Frugal Living vs Flexing, “perang” Gaya Hidup di Media Sosial

Sabtu, 9 Mei 2026
Ilustrasi - Frugal living. ANTARA
Dengarkan dgn suara Siap
4.6K pembaca

JAKARTA (Kabarpublik.id) – Antropolog Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menilai media sosial memiliki peran ganda dalam membentuk pola konsumsi generasi muda, yakni mendorong gaya hidup konsumtif sekaligus menjadi ruang penyebaran tren frugal living (hidup hemat) dan literasi finansial.

“Media sosial itu memang instrumen yang paling efektif untuk mendorong pola hidup konsumtif,” kata Semiarto kepada ANTARA, Jumat.

Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia itu menyampaikan media sosial saat ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan pencapaian maupun gaya hidup di hadapan publik.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai economy of appearance atau dorongan untuk mempertunjukkan pencapaian dan identitas diri melalui media sosial.

“Dunia kita sekarang ini memang harus ada sesuatu yang kita tunjukkan,” ujarnya.

Semiarto menilai pencapaian yang ditampilkan di media sosial umumnya berkaitan dengan aspek ekonomi maupun gaya hidup, mulai dari nongkrong di tempat tertentu hingga membeli barang terbaru.

Akibatnya, standar sosial di masyarakat ikut meningkat karena orang terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

“Media sosial itu kemudian mendorong kita membandingkan diri kita dengan apa yang dicapai orang lain,” katanya.

Ia mengatakan kondisi tersebut mendorong keinginan untuk mengikuti tren secara cepat, termasuk dalam konsumsi barang maupun gaya hidup.

“Saya sudah punya HP model baru nih, kalau bisa saat itu juga saya juga punya,” ujar Semiarto.

Meski demikian, menurut dia, media sosial juga dapat menjadi ruang penyebaran narasi tandingan yang mendorong gaya hidup lebih hemat dan sadar finansial.

Konten mengenai budgeting, frugal living, hingga tantangan seperti no buy challenge dinilai mulai berkembang di berbagai platform digital.

“Media sosial juga bisa menjadi kontra narasi,” katanya.

Semiarto menilai influencer memiliki peran besar dalam membentuk perilaku konsumsi masyarakat, sehingga diperlukan lebih banyak figur yang mendorong literasi finansial dibanding sekadar konsumsi berlebihan.

“Kita perlu influencer yang bukan mendorong konsumsi tetapi mempromosikan financial literacy,” ujarnya. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.