JAKARTA (kabarpublik.id) – Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa istilah super flu bukan merupakan penamaan resmi dalam dunia kedokteran. Meski demikian, istilah tersebut telah digunakan secara luas di berbagai negara dan berpotensi ikut digunakan dalam komunikasi publik di Indonesia.
“Istilah super flu memang bukan penamaan resmi kedokteran, tetapi digunakan luas di dunia, sehingga tentu akan digunakan juga di Indonesia,” ujar Tjandra seperti dikutip dari metrotvnews, Sabtu (17/1/26).
Mantan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan itu menekankan pentingnya komunikasi publik yang cermat terkait isu super flu. Menurutnya, penyampaian informasi harus mampu mencegah kepanikan tanpa mengabaikan kewaspadaan.
Prof Tjandra merumuskan lima prinsip utama dalam komunikasi publik. Pertama, informasi harus disampaikan secara apa adanya. Ia menjelaskan bahwa virus influenza yang saat ini banyak ditemukan di berbagai negara tidak selalu lebih berat, tetapi cenderung lebih mudah menular sehingga menyebabkan peningkatan jumlah kasus. Dalam kondisi ini, peran vaksinasi, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi, perlu terus ditekankan.
Kedua, pemerintah dan otoritas kesehatan tidak boleh terkesan menyepelekan situasi. “Jangan menganggap tidak ada apa-apa, walau tentu juga jangan menakut-nakuti masyarakat yang tidak perlu,” katanya.
Ketiga, data epidemiologi perlu disampaikan secara terbuka dan berkala. Prof Tjandra mencontohkan sejumlah negara yang secara rutin merilis laporan mingguan kasus influenza. Menurutnya, Indonesia sebaiknya menerapkan pola serupa.
Keempat, penguatan surveilans genomik menjadi kebutuhan mendesak. Identifikasi sub-clade K pada virus influenza diketahui melalui metode whole genome sequencing (WGS), sehingga hasil pemantauan genomik perlu disampaikan secara transparan kepada publik. Ia juga menyebutkan bahwa beberapa negara melaporkan dominasi virus Influenza A H3N2, meski tidak selalu sub-clade K.
Kelima, masyarakat perlu diyakinkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh tingkatan siap menangani kasus influenza, apa pun jenisnya.
Di sisi lain, Prof Tjandra menyoroti masih rendahnya upaya penggalakan vaksinasi influenza di Indonesia. “Sayangnya, kita memang belum menggalakkan vaksinasi influenza secara optimal,” ujarnya.





