News Update
Live Update Berita Terkini

Era AI, Vinoti Dorong Perusahaan Sediakan Ruang untuk Berpikir di Kantor

Selasa, 29 Sep 2026
Editor: Eky
Dengarkan dgn suara Siap
6.8K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong perusahaan memikirkan kembali fungsi kantor. Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana ruang kerja mendukung fokus, kolaborasi, dan produktivitas karyawan.

Project Consultant General Manager Vinoti, Theresia Dewi, mengatakan investasi teknologi tetap penting untuk meningkatkan efisiensi. Namun, perusahaan juga perlu memastikan lingkungan kerja mampu mendukung kebutuhan karyawan di tengah meningkatnya penggunaan AI.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Keterangan foto: Poster peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.

“Investasi IT jelas harus dilakukan untuk menggantikan fungsi rutinitas dengan robotik, pengurangan beban, dan efisiensi. Namun, tim Corporate Real Estate (CRE) juga perlu mencari bentuk ruang yang sesuai dengan arah perusahaan, termasuk kebutuhan ruang fokus, ruang kerja, dan kolaborasi,” ujar Theresia.

Menurut data Steelcase Global Employee Research 2025 dan WorkSpace Futures yang mengacu pada riset Gallup 2024–2025, sebanyak 78 persen pemimpin di bidang fasilitas dan real estat berencana mendesain ulang tempat kerja dalam dua hingga tiga tahun mendatang sebagai dampak integrasi AI.

Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI berpotensi mengubah cara perusahaan merancang dan menggunakan ruang kerja.

Ruang untuk Berpikir

Theresia menilai tantangan kantor di era AI tidak berhenti pada penyediaan perangkat digital. Perusahaan juga perlu memperhatikan kebutuhan ruang yang memungkinkan karyawan berkonsentrasi dan mengurangi kelelahan akibat aktivitas digital yang intensif.

Konsep tersebut menjadi bagian dari pendekatan “Room to Think” yang dikembangkan Vinoti melalui desain ruang kerja berbasis komunitas atau community-based design.

Dalam pendekatan ini, ruang kerja tidak dibuat dengan satu pola yang sama untuk semua perusahaan. Desain disesuaikan dengan karakter pekerjaan, komunitas pengguna, serta lingkungan kerja.

“Penyesuaian kriteria pekerjaan, komunitas, dan lingkungan akan membentuk pola tersendiri dengan mengadaptasi kebutuhan dari masing-masing user,” jelas Theresia.

Ia mengatakan, desain ruang kerja tidak cukup hanya dengan menambahkan tanaman, material akustik, atau elemen dekoratif. Penataan zona kerja perlu mempertimbangkan pola perilaku dan kebutuhan pengguna agar ruang dapat berfungsi secara optimal.

Riset Steelcase juga mencatat 59 persen hari kerja karyawan dihabiskan di depan layar, baik untuk bekerja maupun mengikuti rapat daring. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya ruang kerja yang mendukung konsentrasi dan interaksi langsung.

Menyesuaikan dengan Budaya Kerja Indonesia

Vinoti juga menyoroti tantangan penerapan konsep ruang kerja modern di Indonesia yang memiliki karakter organisasi dan budaya kerja yang beragam.

Salah satu referensi yang digunakan adalah konsep Workplace Districts dari Steelcase, yang membagi ruang kerja berdasarkan kebutuhan aktivitas, seperti City Center, Neighborhoods, Business District, Urban Parks, dan University District.

Menurut Theresia, penerapannya di Indonesia perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing perusahaan.

City Center, misalnya, dapat diterapkan pada perusahaan nasional maupun multinasional yang beroperasi di kawasan pusat bisnis. Sementara Neighborhoods lebih sesuai untuk perusahaan atau kantor profesi yang membutuhkan banyak ruang tertutup untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi.

Adapun konsep University District dapat diterapkan pada perusahaan besar yang memiliki fasilitas pelatihan internal, institusi pendidikan, atau organisasi yang membutuhkan ruang pembelajaran.

Namun, penerapan desain berbasis komunitas juga memiliki tantangan. Theresia menyebut tingkat kematangan pekerja dan budaya organisasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

“Bagian sosial ini memang menjadi salah satu kendala bagi pemilik perusahaan lokal untuk menerapkan community-based design apabila pekerja mereka belum dewasa atau matang. Maka, perlu diimbangi dengan pengembangan dan perubahan kultur dari organisasi perusahaan tersebut,” katanya.

Menurut dia, perusahaan perlu terus beradaptasi mengikuti perubahan teknologi dan pola kerja. Perubahan tersebut juga harus diikuti kemampuan organisasi untuk memahami kebutuhan manusia di dalam lingkungan kerja.

Bahas Masa Depan Kantor di Era AI

Gagasan mengenai ruang kerja di era AI turut dibahas dalam talkshow “ROOM TO THINK: Designing Workspaces for the AI Era” yang diinisiasi vinoti | VIVERE COMMERCIAL.

Kegiatan tersebut menghadirkan Theresia Dewi serta Bingah Suseno, Principal of TULA Interiors, dari perspektif desain. Vinoti juga menggagas wadah Design For Life (DFL) yang akan mempertemukan pelaku industri dan pakar untuk membahas perkembangan tempat kerja di masa mendatang.

Diskusi tersebut mengangkat pertanyaan mengenai fungsi kantor ketika AI semakin banyak mengambil alih pekerjaan rutin dan proses otomatisasi.

Dalam konteks tersebut, ruang kerja dinilai tetap memiliki fungsi penting untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan kemampuan manusia, seperti berpikir, berdiskusi, berkolaborasi, membangun relasi, dan membentuk komunitas.

No More Posts Available.

No more pages to load.