BEKASI (kabarpublik.id) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi bergerak cepat merespons laporan warga terkait dugaan pencemaran lingkungan di Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu. Pengaduan muncul setelah warga mengeluhkan bau tidak sedap dari saluran drainase serta air sumur yang menimbulkan gatal-gatal, yang diduga berasal dari aktivitas Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menjelaskan bahwa hasil pengecekan awal menemukan air limbah domestik dari proses pencucian peralatan masak dan makan sebelumnya ditampung dalam biotank kedap air. Limbah ini biasanya disedot secara berkala oleh jasa penyedotan.
Namun, pemeriksaan lanjutan menemukan fakta berbeda di lapangan. Berdasarkan verifikasi DLH bersama UPTD Laboratorium Lingkungan Hidup (LAB LH), limbah domestik dari MBG Bojongmenteng 2 ternyata mengalir ke dua jalur berbeda. Satu jalur masuk ke bak penampungan dengan penyaringan ijuk, namun jalur lainnya langsung mengalir ke saluran kota tanpa proses filtrasi.
Pengelola MBG mengaku tidak mengetahui keberadaan pipa tersebut karena tertutup konstruksi saluran U-Ditch.
Setelah temuan itu, DLH langsung melakukan penanganan darurat berupa pembongkaran saluran bermasalah, penutupan permanen menggunakan dop penutup pipa, pengecoran dengan pasir, batu, dan semen
Dengan tindakan ini, aliran limbah domestik dipastikan tidak lagi masuk langsung ke saluran kota.
Sebagai bagian dari investigasi, tim LAB LH mengambil sampel di beberapa titik, termasuk saluran pembuangan limbah dan sumber air tanah warga. Uji cepat (in situ) menunjukkan nilai pH 5,53 dan DHL 1174, yang akan digunakan sebagai dasar penilaian tingkat pencemaran serta langkah penanganan berikutnya.
DLH Kota Bekasi menegaskan akan menindaklanjuti setiap pengaduan masyarakat secara transparan, akuntabel, dan sesuai ketentuan lingkungan hidup. Kolaborasi lintas sektor juga akan terus diperkuat untuk menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan warga.





