Mewaspadai Ancaman Logam Berat di balik Pangan yang Tampak Sehat

Sabtu, 16 Mei 2026
ILustrasi : Petani menyemprot cairan pestisida ke tanaman tomat di Singaraja, Indramayu, Jawa Barat, Senin (23/1/2017). Petani setempat mengaku terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk merawat tanaman tomat yang terserang hama ulat meski harga tomat masih rendah. (ANTARA FOTO)
Dengarkan dgn suara Siap
10.2K pembaca
JAKARTA (Kabarpublik.id) – Sayuran hijau tampak segar di rak penjualan. Cabai merah mengilap, tomat terlihat mulus tanpa bercak penyakit, sementara bawang merah tersusun rapi dengan kulit merahnya yang kering. Pemandangan seperti ini membuat kita percaya bahwa pangan yang hadir di meja makan sehari-hari berada dalam kondisi sehat dan aman.

Namun, di balik penampilan yang tampak sehat itu, para ilmuwan tanah, kesehatan, dan lingkungan mulai mengajukan pertanyaan yang jarang dipikirkan banyak orang: apakah terdapat logam berat di dalam produk pertanian yang kita konsumsi?

Pertanyaan itu lahir dari pengamatan di lapangan: petani yang berulang kali menyemprot tanaman dengan pestisida. Tingginya penggunaan pestisida, herbisida, dan fungisida ini menimbulkan kekhawatiran terhadap akumulasi logam berat, seperti Cu, Cd, Pb, dan As di tanah pertanian, terutama di kawasan vulkanis yang telah lama dibudidayakan secara intensif. Sebagian logam berat tersebut berasal dari bahan aktif komponen formulasi agrokimia.

Kandungan agrokimia

Akumulasi logam berat di tanah tidak terjadi dalam satu musim tanam. Ia berlangsung perlahan, hampir tidak teramati, mengikuti penggunaan agrokimia yang terus berulang dari tahun ke tahun. Di banyak kawasan hortikultura, pemakaian pupuk dan pestisida telah menjadi bagian dari keseharian petani untuk menjaga tanaman tetap produktif di tengah serangan hama, penyakit, dan cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Logam berat, seperti tembaga (Cu), kadmium (Cd), timbal (Pb), arsen (As), dan merkuri (Hg) dapat masuk ke tanah pertanian melalui pupuk, pestisida, air irigasi, deposisi atmosfer, hingga limbah industri. Dalam jumlah kecil beberapa unsur memang dibutuhkan tanaman. Tetapi sebagian lainnya bersifat toksik dan dapat terakumulasi perlahan di tanah maupun jaringan tanaman.

Fungisida berbasis tembaga, misalnya, banyak digunakan pada cabai, tomat, kentang, dan bawang merah. Tembaga dalam fungisida bekerja merusak sel dan sistem metabolisme jamur, sehingga penyakit tanaman yang menyerang daun, batang, maupun buah dapat ditekan. Namun, dalam jangka panjang, penggunaan berulang dapat menyebabkan akumulasi Cu pada lapisan atas tanah.

Selain fungisida, pupuk fosfat juga diketahui dapat membawa pengotor alami berupa Cd dan Pb. Berbeda dengan bahan organik yang dapat terurai, logam berat dapat bertahan di dalam tanah selama puluhan, hingga ratusan tahun. Sebagian logam akan terikat pada bahan organik dan mineral tanah, tetapi sebagian lainnya tetap tersedia dan perlahan dapat diserap oleh tanaman.

Hasil riset tim Universitas Andalas menunjukkan bahwa tanah hortikultura di kawasan Gunung Talang dan Gunung Marapi, Sumatera Barat, telah mengalami akumulasi logam berat yang berkaitan dengan kombinasi pengaruh material vulkanis dan aktivitas pertanian intensif.

Kandungan Cu tercatat relatif tinggi, berkisar sekitar 0.06–0.15 persen, menunjukkan akumulasi tembaga akibat penggunaan fungisida berbasis Cu yang dilakukan berulang pada budidaya hortikultura dataran tinggi seperti cabai, bawang merah, tomat, dan bawang prei.

