Breaking News
Live Update Berita Terkini

Guru Besar UIN Jakarta: Pancasila Tetap Relevan Hadapi Tantangan Global dan Era Digital

Minggu, 31 Mei 2026
Editor: Eky
Foto: Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie. (Ist)
Dengarkan dgn suara Siap
5.3K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menilai peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 memiliki makna strategis bagi masa depan Indonesia sekaligus kontribusi bangsa dalam membangun perdamaian dunia.

Menurut Tholabi, tema nasional “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan nilai hidup yang tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari konflik kemanusiaan, krisis moral, disrupsi teknologi, hingga perubahan iklim dan polarisasi sosial.

Ia menilai Indonesia telah menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dapat dikelola menjadi kekuatan persatuan. Dengan ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan tradisi keagamaan, Indonesia menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi fondasi kerja sama, solidaritas, dan kemajuan bersama.

“Pancasila menjadi etika publik sekaligus fondasi moral dalam membangun kehidupan yang damai, adil, dan bermartabat,” kata Tholabi di Jakarta.

Menurutnya, nilai-nilai Pancasila memiliki relevansi universal di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, konflik berkepanjangan, intoleransi, dan fragmentasi sosial yang diperparah oleh arus informasi digital yang tidak terkendali.

Prinsip musyawarah, penghormatan terhadap kemanusiaan, dan keadilan sosial dinilai dapat menjadi kontribusi Indonesia dalam mendorong terciptanya tatanan dunia yang lebih damai dan berkeadaban.

Karena itu, Tholabi menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak seharusnya hanya menjadi agenda seremonial tahunan. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen kebangsaan, persatuan, dan tanggung jawab global.

Ia juga menyoroti perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta media sosial yang bergerak sangat cepat. Menurutnya, kemajuan teknologi harus dibarengi dengan landasan etika agar tetap berpihak pada nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap martabat manusia.

“Tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya menguasai teknologi, tetapi juga membangun kebijaksanaan, etika dialog, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan,” ujarnya.

Tholabi menambahkan, persatuan Indonesia di era digital juga berarti menciptakan ruang publik yang sehat, menjunjung etika komunikasi, serta melawan penyebaran hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, dan berbagai bentuk polarisasi yang dapat melemahkan kohesi sosial bangsa.

Selain itu, ia menilai Pancasila memiliki dimensi ekologis yang semakin penting di tengah ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Nilai gotong royong dan keadilan sosial dapat menjadi dasar dalam membangun tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan dan masa depan generasi mendatang.

Dalam konteks internasional, Tholabi menilai Indonesia memiliki posisi strategis sebagai kekuatan moral dunia atau moral middle power yang dapat berperan aktif dalam diplomasi perdamaian. Nilai musyawarah, penghormatan terhadap keberagaman, dan semangat kemanusiaan universal menjadi modal penting bagi Indonesia dalam membangun dialog serta memperkuat solidaritas antarbangsa.

Sebagai anggota Dewan Pendidikan Tinggi, Tholabi juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila. Kampus, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menanamkan budaya dialog, toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, dan etika kebangsaan kepada generasi muda.

Ia menambahkan bahwa integrasi antara ilmu pengetahuan, nilai agama, kemanusiaan, dan kebangsaan harus terus diperkuat agar pendidikan tinggi mampu melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Tholabi mengapresiasi peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 yang mengedepankan semangat gotong royong, partisipasi masyarakat, dan penghormatan terhadap kebinekaan. Menurutnya, nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial harus terus hadir dalam kebijakan publik, dunia pendidikan, kehidupan sosial, serta tata kelola pemerintahan.

“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia memiliki tanggung jawab sejarah untuk terus menghadirkan nilai perdamaian, persaudaraan, dan keadilan melalui pengamalan Pancasila,” kata Tholabi.

No More Posts Available.

No more pages to load.