Ketika Air Tak Lagi Punya Tempat

Jumat, 15 Mei 2026
Foto udara alat berat mengeruk tanah untuk menyelesaikan pembangunan bozem di kawasan Ketintang Permai, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/10/2025). Pemkot Surabaya membangun empat bozem baru di empat lokasi berbeda, yakni di Taman Kendangsari, Kebonsari Baru Selatan, Ketintang Permai dan Tengger Kandangan sebagai upaya untuk mengendalikan atau meminimalisir banjir di kawasan tersebut. (ANTARA)
Dengarkan dgn suara Siap
2.7K pembaca
SURABAYA  (Kabarpublik.id) – Hujan di Kota Surabaya selalu datang membawa dua wajah. Di satu sisi, ia menjadi penanda musim yang menenangkan setelah udara panas kota pesisir.

Namun di sisi lain, hujan juga menghadirkan kecemasan yang terus berulang. Jalan-jalan berubah seperti sungai, kendaraan tersendat, rumah warga terendam, dan ritme kota seakan lumpuh hanya dalam hitungan jam.

Surabaya bukan kota yang asing dengan banjir. Sebagai kota dataran rendah di hilir sungai besar dan berhadapan langsung dengan laut, Surabaya memang hidup dalam tekanan air dari banyak arah.

Ketika hujan turun bersamaan dengan pasang laut, sistem drainase kota bekerja di bawah tekanan yang berat. Persoalannya menjadi semakin rumit karena pertumbuhan kawasan permukiman dan betonisasi kota terus mempersempit ruang resapan.

Di tengah situasi itu, bozem atau tempat penampungan air buatan perlahan menjadi salah satu “kata kunci” baru dalam wajah penanganan banjir Surabaya.

Ia bukan sekadar kolam penampung air, melainkan bagian dari strategi kota untuk membeli waktu ketika hujan turun terlalu deras. Air ditahan sementara, diperlambat lajunya, lalu dialirkan secara bertahap menuju sungai primer atau laut melalui sistem pompa dan saluran.

Belakangan, perhatian terhadap bozem kembali menguat setelah Pemerintah Kota Surabaya mempercepat pembangunan Bozem Tanjungsari. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, bahkan menargetkan kawasan Simorejo Sari terbebas dari banjir pada November 2026.

Proyek itu bukan proyek kecil. Kapasitas tampungnya mencapai sekitar 20 ribu meter kubik air, dengan sistem aliran yang terhubung ke Diversi Gunungsari dan Bozem Dupak.

Yang menarik, pembangunan bozem kini tidak lagi dipandang sebagai proyek pelengkap. Ia mulai ditempatkan sebagai jantung strategi pengendalian banjir perkotaan. Surabaya tampaknya mulai menyadari bahwa kota modern tidak bisa hanya mengandalkan saluran drainase sempit yang berpacu membuang air secepat mungkin ke laut. Kota juga membutuhkan ruang untuk menahan air.

Kesadaran itu penting. Sebab selama bertahun-tahun, banyak kota di Indonesia terjebak pada logika lama, yaitu memperbesar saluran tanpa menyediakan ruang tampung.

Akibatnya, air hanya dipindahkan lebih cepat dari satu titik ke titik lain. Genangan hilang di satu kawasan, tetapi muncul di kawasan lain yang lebih rendah. Bozem mencoba memutus siklus itu.

Ruang tergenang

Namun, membangun bozem di kota padat seperti Surabaya tidak pernah sederhana. Persoalan terbesar justru bukan teknologi, melainkan ruang dan sosial.

Kasus rencana perluasan Bozem Simo Hilir memperlihatkan dilema tersebut. Di satu sisi, kawasan itu memang membutuhkan tampungan air lebih besar untuk mengurangi risiko banjir. Tetapi di sisi lain, proyek tersebut memunculkan kekhawatiran warga karena menyangkut relokasi dan dampak sosial terhadap ratusan unit hunian.

Di sinilah penanganan banjir diuji bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara etis. Kota sering terlalu fokus pada angka kapasitas tampung, debit air, atau ukuran box culvert, tetapi lupa bahwa di atas lahan yang hendak dijadikan bozem terdapat kehidupan warga yang telah tumbuh bertahun-tahun.

Karena itu, kritik terhadap proyek bozem sebenarnya bukan semata penolakan terhadap pengendalian banjir. Kritik muncul ketika pembangunan dianggap kurang melibatkan kajian sosial yang memadai. Kota tidak cukup hanya benar secara teknis; ia juga harus adil secara sosial.