Pb ditemukan pada kisaran rendah, sekitar 0.001–0.005 persen, tetapi tetap penting diperhatikan karena timbal dapat terakumulasi dalam tanah dan tanaman daun.

Kandungan As berada pada kisaran sekitar 0.001–0.003 persen, yang kemungkinan berasal dari residu pestisida tertentu yang mengandung arsen. Sementara itu, Cd ditemukan dalam konsentrasi sangat rendah, sekitar kurang dari 0.001 persen, namun tetap menjadi perhatian karena kadmium bersifat sangat toksik dan umumnya berasal dari pupuk fosfat yang digunakan secara intensif dalam sistem hortikultura.

Masuk ke tanaman

Tanaman sebenarnya tidak sepenuhnya pasif terhadap zat beracun yang masuk dari lingkungan. Akar memiliki kemampuan membatasi sebagian zat berbahaya, sementara sel tanaman dapat “menyimpan” sebagian logam berat pada jaringan tertentu agar tidak langsung merusak proses fisiologisnya. Namun, kemampuan alami ini tidak selalu mampu menghadapi tekanan pertanian modern yang menerima paparan agrokimia secara terus-menerus.

Masalahnya, beberapa logam berat memiliki sifat kimia yang mirip dengan unsur hara yang memang dibutuhkan tanaman. Kadmium, misalnya, dapat “menyamar” seperti seng, sedangkan arsenat memiliki kemiripan dengan fosfat. Karena kemiripan inilah akar tanaman kadang tidak mampu membedakan unsur hara dengan logam beracun, sehingga sebagian logam berat ikut terserap bersama air dan nutrisi tanah.

Sebagian logam kemudian tertahan di akar, tetapi sebagian lain perlahan bergerak menuju daun, buah, dan umbi. Sayuran daun, seperti bayam, kangkung, sawi, dan selada, termasuk yang relatif mudah mengakumulasi logam berat karena pertumbuhannya cepat dan permukaan daunnya luas.

Pada tomat dan cabai, residu pestisida dapat masuk melalui daun lalu bergerak menuju buah. Sementara itu kentang dan bawang merah memiliki kerentanan tersendiri karena bagian yang dipanen berkembang sangat dekat dengan tanah, tempat residu logam dan pestisida perlahan terakumulasi dari musim ke musim.

Pada tanaman hortikultura, residu pestisida tidak selalu hilang, sebelum panen. Sebagian masih menempel pada daun, cabai, tomat, dan bawang merah saat dibawa ke pasar. Pada pestisida sistemik, bahan aktif, bahkan dapat masuk ke jaringan tanaman dan sulit hilang melalui pencucian, terutama bila penyemprotan dilakukan terlalu dekat dengan masa panen.

Ancaman tersembunyi

Berbeda dengan tanaman yang membusuk atau terserang hama, pencemaran logam berat sering tidak meninggalkan tanda yang mudah dikenali mata. Tanaman masih dapat tumbuh normal dan menghasilkan panen tinggi, meskipun sebagian logam berat perlahan telah masuk ke dalam jaringan akar, daun, buah, maupun umbi. Justru karena prosesnya berlangsung diam-diam dan tidak terlihat inilah logam berat menjadi ancaman yang sering luput dari perhatian.

Kandungan logam berat pada pangan biasanya sangat kecil, hanya beberapa miligram per kilogram produk. Persoalannya bukan hanya pada jumlah sesaat, melainkan pada konsumsi yang berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun.

Sebagian logam dapat perlahan terakumulasi di dalam tubuh manusia. Kadmium, misalnya, dapat menumpuk di ginjal dan tulang, timbal dapat mengganggu sistem saraf dan perkembangan kecerdasan anak, sedangkan arsen dan merkuri dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan serius, termasuk kerusakan saraf dan peningkatan risiko kanker.

