Ramai Soal Super Flu, Ini Kata Kemenkes…

Jumat, 2 Jan 2026
Ilustrasi Super Flu. (Dok. Canva)
Dengarkan dgn suara Siap
177.3K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Kasus influenza A(H3N2) subclade K atau yang belakangan dikenal sebagai super flu dilaporkan meningkat secara global, terutama di Amerika Serikat sejak pekan ke-40 tahun 2025, seiring masuknya musim dingin.

Dikutip dari detik, Varian ini pertama kali terdeteksi oleh US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Agustus 2025 dan hingga kini telah ditemukan di sekitar 80 negara.

Di kawasan Asia, sejumlah negara telah melaporkan temuan subclade K sejak Juli 2025, antara lain China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand. Meski demikian, tren kasus influenza di kawasan Asia justru menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Pelaksana Tugas Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr Prima Yosephine, menegaskan bahwa berdasarkan penilaian World Health Organization (WHO) dan data epidemiologi terkini, subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan penyakit.

“Gejala yang ditimbulkan umumnya sama seperti flu musiman, meliputi demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” jelas dr Prima dalam keterangan resminya.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat 62 kasus influenza subclade K berdasarkan hasil pemeriksaan per 25 Desember 2026. Meski jumlah tersebut menjadi perhatian publik, dr Prima menegaskan bahwa tren influenza nasional justru menurun dalam dua bulan terakhir.

Penurunan ini terpantau melalui sistem surveilans sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Pada surveilans SARI, kondisi kasus tercatat stabil tanpa indikasi lonjakan.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa peredaran subclade K tidak memengaruhi situasi epidemi influenza di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Kemenkes RI drg Widyawati, MKM, mengungkapkan bahwa pemeriksaan genome sequencing telah dilakukan terhadap 348 sampel dari 843 spesimen positif influenza. Hasilnya, ditemukan 152 kasus influenza tipe A/H1 (44 persen) dan 172 kasus tipe A/H3 (49 persen). Dari jumlah A/H3 tersebut, 62 kasus atau 36 persen merupakan subclade K, sementara 24 kasus (7 persen) merupakan influenza tipe B/Victoria.

Berdasarkan data tersebut, kelompok perempuan menjadi yang paling banyak terinfeksi dengan proporsi 64 persen, disusul anak usia 1–10 tahun yang menyumbang 35 persen kasus.

Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti rutin mencuci tangan, mencukupi waktu istirahat, serta mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, vaksinasi influenza tahunan sangat dianjurkan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.

“Vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, hingga kematian,” tegas drg Widyawati.

Masyarakat yang mengalami gejala flu juga disarankan untuk beristirahat di rumah, menerapkan etika batuk, dan menggunakan masker. Jika kondisi memburuk, seperti demam tinggi lebih dari tiga hari atau muncul sesak napas, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan.

No More Posts Available.

No more pages to load.