Persoalan ini penting karena perubahan iklim membuat ancaman banjir perkotaan semakin serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beberapa kali mengingatkan bahwa curah hujan ekstrem di kota-kota pesisir Jawa berpotensi meningkat. Surabaya menghadapi risiko ganda, yakni hujan lokal intens dan kenaikan muka air laut.

Dalam konteks itu, bozem menjadi kebutuhan yang nyaris tak terhindarkan. Tetapi pendekatan pembangunannya tidak bisa lagi memakai pola lama yang semata-mata berorientasi fisik.

Surabaya sebenarnya mulai bergerak ke arah yang lebih modern. Pemkot tidak hanya membangun bozem baru di sejumlah kawasan seperti Kendangsari, Ketintang Permai, Kebonsari, hingga Tengger Kandangan, tetapi juga menghubungkannya dengan rumah pompa dan sistem drainase terintegrasi.

Pendekatan ini lebih masuk akal dibanding sekadar membangun saluran besar. Air hujan ditahan di beberapa titik, lalu dipompa secara bertahap sesuai kapasitas sungai. Model seperti ini lazim diterapkan di kota-kota pesisir dunia yang menghadapi ancaman banjir akibat urbanisasi dan perubahan iklim.

Yang menarik lagi, Surabaya mulai mencoba mengubah wajah bozem dari sekadar infrastruktur teknis menjadi ruang publik. Sejumlah bozem dirancang memiliki jogging track, taman, hingga ruang olahraga. Gagasan ini penting karena memperlihatkan bahwa infrastruktur air tidak harus selalu identik dengan kawasan kumuh atau tempat pembuangan.

Kota-kota maju telah lama mengubah kolam retensi menjadi bagian dari lanskap urban. Di Singapura, misalnya, waduk dan tampungan air justru menjadi ruang rekreasi warga. Pendekatan seperti itu membuat masyarakat merasa memiliki infrastruktur air, bukan menjauhinya.

Surabaya memiliki peluang menuju arah serupa. Tetapi pekerjaan rumahnya masih besar. Salah satu persoalan klasik Surabaya adalah sedimentasi dan pemeliharaan.

Banyak bozem dan saluran yang awalnya efektif, lalu kehilangan kapasitas karena pendangkalan dan sampah. Sehingga perlu pengerukan sungai dan bozem.

Infrastruktur air bukan proyek sekali jadi. Ia membutuhkan perawatan rutin dan disiplin tata kota yang panjang. Tanpa itu, bozem hanya akan berubah menjadi kolam dangkal yang kehilangan fungsi.

Menjaga hulu

Ada satu hal yang sering luput dalam perbincangan soal banjir Surabaya, yakni kota ini sebenarnya sedang melawan konsekuensi dari pertumbuhan urban yang terlalu cepat.

Setiap tahun, ruang terbuka terus berkurang. Tanah yang dahulu menyerap air berubah menjadi permukiman, kawasan industri, gudang, atau jalan beton. Ketika hujan deras turun, air kehilangan tempat meresap dan akhirnya menyerbu saluran kota dalam waktu bersamaan.

Artinya, sebaik apa pun pompa dan sebesar apa pun bozem dibangun, Surabaya tetap akan kesulitan bila pembangunan kota terus menghilangkan ruang resapan.

Karena itu, masa depan pengendalian banjir Surabaya tidak bisa hanya bergantung pada proyek fisik. Kota membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh mulai dari memperbanyak ruang hijau, menjaga kawasan resapan, memperketat izin pembangunan di daerah rawan genangan, hingga mendorong konsep drainase berkelanjutan.

Surabaya sebenarnya punya modal kuat untuk itu. Tradisi kampung hijau, gerakan lingkungan warga, dan kultur gotong royong kota ini relatif hidup dibanding banyak kota besar lain. Energi sosial seperti itu bisa menjadi kekuatan besar bila diarahkan untuk menjaga sistem air kota.

Sebab, banjir bukan hanya persoalan pemerintah atau dinas teknis. Ia adalah cermin hubungan kota dengan ruang hidupnya sendiri.

Bozem mungkin tidak akan sepenuhnya menghapus banjir. Hujan ekstrem tetap bisa datang melampaui kapasitas sistem yang ada. Tetapi bozem memberi Surabaya peluang untuk mengurangi kerusakan, memperlambat air, dan menjaga kota tetap bernapas ketika hujan turun deras.

Mungkin di situlah makna terpentingnya, bahwa kota modern bukan kota yang sepenuhnya bebas air, melainkan kota yang mampu mengelola dan hidup berdampingan dengan air tanpa mengorbankan kenyamanan serta keselamatan warganya. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.