JAKARTA (Kabarpublik.id) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengatakan tidak ada perubahan harga LPG bersubsidi, dalam hal ini LPG 3 kg, meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah.
“Belum ada perubahan. Harga LPG subsidi tetap, enggak ada (perubahan),” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin.
Adapun nilai tukar rupiah pada Senin (18/6) pagi bergerak melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.
Sebagaimana disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Dirjen Migas Laode menegaskan harga LPG maupun BBM bersubsidi tidak akan berubah hingga akhir tahun 2026.
- Soal Raihan Penghargaan WTP 4 Kali Pemkab Sergai, Imam Susanto: Perlu Dipertimbangkan
- Torehkan Prestasi, Ketua LPPM UIN MY Batusangkar Dipercaya sebagai Reviwer Eksternal Penelitian UT
- Pemkot Bekasi Gelar Pemecahan Rekor Muri URI Gemma Qur’an dalam Rangka Hari Jadi ke-29 Kota Bekasi dan Nuzulul Qur’an 1447 H
Dalam kesempatan tersebut, Laode juga menyampaikan mekanisme impor LPG maupun minyak masih berlangsung sesuai mekanisme di tengah melemahnya kurs rupiah.
“Kan sudah diumumkan Pak Menteri. Sampai akhir tahun (tidak berubah),” kata Laode.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah melemah seiring hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tak banyak membahas solusi terkait perang AS-Iran.
“Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global pada hari Jumat (15/5), dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua aset, termasuk obligasi, saham, crypto, dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Dalam pertemuan Xi dan Trump, China menganjurkan agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dengan mempertahankan gencatan senjata.
Mengutip Anadolu, Trump sendiri menyatakan ketidakyakinan apakah kesepakatan akan segera tercapai antara AS dengan Iran karena negosiasi mengenai program nuklir dan konflik yang sedang berlangsung terus berlanjut tanpa penyelesaian. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan berkisar Rp17.550–Rp17.650 per dolar AS. (ant)






