Sambut Nataru, Dinas Ketahanan Pangan Ternate Intens Pantau Harga Pangan

Jumat, 1 Des 2023
Kepala Dinas Ketpang Kota Ternate, Muhamad Hartono, S.Pd, M.Eng. [Istimewa].
Dengarkan dgn suara Siap
4.4K pembaca

MALUKU UTARA [kabarpublik.id] – Dinas Ketahanan Pangan Kota Ternate, melalui Tim Terpadu Pemantauan Stok Pangan Bidang Kerawanan Pangan dan Bidang Distribusi, saat ini intens memantau ketersediaan pasokan dan harga pangan.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan pangan dan harga pangan di Kota Ternate dalam rangka menyambut Natal dan Tahun Baru atau Nataru tahun 2023.

Gambar konten
Sumber: Kabarpublik.id

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Ternate, Muhamad Hartono mengatakan, upaya ini adalah merupakan strategi Dinas Ketahanan Pangan, sehingga masyarakat dipastikan mendapatkan pangan murah dan terjangkau dalam rangka menghadapi Nataru.

Disebutkan, dari hasil pantauan saat ini harga komoditas di Kota Ternate sedikit mengalami lonjakan, seperti beras spesial, gula pasir, dan cabai rawit. Dikatakan, untuk kenaikan beras sendiri karena produksi gabah kering panen (GKP) menurun, sehingga mengakibatkan harga beras mengalami lonjakan harga.

“Maka dari itu, pemerintah mengimpor cadangan beras pemerintah (CBP) dalam rangka mengintervensi inflasi dengan harapan adanya beras CBP di mitra-mitra toko tani bisa dimanfaatkan dalam rangka mengantisipasi kenaikan harga beras yang tinggi,” ucapnya di ruang kerjanya, Jumat, 1 Desember 2023.

Mantan Kepala Bidang Pengawasan Konsumen Disperindag Provinsi Maluku Utara itu menjelaskan, beras Stabilisasi Pasokan Harga Pasar atau SPHP dari Bulog ini lebih murah dan terjangkau dari beras yang ada saat ini dan kualitasnya tidak kalah dengan beras premium yang beredar di pasaran, seperti di pasar Hygenis Gamalama dan Bastiong. Selisih harganya dengan beras Bola Mas untuk kemasan 25 kg berkisar sampai 75 ribu.

“Oleh karena itu, kami berharap dengan adanya kenaikan beras ini masyarakat bisa beralih ke beras SPHP produk dari Perum Bulog. Untuk skema yang kami galakkan dan sedang di lakukan adalah mengajak masyarakat beralih mengonsumsi pangan lokal, dan beras SPHP yang kualitasnya sama dengan beras yang sehari hari kita makan sebab dipasaran selisih harganya sangat jauh,” sebutnya.

Selain itu, untuk cabai rawit dan cabai keriting sendiri di sentra-sentra produksi jumlah produksinya mengalami penurunan, sehingga otomatis harga cabai mengalami kenaikan. Langkah yang dilakukan adalah mengambil stok cabe yang di daerah yang surplus dan menggeser ke Ternate.

No More Posts Available.

No more pages to load.