PMI Manufaktur Awal 2026 Menguat, Industri Nasional Tetap Ekspansif

Minggu, 8 Feb 2026
Aktivitas pekerja di kawasan industri manufaktur. Sektor manufaktur Indonesia mencatat ekspansi pada awal 2026 seiring menguatnya permintaan domestik dan stabilnya produksi.(Sumber: indonesia.go.id)
Dengarkan dgn suara Siap
48.4K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Sektor manufaktur Indonesia mengawali tahun 2026 dengan tren positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat ekspansif di level 52,6 pada Januari 2026, meningkat dari 51,2 pada bulan sebelumnya. Penguatan ini ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik, stabilnya aktivitas produksi, serta mulai pulihnya optimisme pelaku usaha.

Di kawasan industri timur Jakarta, stabilisasi tersebut terasa langsung oleh para pekerja. Siti Nurhayati (36), buruh operator mesin, menyebut jam kerja di pabriknya kembali teratur sejak awal Januari. Produksi berjalan lebih konsisten, sementara kekhawatiran pemangkasan jam lembur yang sempat terjadi sepanjang 2025 mulai mereda.

“Belum bisa dibilang aman sepenuhnya, tapi sekarang kami tidak lagi waswas tiap minggu menunggu kabar pengurangan produksi,” ujar Siti.

Secara nasional, peningkatan PMI mencerminkan ekspansi aktivitas manufaktur, dengan dorongan utama berasal dari permintaan dalam negeri. Di balik angka statistik, sektor ini bertumpu pada jutaan tenaga kerja, konsumsi kelas menengah, serta UMKM yang menjadi bagian penting rantai pasok industri.

Permintaan Domestik Jadi Penopang Utama

Di tengah tantangan global dan pelemahan pesanan ekspor, optimisme pelaku usaha manufaktur tercatat berada pada level tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir. Kuatnya konsumsi domestik menjadi faktor utama penopang ekspansi.

Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 4,4 persen (year on year/yoy), didorong oleh peningkatan penjualan makanan, minuman, serta membaiknya mobilitas masyarakat. Di sektor otomotif, penjualan kendaraan menunjukkan lonjakan signifikan pada akhir 2025. Penjualan sepeda motor tumbuh 14,5 persen, sementara penjualan mobil meningkat 17,9 persen (yoy).

Kenaikan penjualan kendaraan tersebut berdampak langsung pada industri pendukung, mulai dari baja, karet, plastik, kaca, hingga elektronik. Efek berantai ini menjaga aktivitas produksi manufaktur tetap bergerak.

Penguatan manufaktur juga dirasakan pelaku usaha kecil. Darto, pemilik UMKM penyedia kemasan plastik, mengaku pesanan dari pabrik mulai kembali rutin sejak akhir 2025.

“Order belum sebesar sebelum pandemi, tapi sekarang rutin. Buat usaha kecil, kepastian itu yang paling penting,” kata Darto.

Dukungan Eksternal dan Kinerja Perdagangan

Dari sisi global, kondisi manufaktur di sejumlah negara mitra dagang menunjukkan tren relatif positif. Pada Januari 2026, PMI India tercatat 56,8, Amerika Serikat 51,9, dan PMI manufaktur ASEAN berada di level 52,8. Kondisi ini membuka peluang pemulihan bertahap permintaan ekspor Indonesia.

Penguatan sektor manufaktur juga tercermin dalam perdagangan luar negeri. Pada Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD2,51 miliar. Ekspor tumbuh 11,64 persen (yoy), dengan ekspor industri pengolahan melonjak 19,26 persen. Sepanjang 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD41,05 miliar, melanjutkan tren surplus sejak 2020.

Di sisi impor, peningkatan impor barang modal sebesar 34,66 persen (yoy) mencerminkan ekspansi investasi dan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

Inflasi Terkendali, Daya Beli Terjaga

Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55 persen (yoy), naik dibanding Desember 2025. Kenaikan terutama dipengaruhi oleh faktor harga yang diatur pemerintah. Namun secara bulanan, inflasi justru mencatat deflasi 0,15 persen, seiring penurunan harga sejumlah komoditas pangan.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 tetap berada di level optimis, yakni 123,5, mencerminkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan prospek ke depan.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menegaskan pemerintah akan menjaga momentum ini melalui kebijakan yang konsisten.

“Tren ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah akan terus memperkuat iklim usaha, daya saing industri, serta menjaga inflasi dan daya beli masyarakat,” ujar Febrio.

Menjaga Momentum Pertumbuhan

Pemerintah berkomitmen melanjutkan penguatan hilirisasi industri, diversifikasi pasar ekspor, serta menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan. Di tingkat akar rumput, stabilitas ini memberi ruang bernapas bagi buruh, kelas menengah, dan UMKM.

Awal 2026 bukan tentang euforia besar, melainkan kestabilan yang perlahan kembali. Selama produksi berjalan, konsumsi terjaga, dan UMKM bertahan dalam rantai pasok, sektor manufaktur Indonesia tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

No More Posts Available.

No more pages to load.