Breaking News
Live Update Berita Terkini

Prof. Dr. H. Mahmud Yunus: Pendidik dan Pejuang Pendidikan Indonesia yang Menginspirasi

Minggu, 8 Okt 2023
Editor:
Dengarkan dgn suara Siap
67.8K pembaca

Keterangan Gambar: Dr. H. Muhammad Yusuf Salam, S.Ag., MA

Oleh Dr. H. Muhammad Yusuf Salam, S.Ag., MA*

SUMBAR [kabarpublik.id] – Profesor Doktor Haji Mahmud Yunus (ejaan lama: Mahmoed Joenoes, 10 Februari 1899 – 16 Januari 1982) merupakan seorang cendekiawan, ahli Pendidikan, dan ahli tafsir Al-Qur’an yang memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Beliau dilahirkan pada tanggal 10 Februari 1899 dan meninggal pada tanggal 16 Januari 1982.

Mahmud Yunus memiliki dedikasi luar biasa dalam memajukan pendidikan agama dan bahasa Arab di Indonesia. Salah satu kontribusinya yang sangat signifikan adalah inisiasi dan perjuangannya agar mata pelajaran pendidikan agama diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional di sekolah-sekolah dasar dan menengah serta lembaga pendidikan lainnya. Melalui peranannya di Departemen Agama, beliau dengan gigih memperjuangkan agar pendidikan agama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan di Indonesia.

Alhamdulillah, usulannya diterima. Dalam pengajaran bahasa Arab, Mahmud Yunus sebagai tokoh utama mengembangkan teori “All In One System” dan “Metode Langsung” yang diterapkan pesantren moder tahun 30-an dan kurikulum bahasa Arab Madrasah di bawah Kementerian Agama Indonesia pada tahun 1970-an. Mahmud Yunus juga di antara empat tokoh pejuang pendidikan Islam yang gigih dan berjasa merintis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) tahun 1960. Mereka itu adalah Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, Prof. T.M. Hasbi Ash-Ashiddieqy, Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya, dan Prof. Dr. H. Bustami A. Gani, di samping tokoh lainnya.

Selama hidupnya, Mahmud Yunus menghasilkan lebih dari 75 judul buku, termasuk Tafsir Qur’an Karim, fiqh dan Kamus Arab–Indonesia. Buku-bukunya ini masih digunakan sebagai bahan ajar di madrasah dan pesantren di seluruh Indonesia dan Malaysia. Prestasi luar biasa Mahmud Yunus dalam dunia pendidikan Islam  diakui insan akademik dengan pemberian gelar doktor kehormatan dalam bidang tarbiyah dari IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Gelar ini sebagai penghargaan atas kontribusi luar biasanya dalam dunia pendidikan.

Nama Mahmud Yunus juga diabadikan dalam beberapa lembaga pendidikan, seperti UIN Mahmud Yunus  Batusangkar dan jalan yang menuju kampus UIN Imam Bonjol, Padang. Penghargaan untuk Mahmud Yunus sebagai penghormatan atas peran besar beliau dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Mahmud Yunus mulai berkiprah di dunia pendidikan sebagai guru  sejak remaja di surau dan Madrasah School Sungayang yang dipimpin oleh Muhammad Thaib Umar, tempat beliau sendiri menimba ilmu. Pada tahun 1919, beliau bergabung dengan Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), yang kemudian menjadi cikal bakal beberapa sekolah Islam dan perguruan tinggi Islam pertama di Indonesia.

Setelah menyelesaikan studi di Universitas Al-Azhar dan Universitas Darul Ulum Kairo, Mesir, antara tahun 1924 dan 1930, Mahmud Yunus kembali ke Indonesia dan terus berkontribusi dalam dunia pendidikan. Beliau memperkenalkan perjenjangan madrasah yang menjadi dasar pendidikan agama Islam di Indonesia saat ini. Pada tahun 1932, Mahmud Yunus pindah mengajar di Padang, membuka Normal Islam School (Kulliyyatul Mu’allimin), dan memimpin Sekolah Tinggi Islam (STI) Padang.

Normal Islam School (Kulliyyatul Mu’allimin) yang dipimpin oleh Mahmud Yunus adalah sekolah yang diperuntukkan bagi calon guru dengan menerapkan sistem modern, seperti metode langsung dalam pembelajaran bahasa Arab dan Inggris serta fasilitas laboratorium Fisika dan Kimia pertama di madrasah. Di antara siswa-siswanya adalah Profesor A. Hasyimy, seorang sastrawan yang pernah menjabat sebagai Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh dan Rektor IAIN Ar-Raniri dan K.H.Imam Zarkasy, Pendiri Pesantren Modern Gontor Darusalam.  Mahmud Yunus bagi K.H. Imam Zarkasy bukan aja sebagai guru, tetapi inspirator dalam memberi nama madrasahnya sama dengan tempat beliau belajar, yaitu Kulliyyatul Mu’allimin. Imam Zarkasi juga mengadopsi Pemikiran Mahmud Yunus tentang kurikulum dan metode pengajaran bahasa Arab dan Inggris dengan metode langsung (Direct Method) di Pondok Pesantrennya. Ide-ide ini berlanjut hingga saat ini di Pesantren Gontor dan cabang-cabangnya di Indonesia.

Sejak pendudukan Jepang, Mahmud Yunus ikut memperjuangkan dan mempertahankan Kemerdekaan RI dengan perannya menjadi anggota Chu Sangi Kai tahun 1943. Di masa ini Mahmud Yunus bekerja dalam pemerintahan dan fokus pada masalah pendidikan Islam, mendorong masuknya mata pelajaran pendidikan agama di sekolah negeri di Minangkabau. Pada waktu menjadi anggota Chu Sangi Kai inilah Mahmud Yunus mengesahakan masuknya  pendidikan agama menjadi mata pelajaran wajib di sekolah sekolah pemerintah di seluruh Indonesia. Usulannya berhasil disetujui pada tahun 1947, dan mata pelajaran agama diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional pada tanggal 20 Januari 1951 berkat usahanya sebagai pegawai Departemen Agama.

Selama periode tahun 1957 hingga 1960, Mahmud Yunus menjabat sebagai rektor pertama Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA), yang kemudian menjadi cikal bakal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selanjutnya, beliau menjadi rektor pertama IAIN Imam Bonjol Padang dari tahun 1967 sampai 1971, ketika beliau akhirnya pensiun sebagai pegawai Departemen Agama.

Profesor Doktor Haji Mahmud Yunus meninggal dunia pada usia 82 tahun, tepatnya pada tanggal 16 Januari 1982. Warisannya dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi penerus dalam upaya memajukan pendidikan agama di Indonesia.

(*)Dosen UIN Mahmud Yunus Batusangkar

No More Posts Available.

No more pages to load.