News Update
Live Update Berita Terkini

Titik Api di Sumbar Turun Lebih dari 50 Persen pada Agustus 2026

Senin, 24 Agu 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Tasliatul Fuaddi. ANTARA/FathulAbdi
Dengarkan dgn suara Siap
7.1K pembaca

PADANG (kabarpublik.id) – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah titik api di wilayah tersebut turun lebih dari 50 persen pada periode 14–23 Agustus 2026.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Tasliatul Fuaddi mengatakan penurunan tersebut menjadi perkembangan positif dalam upaya mengendalikan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Jumlah titik api di Sumbar mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan sebelumnya. Kami berharap ini bisa dipertahankan,” kata Tasliatul di Padang, Senin (24/8).

Berdasarkan data Sipongi Gakkum Kehutanan, pada periode 1–13 Agustus tercatat 232 titik api di Sumbar.

Titik api tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Pesisir Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik api terbanyak, disusul Dharmasraya, Pasaman, Pasaman Barat, Sijunjung, dan Lima Puluh Kota.

Sementara pada periode 14–23 Agustus, jumlah titik api turun menjadi 103 titik atau berkurang sekitar 55,6 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Tasliatul meminta pemerintah daerah dan masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah kenaikan kembali jumlah titik api.

“Perlu upaya kita bersama dalam meningkatkan kewaspadaan agar jumlah titik api di Sumbar tidak naik lagi,” ujarnya.

Warga Diminta Tidak Membakar Lahan

Tasliatul mengatakan pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara dibakar. Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun jerami setelah panen.

Ia meminta masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan, seperti berburu atau berladang, tidak melakukan pembakaran dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.

“Bagi warga yang beraktivitas di hutan seperti berburu atau berladang, jangan lakukan pembakaran atau membuang puntung rokok sembarangan,” katanya.

Menurut Tasliatul, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena dampak musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus–September 2026.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi secara bersama-sama.

No More Posts Available.

No more pages to load.