PEMILIK AKUN JIER MANGANTJO HARUS TANGGUNG JAWAB. WARGA KABALUTAN BANTAH ISU KAMPUNG JANDA

Selasa, 26 Nov 2019
Dengarkan dgn suara Siap
4K pembaca

Laporan: Jefry (Jarber SMSI)
Editor: Mahmud Marhaba

TOUNA [KP] – Warga kampung Kabalutan nampak menyesalkan tindakan pemilik akun Jier Mangantjo yang diduga memviralkan kampung janda di media sosial. Tak terima hal itu, warga masyarakat pun meminta Polres Touna untuk memproses pemilik akun tersebut.

Fenomena kasus kampung janda viral di dunia maya facebook setelah postingan pemilik akun Jier Mangantjo beberapa waktu lalu. Belum lagi postingan tersebut menuai beragam tanggapan dari para netizen. Pernyataan simpati, kecaman dan bantahan nampak berderet didaftar komentar postingan itu.

Tak mau anggapan pelecehan terhadap kaum perempuan di Kabalutan semakin melebar, beberapa tokoh masyarakat membantah keras bahwa isi postingan akun Jier Mangantjo jauh panggang dari api.

Seperti Asri Saundang dan Saiful Sofyan, Selasa (26/11/2019) kedua mantan kepala desa Kabalutan ini kepada media menegaskan bahwa tidak benar jika wanita di Kabalutan tidak bisa dibawa (setelah nikah) keluar kampung. Kabalutan bukan kampung janda.

“Tidak bisa dibawa keluar itu tidak benar. Sudah banyak wanita Kabalutan yang menikah dan ikut bersama suami. Ada yang ke Makasar, Kendari, Palu, Gorontalo, ada banyak. Sama seperti biasa dengan desa atau kampung lainnya dan tidak ada aturan seperti itu berlaku di desa ini”, tukas Asri Saudang.

Senada dengan Asri, mantan Kades Kabalutan dua periode, Saiful Sofyan, menegaskan Kabalutan tidak pernah mengekang kehidupan para wanita. Kehidupan sosial di desa itu, kata dia, sama layaknya di desa-desa lain.

“Seperti yang mereka sebutkan kalau ada wanita setelah kawin tidak bisa di bawa keluar itu tidak benar. Sudah banyak saudara-saudara kita kini ikut suami di luar Kabalutan”, kata Saiful.

Ia tak memungkiri di desa itu terdapat beberapa warga berstatus janda, namun itu bukan disebabkan karena tidak bisa keluar. “Ada faktor lain, seperti masalah rumah tangga, ketidakcocokan atau janda mati. Jadi perlu diketahui, selama saya menjabat kedes jumlah janda itu tidak seperti  apa yang di katakan oleh oknum yang tak bertangung jawab yang telah beredar luas di medsos,” jelasnya.

Sementara itu, sejumlah pemuda kampung Kabalutan keberatan jika kampung janda dilekatkan dengan nama Kabalutan.

“Kasihan sekali kaum perempuan disini. Sebagai lelaki kami tidak terima, generasi kami, keluarga anak atau cucu kami dicap datang teto lari. Apa lagi dengan sebutan kampung Janda anda siap bocking”, ujar  pemuda itu geram sembari mengutip beberapa komentar di linimasa akun facebook jier mangantjo.

Viralnya predikat kampung janda yang di duga sengaja dilekatkan dengan kampung Kabalutan membuat seluruh warga setempat meminta penyebar isu untuk segera mengklarifikasi postingan tersebut. Mereka ingin nama desa Kabalutan kembali bersih dari anggapan negatif para nitizen. # [KP]

No More Posts Available.

No more pages to load.