Laporan : Achmad Ariesmen Herosy (JMSI), Editor : Jumadi / Mahmud
BANDUNG [KP] – Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM), Teten Masduki menegaskan bahwa sektor pertanian dan perkebunan sudah bisa direlaksasi untuk diaktifkan kembali kegiatan usahanya.
“Saya ingin melihat langsung dan memastikan reaktivasi kegiatan usaha KUKM bisa berjalan”, tandas Teten di sela-sela kunjungan kerja ke salah satu shelter (tempat pengolahan kopi) Klasik Beans di daerah Gunung Puntang, Desa Campaka Mulia, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Minggu (21/06/2020).
Dalam kunjungan tersebut Menteri Teten didampingi Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan, Dirut LPDB KUMKM Supomo, dan juga Bupati Bandung Dadang M Naseer.
Terlebih lagi, jelas Teten produk kopi dari Klasik Beans merupakan salah satu yang terbaik di dunia, dengan sudah menembus pasar mancanegara.
“Saya meyakini, dengan tingkat konsumsi kopi dalam negeri yang terus meningkat, produk kopi nasional bisa diserap pasar dalam negeri”, katanya.
Artinya, dengan pasar yang amat luas dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, pendapatan nasional dari produk kopi tidak perlu lagi bergantung pada ekspor.
“Meski ekspor kopi tetap akan menjadi bagian penting, karena kopi akan terus menjadi komoditi unggulan Indonesia”, ucap Teten.
Namun, Teten berharap protokol kesehatan tetap dijalankan dengan disiplin. “Dunia usaha kembali dijalankan dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan”, tukasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Koperasi Klasik Beans Deni Glen menjelaskan, koperasi yang berdiri pada 2011 sudah memiliki binaan sekitar 3000 petani kopi yang tergabung dalam Paguyuban Tani Sunda Hejo.
“Hasil panen kopi petani dibeli koperasi untuk diolah menjadi biji kopi mentah atau green beans”, katanya.
Koperasi Klasik Beans memiliki banyak shelter kopi di Jawa Barat. Diantaranya di Garut (ada tiga), Ciwidey (ada dua), Gunung Puntang, Pangalengan, Ujungberung, Bandung Utara, dan Cianjur.
Sedangkan di luar Jabar, shelter Klasik Beans ada di Kintamani (Bali), Flores, Enrekang (Sulsel), Lintong (Medan, Sumut), dan Takengon (Aceh).
“Sebelum pandemi Covid-19, kami memiliki kapasitas produksi sebanyak 5-8 ton green beans perbulan, khusus untuk pasar nasional. Untuk yang pasar ekspor, per musim kita menghasilkan 60 ton, dimana dalam setahun ada satu kali musim,” pungkasnya. #*[KP-Jabar].





