Seminar ADP di UIN Walisongo Soroti Tantangan Keberagamaan di Era Digital

Sabtu, 25 Apr 2026
Asosiasi Dosen Pergerakan Indonesia (ADP) meluncurkan dua buku strategis bertajuk “Islam dan Transformasi Sosial” serta “Islam Cinta, Kesetaraan dan Ekoteologi” dalam rangkaian Seminar Nasional di Gedung Rektorat Lantai 4 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Sabtu (25/4/26). (Ist)
Dengarkan dgn suara Siap
10.2K pembaca

SEMARANG (kabarpublik.id) – Asosiasi Dosen Pergerakan Indonesia (ADP) bekerja sama dengan UIN Walisongo menggelar Seminar Nasional bertema “Mencandera Masa Depan Kehidupan Beragama di Era Transformasi Digital” di Gedung Rektorat Kampus 3, Sabtu (25/4/26).

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda nasional ADP yang berlangsung pada 24–26 April 2026. Seminar tersebut menjadi forum strategis untuk membahas dinamika keberagamaan yang kian kompleks akibat perkembangan teknologi digital.

Gambar konten
Sumber: Kabarpublik.id

Ketua Umum ADP, Abdurrahman Mas’ud, menegaskan bahwa transformasi digital telah mengubah lanskap kehidupan beragama secara signifikan. Menurutnya, ruang digital membuka akses luas terhadap wacana keagamaan, tetapi juga rentan terhadap penyederhanaan dan distorsi.

“Transformasi digital bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi juga perubahan cara berpikir dan berinteraksi. Otoritas keagamaan menjadi semakin terbuka, namun juga rawan disalahartikan,” ujarnya.

Ia juga menyebut Semarang memiliki peran strategis dalam agenda organisasi, termasuk peluncuran buku dan persiapan musyawarah nasional ADP yang direncanakan digelar setelah Muktamar NU.

Sementara itu, Rektor UIN Walisongo, Musahadi, dalam pidato kunci menekankan pentingnya memahami transformasi digital secara komprehensif. Ia menjelaskan, perubahan ini ditopang oleh tiga pilar utama, yakni internet of things, big data, dan kecerdasan buatan.

Musahadi juga menyoroti fenomena “fikih prasmanan”, yakni praktik keagamaan di ruang digital yang tidak selalu berbasis otoritas keilmuan.

“Di dunia digital, siapa pun bisa berbicara tentang agama tanpa dasar keilmuan yang jelas. Ini berbeda dengan tradisi Islam yang memiliki sanad keilmuan,” jelasnya.

Menurutnya, ruang digital kini menjadi arena utama pertarungan wacana keagamaan. Karena itu, akademisi dan organisasi seperti ADP perlu lebih aktif menghadirkan narasi keagamaan yang moderat dan menyejukkan.

Seminar ini menghadirkan sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Jakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hingga Universitas Kristen Satya Wacana.

Dalam sesi diskusi, para narasumber membahas isu penting seperti fragmentasi otoritas keagamaan, rendahnya literasi digital, serta urgensi rekonstruksi pemikiran Islam yang berkeadilan, setara, dan berkelanjutan.

Kegiatan berlangsung dinamis dan menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis untuk memperkuat kehidupan beragama di Indonesia. ADP menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kontribusi intelektual yang relevan dengan tantangan zaman.

No More Posts Available.

No more pages to load.