JAYAPURA (kabarpublik.id) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu aktivitas pendidikan di Papua Selatan. Pemerintah daerah memberlakukan pembelajaran daring di tiga kabupaten untuk melindungi kesehatan para pelajar.
Ketiga wilayah tersebut adalah Kabupaten Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di Kabupaten Merauke masih berlangsung secara tatap muka.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan, Paskalis Prayitno, mengatakan kebijakan pembelajaran daring diambil pemerintah daerah setelah mempertimbangkan kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah.
“Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Selatan terus melakukan monitoring terkait perkembangan kabut asap di empat wilayah dan mendukung langkah yang diambil pemda setempat terkait belajar secara daring, mengingat bila tetap dilakukan di sekolah dikhawatirkan berdampak kepada kesehatan para pelajar,” kata Paskalis saat dihubungi dari Jayapura, Senin (12/10/2026).
Kabut Asap Ganggu Aktivitas Pendidikan
Paskalis menjelaskan, pihaknya terus memantau perkembangan kabut asap dan dampaknya terhadap kegiatan belajar mengajar di empat kabupaten di Papua Selatan.
Menurutnya, keselamatan dan kesehatan siswa menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pelaksanaan pembelajaran.
Karena itu, pemerintah daerah di Boven Digoel, Mappi, dan Asmat memutuskan mengalihkan sementara kegiatan belajar dari sekolah ke sistem daring.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla, terutama bagi pelajar yang harus beraktivitas di luar rumah.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Selatan juga mendukung kebijakan masing-masing pemerintah kabupaten dalam menyesuaikan kegiatan pendidikan dengan kondisi lingkungan setempat.
Sekolah di Merauke Masih Belajar Tatap Muka
Berbeda dengan tiga kabupaten lainnya, aktivitas pendidikan di Kabupaten Merauke masih berjalan normal melalui pembelajaran tatap muka.
Paskalis menyebutkan, kondisi kabut asap di Merauke belum separah wilayah Boven Digoel, Mappi, dan Asmat.
“Memang untuk Kabupaten Merauke, aktivitas belajar mengajar masih dilakukan dengan cara tatap muka di sekolah, karena kabut asap belum setebal ketiga kabupaten,” ujarnya.
Meski demikian, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Selatan tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan kabut asap di seluruh wilayah.
Pemantauan tersebut menjadi dasar untuk mendukung langkah pemerintah daerah dalam menjaga kelangsungan pendidikan sekaligus melindungi kesehatan peserta didik di tengah dampak karhutla.





