Petani Milenial Blora Raup Ratusan Juta dari Budidaya Melon Pertiwi

Rabu, 13 Mei 2026
Buah melon jenis Pertiwi hasil budidaya petani milenial di Kabupaten Blora memiliki ukuran besar dengan kualitas kulit dan tingkat kematangan yang siap dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk Jakarta dan Semarang. (ANTARA)
Dengarkan dgn suara Siap
1.7K pembaca
BLORA  (Kabarpublik.id) – Seorang petani milenial asal Dukuh Tambakampel, Desa Tambahrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, berhasil membudidayakan melon pertiwi sekaligus mematahkan anggapan bertani identik dengan pekerjaan berat dan kurang menjanjikan.

Teddy Purnomo (28), pemuda yang menekuni budi daya melon di Blora, Rabu, mengakui bersama keluarganya mulai bertani sejak 2012. Kemudian tahun 2019 mencoba mengembangkan melon jenis pertiwi dan amanda di lahan seluas sekitar satu bau atau hampir satu hektare.

“Kalau tanamannya bagus, hasil panen bisa mencapai 40 ton,” ujarnya.

Menurut dia hasil panen sangat bergantung pada perawatan tanaman. Mulai dari pemupukan hingga pengendalian hama. Salah satu pupuk yang digunakan ialah pupuk mutiara untuk menunjang pertumbuhan buah.

Dalam satu pohon, lanjut Teddy, biasanya dapat menghasilkan dua buah melon dengan berat rata-rata sekitar dua kilogram per buah.

“Kalau muncul tiga buah, ukurannya cenderung lebih kecil, sekitar 1,5 kilogram sampai 1,6 kilogram,” ujarnya.

Teddy menjelaskan harga jual melon saat ini berkisar Rp7 ribu per kilogram. Dengan asumsi panen mencapai 40 ton, omzet yang diperoleh dapat menembus sekitar Rp280 juta dalam satu musim tanam.

Meski demikian, dia menyebut keuntungan bersih yang diterima petani tetap dipengaruhi biaya produksi dan kondisi pasar.

“Kalau sekarang harga turun, jadi tergantung nota dan penebas,” ujarnya.

Hasil panen melon tersebut umumnya dijual secara tebasan kepada pengepul, kemudian dipasarkan ke sejumlah daerah seperti Jakarta, Pasar Induk Kramat Jati, Semarang, dan wilayah lainnya.

Teddy mengaku memilih bertani karena menilai pekerjaan tersebut lebih fleksibel dan memiliki prospek menjanjikan jika ditekuni secara serius. Sehingga generasi muda juga memiliki peluang besar untuk terjun ke sektor pertanian modern, terutama jika dibarengi inovasi dan ketelatenan dalam merawat tanaman.

Teddy mengatakan panen melon dilakukan setiap 60 hari sekali atau sekitar tiga kali dalam setahun. Sehingga sejak 2025 menjadi salah satu pemasok buah di wilayah Blora.

Selain mengelola lahan di Desa Tambahrejo, Teddy juga menyewa lahan di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Blora, yakni di Dukuh Nglego, Kecamatan Jepon seluas satu hektare, Desa Sendangsari, Kecamatan Tunjungan seluas setengah hektare, serta Desa Mbrebak, Kecamatan Ngawen seluas setengah hektare. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.