Karena itu banyak negara, seperti Singapura, Jepang, Amerika Serikat, China, Australia, dan kawasan Uni Eropa, mulai memperketat batas maksimum residu logam berat pada pangan. Pengawasan tidak lagi hanya difokuskan pada jumlah produksi pertanian, tetapi juga pada keamanan pangan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

Pertanian Intensif

Secara global, penggunaan agrokimia terus meningkat seiring intensifikasi pertanian modern dan kebutuhan menjaga produktivitas pangan dunia. Data FAO menunjukkan penggunaan pestisida global telah mencapai sekitar 3,7 juta ton bahan aktif per tahun. Di Indonesia, penggunaan agrokimia juga terus meningkat, terutama pada hortikultura intensif dan padi sawah.

Pada sentra produksi cabai, kentang, bawang merah, dan tomat, penyemprotan fungisida, bahkan dapat dilakukan beberapa kali dalam sepekan, selama musim hujan. Biaya pembelian agrokimia menjadi salah satu komponen terbesar usaha tani dan dapat mencapai sekitar sepertiga total biaya produksi per hektare.

Persoalannya, sebagian logam berat berasal dari bahan aktif maupun komponen formulasi agrokimia tersebut. Dalam jangka panjang, akumulasi logam berat dapat meningkat, terutama pada kawasan pertanian yang dibudidayakan secara intensif selama puluhan tahun.

Akibatnya, pencemaran tidak hanya berhenti di lahan pertanian, tetapi juga dapat masuk ke sistem perairan dan sedimen sungai melalui limpasan permukaan dan erosi.

Mengurangi Residu

Mengurangi residu pestisida pada sayuran, buah, dan pangan memerlukan upaya sejak di lahan pertanian, hingga sebelum pangan dikonsumsi. Langkah paling penting dimulai di tingkat budi daya, yaitu melalui penggunaan pestisida yang lebih bijaksana. Petani perlu menerapkan dosis sesuai anjuran, menghindari penyemprotan berlebihan, serta mematuhi pre-harvest interval (PHI), yaitu jeda waktu aman antara penyemprotan terakhir dan panen agar sebagian bahan aktif dapat terurai, sebelum produk dipasarkan.

Di tingkat konsumen, residu pada permukaan sayuran dan buah dapat dikurangi melalui pencucian dengan air mengalir, perendaman, pengupasan kulit, atau perebusan pada beberapa jenis pangan. Sayuran daun sebaiknya dicuci lembar demi lembar, sedangkan buah dan umbi dapat disikat ringan untuk mengurangi residu di permukaan.

Namun, cara ini umumnya hanya efektif untuk residu yang menempel di bagian luar tanaman. Residu yang telah masuk ke jaringan internal tanaman jauh lebih sulit dihilangkan. Pengawasan residu di tingkat produksi serta pengelolaan kesehatan tanah tetap menjadi langkah paling penting untuk menjaga keamanan pangan dalam jangka panjang.

Pangan masa depan

Persoalan logam berat bukan berarti seluruh produk pertanian Indonesia tidak aman dikonsumsi. Sebagian besar pangan yang beredar masih berada di bawah ambang batas keamanan. Namun, isu ini perlu dipandang sebagai peringatan dini bahwa pertanian modern tidak cukup hanya mengejar panen tinggi dan produktivitas jangka pendek.

Pemantauan logam berat pada tanah dan produk pertanian perlu dilakukan lebih rutin, terutama di kawasan hortikultura intensif yang telah lama menerima input agrokimia dalam jumlah besar. Penggunaan pestisida yang lebih bijaksana, pengurangan penyemprotan berlebihan, penguatan pertanian ramah lingkungan, serta perbaikan kesehatan biologis tanah menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tekanan terhadap lingkungan pertanian.

Pada akhirnya, tanah yang subur seharusnya tidak hanya mampu menghasilkan panen melimpah hari ini, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan, keamanan pangan, dan kesehatan generasi yang akan datang. (ant)

 

*) Penulis : Prof Dr Dian Fiantis, MSc, dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang, pengurus dan anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)

No More Posts Available.

No more pages to load.