Oleh : Nurhadi Taha (Direktur Eksekutif Taha Institut)
DUA hari ini publik , media sosial dan kalangan masyarakat lainnya, semuanya tertuju pada baju putih. Baju putih nampaknya jadi cibiran, guyonan bahkan kebanggaan. Kebangaan bagi mereka tokoh, akademisi, dan partai politik , daerah , tanah kelahiran, kolega yang dipangil dan di perkenankan ke publik untuk memperkuat Kabinet Jokowi – KH. Maruf Amin,Presiden dan Wakil Presiden yang baru saja dilantik .
Tak heran bila beberapa orang yang berpakaian putih yang datang ke Istana Negara mereka adalah sosok yang akan dilantik menjadi sosok menteri maupun lembaga Negara lainnya.
Jokowi Presiden yang pertama kali mempopulerkan baju putih sebagai sebuah simbol pakaian dari kalangan pejabat Negara, bahkan baju putih inipun dijadikan seragam bagi para Aparatur Sipil Negara di seluruh Nusantara. Begitupun pada periode Kedua, tak heran bila para menteri dan kabinet yang diperkenankan di undang ke Istana pun mereka berbaju putih .
Baju putih kini menjadi populis di seluruh rakyat, kini mereka bangga dengan baju putih berpakaian, berseragam putih, pakaian menjadi simbol bagi rakyat, kalau para menteri dan Presiden dan Wakil presiden berpakaian putih maka tentu rakyat bangga dengan pakaian ini.
Dalam presfektif Psikologis, Jokowi telah memberi memory bahwa Negara bersama rakyat, simbol baju putih adalah gambaran pakaian seluruh golongan dan tentu dimiliki semua kalangan sehingga simbol baju putih memiliki makna secara simbolik sebagai kebangaan rakyat.
Saya sebagai rakyat Gorontalo pun bangga ada beberapa tokoh Gorontalo yang berkemeja putih. Mereka adalah Suharso Monoarfa, Zainudin Amali,. Kedua tokoh ini menambah kebangaan rakyat Gorontalo untuk berkemeja putih.
Dalam warna baju adat Gorontalo, putih melambangkan sebuah kesucian , ketulusan dan keikhlasan dan juga kemurnian hati. Semoga tokoh tokoh Gorontalo yang berbaju putih mereka akan dapat melaksanakan tugas kenegaraan seperti makna warna baju adat Gorontalo.#[KP]






