembicaraan hangat dengan ANTARA di sudut Gedung Georgia World Congress Center di Atlanta, Amerika Serikat.
Dari sana, satu per satu kisah terbuka.
Nurul Ramadhan adalah satu dari empat sukarelawan (volunteer) Piala Dunia 2026 asal Indonesia. Di Atlanta, dia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang membantu penyelenggaraan ajang sepak bola terbesar itu bersama sekitar 3.500 relawan lain dari berbagai negara.
Di ibu kota negara bagian Georgia tersebut, Nurul ikut mengelola tugas sukarelawan, mulai dari mengurus area kerja sampai mengatur aktivitas mereka.
Dia mengaku sangat senang dengan pekerjaannya. Dia bisa bertemu dan berinteraksi dengan sukarelawan dari negara lain, melihat langsung pemain-pemain ternama, dan, yang terpenting, mengeruk pengalaman tidak ternilai dari pesta sepak bola dunia yang digelar empat tahun sekali itu.
Senyum terus terlihat di wajah Nurul saat dia bercerita soal pengalamannya.
Bagi dia, menjadi bagian dari kepanitiaan Piala Dunia 2026, bukan hal yang mudah.
Prosesnya dimulai satu tahun sebelumnya. Pada 2025, Nurul mendapatkan informasi dari seorang temannya bahwa organisasi sepak bola dunia FIFA membutuhkan sukarelawan untuk Piala Dunia 2026.
Nurul langsung tertarik, apalagi dia sudah berpengalaman menjadi volunteer di Asian Games 2018 sebagai naradamping (liaison officer/LO) tim nasional putri sepak bola Jepang yang kala itu merebut medali emas.
Dua tahun sebelumnya, dia juga menjadi sukarelawan di Piala Dunia U17 2023 Indonesia dan ditempatkan di Jakarta.
Nurul pun mencari tahu semua persyaratan yang diperlukan untuk dapat diterima sebagai sukarelawan Piala Dunia 2026. Setelah mendaftar dan mengirimkan dokumen di laman FIFA, dia kemudian menjalani tes daring dan wawancara.
“Tahapannya berlangsung dari Juni 2025 sampai April 2026. Kabar kita diterima atau tidak untuk berkontribusi di Piala Dunia disampaikan melalui email,” tutur alumni UIN Raden Fatah, Palembang, itu.
Ketika dinyatakan lulus oleh FIFA, Nurul mengaku senang bukan kepalang. Impiannya untuk hadir dan melakukan sesuatu di Piala Dunia terwujud. Apalagi, dia menyukai sepak bola sejak SMP dan menjadi penggemar klub raksasa Spanyol, Real Madrid.
Namun, antusiasmenya sempat terganggu oleh masalah lain yang sudah dia perkirakan sebelumnya. Ongkos ke Amerika Serikat begitu besar akibat melonjaknya harga dolar AS.
FIFA, kata Nurul, memang sudah menyampaikan bahwa mereka tidak memberikan gaji atau bantuan biaya bagi sukarelawan. Organisasi itu hanya memberikan bantuan berupa kartu elektronik untuk transportasi lokal, makanan selama bertugas, pakaian, serta perlengkapan lain seperti topi dan sepatu.
Agar tetap bisa berangkat ke AS, dia pun mesti bersusah payah mencari sponsor di sekitar kampung halamannya. Donasi setidaknya bisa mengurangi biaya perjalanannya. Sayang, upayanya itu tidak sesuai harapan.
Nurul mengaku sempat putus asa dan mempertimbangkan dengan serius kemungkinan untuk tidak berangkat ke AS. Namun, di saat itulah muncul sokongan kuat dari keluarganya. Mereka mengumpulkan uang agar Nurul bisa mewujudkan keinginannya.
“Orang tua, kakak-kakak saya luar biasa support-nya,” ujar Nurul, yang ikut menguras tabungannya hingga nyaris habis agar dapat bisa ke Atlanta dan tinggal di sana selama Piala Dunia 2026 berlangsung.
Dukungan besar datang pula dari tempatnya bekerja, salah satu perusahaan tambang batu bara di Tungkal Jaya. Mereka memberikan izin cuti selama dua bulan dan tetap memberikan gaji secara penuh.
Nurul pun lega mendapatkan jalan keluar dari persoalan besar yang dihadapinya. Nasib baik memang mengiringi langkah mereka yang berjuang sungguh-sungguh.
Setelah tiba di Atlanta, Nurul yang baru pertama kali ke Amerika diterima dengan sangat baik oleh sukarelawan lain. Perlakuan mereka membuat dirinya nyaman dan betah bertugas di sana.
Meski demikian, dia mengaku sempat mengalami gegar budaya, salah satunya tentang ketepatan waktu orang-orang AS yang menurutnya luar biasa.
Nurul juga merasa heran melihat para sukarelawan lain yang tidak semuanya anak muda.
“Di sini, usianya kebanyakan mungkin di atas 30-an tahun. Namun, semangat kerjanya luar biasa,” katanya.
Nurul mengatakan dia sering mempromosikan Indonesia saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan para sejawatnya. Mengenalkan Indonesia kepada mereka menjadi hobinya selama bertugas di Piala Dunia.
“Sampai ada beberapa volunteer yang berencana akan ke Indonesia tahun 2026 atau tahun depan. Itu kan sesuatu yang membahagiakan,” kata dia.
Namun, di luar pengalamannya yang menyenangkan, ada satu hal yang masih disesalinya. Dia tak bisa menyaksikan pemain kesayangannya, Cristiano Ronaldo atau CR7, karena Portugal tersingkir usai kalah 0-1 dari Spanyol di perempat final.
Andai Portugal melaju ke semifinal dan berlaga di Atlanta, Nurul mungkin dapat melihat Ronaldo secara langsung.
Nurul Ramadhan tak pernah menyesali pilihannya untuk menjadi sukarelawan Piala Dunia 2026, Piala Dunia pertama dalam sejarah yang diikuti 48 negara dan berlangsung serentak di tiga negara.
“Banyak teman yang bilang, ‘Ngapain ke Amerika Serikat untuk jadi volunteer? Uangnya bisa dipakai untuk menikah’. Nah, saya bilang, ‘Menikah bisa kapan saja. Tapi jadi volunteer di event sebesar ini, kapan lagi? Mungkin saja tidak ada kesempatan lagi,” ujar Nurul.
Menurut FIFA, kurang lebih 65.000 volunteer berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026. Jumlah itu menjadi yang terbesar sejauh ini untuk semua turnamen FIFA, kata Presiden FIFA Gianni Infantino, yang menyebut sukarelawan sebagai “jantung, jiwa, dan senyum” turnamen FIFA.
“Mereka bisa menunjukkan kebanggaan akan wilayah asal mereka, melihat langsung turnamen dari balik layar, serta menciptakan kenangan dan persahabatan yang akan bertahan selamanya, sambil turut menyukseskan sebuah ajang bersejarah,” kata pria Italia itu. (ant)





