“Penyakit ini lebih berbahaya dibanding penyakit mulut dan kuku (PMK) karena dapat menyebabkan kematian mendadak jika tidak segera ditangani,” kata Ketua Kelompok Ternak BUMDes Cikahuripan, Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Karma, di Cikarang, Jumat.
Ia mengatakan peternak maupun pedagang hewan kurban jenis sapi harus sigap mengenali gejala awal penyakit disebabkan virus yang dibawa serangga penghisap darah tersebut, sebab keterlambatan penanganan bisa berujung fatal.
“Kalau PMK sudah biasa, ini sapi sesak nafas, ngos-ngosan, panas kalau kena BEF. Itu 1×24 jam kalau nggak buru-buru ditangani bisa mati,” ujarnya.
Di kandang usaha milik BUMDes setempat yang dikelola bersama rekan pengurus lain, dua ekor sapi sempat terjangkit penyakit ini. Beruntung keduanya berhasil diselamatkan setelah mendapatkan perawatan intensif.
Dia sejak temuan itu berupaya untuk memperketat pola pemeliharaan, terutama pemberian pakan dan suplemen guna meningkatkan daya tahan tubuh. Salah satunya lewat kombinasi pakan berupa ampas tahu dan konsentrat dengan serat kasar seperti jerami serta rumput.
Selain itu, vitamin diberikan secara berkala setiap tiga bulan. Kualitas pakan berperan besar dalam menjaga imunitas sapi, terutama di tengah ancaman penyakit musiman.
“Pemberian obat cacing secara rutin juga penting sebab makan banyak tapi kalau obat cacing kagak dikasih percuma, dimakan cacing itu abis. Nggak gemuk-gemuk, cacingan. Jadi harus disertai pengendalian parasit,” ucap dia.
Ketua Tim Pengendalian Penyakit Hewan dan Penjamin Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Dewi Suryani mengatakan pihaknya telah menerjunkan 32 personel pengawasan kesehatan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
“Hingga kini belum ada laporan kematian sapi atau hewan kurban akibat serangan BEF. Petugas sudah disebar di 23 kecamatan untuk melakukan pemeriksaan ke lapak-lapak penjualan, kandang peternak hingga rumah potong hewan,” katanya.
Pihaknya mengingatkan pedagang untuk memisahkan atau mengisolasi hewan kurban yang ditemukan sakit dari hewan sehat serta melaporkannya kepada petugas kesehatan hewan dan tidak menjualnya sebagai hewan kurban.
Dewi turut menekankan penting peran pedagang dalam menjaga kesehatan hewan kurban. Mereka diwajibkan menyediakan fasilitas memadai seperti peneduh untuk mencegah stres akibat cuaca panas, pakan dan air minum yang cukup serta berkualitas.
Pedagang maupun peternak juga diminta menjaga kebersihan lingkungan kandang agar tidak menjadi sarang nyamuk serta menggunakan fogging atau insektisida untuk mengurangi populasi nyamuk maupun lalat.
“BEF bersifat endemik di hampir seluruh wilayah Indonesia. Penyakit ini tidak menular secara kontak langsung antarhewan, melainkan melalui perantara nyamuk atau lalat penggigit,” katanya.
Menurut dia penyakit demam tiga hari pada sapi kerap dijumpai di beberapa wilayah Indonesia, terutama saat memasuki musim penghujan dan pancaroba dengan indikasi meningkatnya populasi serangga pembawa virus.
“Masyarakat juga diimbau membeli hewan di lapak yang telah diperiksa oleh petugas kesehatan hewan, memperhatikan kebersihan kandang, serta memastikan hewan kurban memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH),” kata dia. (ant)





