JAKARTA (kabarpublik.id) – Dokter spesialis gizi klinik mengingatkan jamaah haji Indonesia untuk mewaspadai risiko dehidrasi dan heatstroke saat menjalankan ibadah di tengah cuaca panas ekstrem di Kota Suci Makkah dan Madinah, Arab Saudi.
Dokter spesialis gizi klinik, dr. A. Yasmin Syauki, M.Sc., Sp.GK(K), MHPE, mengatakan tanda awal dehidrasi dapat dikenali dari kondisi tubuh yang mulai lemas hingga perubahan warna urine menjadi lebih pekat.
Menurut dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin itu, warna urine dapat menjadi indikator penting untuk mengetahui kondisi hidrasi tubuh.
“Ketika warna urine sudah pekat dan tidak lagi kuning jernih, itu bisa menjadi tanda tubuh mengalami dehidrasi,” ujar Yasmin, dikutip dari ANTARA, Selasa (12/5).
Sebelumnya, dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK, juga menyebut dehidrasi dapat ditandai dengan tubuh lemas, sakit kepala, mual, pandangan buram, hingga rasa limbung.
Jika mengalami gejala tersebut, jamaah haji disarankan segera meningkatkan asupan cairan untuk mencegah kondisi semakin parah.
“Segera tambah asupan cairan agar respons dehidrasi tidak berlanjut,” kata Yasmin.
Selain dehidrasi, jamaah juga berisiko mengalami heatstroke atau sengatan panas akibat suhu ekstrem selama beraktivitas di luar ruangan.
Yasmin menjelaskan heatstroke terjadi ketika tubuh tidak mampu lagi mengendalikan suhu panas, yang ditandai dengan sesak napas, pusing, tubuh lemas, hingga kondisi yang memburuk secara tiba-tiba.
Untuk mencegah dampak buruk paparan panas, jamaah dianjurkan menggunakan pelindung kepala saat berada di luar ruangan serta menjaga suhu tubuh tetap dingin.
Saat berada di tenda Mina yang bersuhu panas, jamaah dapat menggunakan kain atau kanebo basah di kepala untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
“Kanebo yang dibasahi air dapat membantu menjaga suhu kepala tetap dingin,” ujarnya.






