“Pesantren yang ramah anak lahir dari lingkungan yang aman, hangat, dan penuh keteladanan. Sebagai fasilitator, kita harus memiliki kapabilitas yang baik untuk menjadi teladan bagi tenaga kependidikan di lingkungan pesantren,” ujar Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin di Jakarta, Selasa.
Dalam langkah penyiapan itu, Kementerian Agama menggelar kegiatan peningkatan kapasitas fasilitator pesantren ramah anak pada pesantren di Jakarta.
Ia mengatakan kegiatan tersebut akan terus dilakukan secara berkala untuk memastikan pesantren menjadi ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengejar keunggulan intelektual, tetapi juga menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.
Kemenag ingin memastikan setiap santri mendapatkan perlindungan penuh selama menuntut ilmu.
“Semoga ikhtiar ini memperkuat komitmen bersama dalam menghadirkan ruang pendidikan yang melindungi, mendidik, dan menumbuhkan generasi dengan baik,” ujarnya.
Kementerian Agama terus memperluas praktik baik ini melalui penguatan regulasi, peningkatan kapasitas pengasuh pesantren, serta pengembangan panduan nasional pesantren ramah anak.
Dengan demikian, pesantren diharapkan menjadi ruang tumbuh yang aman, sehat, dan bermartabat bagi seluruh santri Indonesia.
Kamaruddin berharap dengan penguatan kapasitas ini, pesantren menjadi “rumah kedua” bagi santri. Sebuah tempat di mana kasih sayang menjadi fondasi proses belajar mengajar.
“Pesantren harus menjadi ‘rumah kedua’ yang penuh kasih sayang, tempat tumbuhnya generasi yang cerdas secara spiritual, intelektual, dan emosional,” kata dia.
Melalui program Pesantren Ramah Anak, Kementerian Agama menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban harus berjalan beriringan dengan penguasaan kitab kuning dan ilmu pengetahuan, demi masa depan santri yang sehat dan bermartabat. (ant)





