News Update
Live Update Berita Terkini

Kementan dan OIKN Perkuat Pencegahan Zoonosis dan Penyelamatan Satwa di IKN

Sabtu, 17 Okt 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue yang diselenggarakan oleh Otorita IKN di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Kalimantan Timur. ANTARA/HO-Kementan
Dengarkan dgn suara Siap
1.9K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memperkuat upaya pencegahan penyakit zoonosis dan penyelamatan satwa di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Langkah ini dilakukan untuk melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, mengatakan pencegahan zoonosis perlu dilakukan sejak dini melalui deteksi penyakit, pengawasan kesehatan hewan, dan koordinasi lintas sektor.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Keterangan foto: Poster peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.

Menurutnya, perubahan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dapat mendorong satwa liar keluar dari habitatnya. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan interaksi antara satwa liar, hewan peliharaan, dan manusia sehingga risiko penularan penyakit perlu diantisipasi.

“Karena itu, kita perlu memperkuat deteksi dini, pengawasan kesehatan hewan, serta kerja sama lintas sektor agar setiap potensi risiko dapat diantisipasi sebelum berdampak pada kesehatan masyarakat,” kata Hendra dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue yang diselenggarakan OIKN di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembukaan Kongres ke-20 Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).

Kementan Dorong Pendekatan One Health di IKN

Hendra menegaskan pentingnya pendekatan Satu Kesehatan atau One Health dalam mencegah penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia.

Pendekatan tersebut mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Ketiganya saling berkaitan sehingga perubahan pada salah satu aspek dapat memengaruhi aspek lainnya.

Dalam konteks IKN, kebakaran hutan berpotensi mengganggu habitat satwa liar dan meningkatkan kontak dengan manusia maupun hewan peliharaan. Karena itu, pemetaan dan penilaian risiko perlu dilakukan sesuai karakteristik setiap wilayah.

Menurut Hendra, hasil penilaian risiko dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah pengawasan, pencegahan, dan penanganan penyakit secara lebih efektif.

Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan juga mendorong penguatan surveilans kesehatan hewan, deteksi dini penyakit, pemeriksaan laboratorium veteriner, serta pemanfaatan sistem informasi untuk mempercepat respons terhadap potensi wabah.

Penyelamatan Satwa Saat Kebakaran Hutan

Selain mencegah penularan penyakit, Kementan dan OIKN menaruh perhatian pada penyelamatan satwa liar dan hewan peliharaan dalam kondisi darurat, terutama saat terjadi kebakaran hutan.

Penanganan tersebut membutuhkan koordinasi antara tenaga medis konservasi, otoritas veteriner, dokter hewan, pemerintah daerah, dan instansi terkait.

Koordinasi diperlukan agar proses evakuasi berlangsung cepat dan tepat, tanpa mengabaikan keselamatan petugas, masyarakat, maupun hewan yang diselamatkan.

“Penyelamatan satwa dan hewan peliharaan saat terjadi kebakaran hutan perlu dilakukan secara terkoordinasi, dengan tetap memperhatikan kesehatan dan keselamatan. Yang terpenting, setiap instansi memahami perannya sehingga penanganan dapat berjalan cepat, tepat, dan risiko penularan penyakit bisa ditekan,” ujar Hendra.

Ia menambahkan, pembagian tugas yang jelas antarlembaga menjadi faktor penting dalam penanganan keadaan darurat. Dengan demikian, proses penyelamatan dapat berjalan efektif sekaligus meminimalkan risiko penyebaran penyakit zoonosis.

Masyarakat Diminta Waspadai Gejala Penyakit Hewan

Kementan juga mengajak masyarakat berperan aktif dalam mendeteksi potensi penyakit menular pada hewan.

Warga diminta segera melaporkan temuan hewan sakit, kematian hewan yang tidak biasa, atau dugaan penyakit menular kepada petugas berwenang.

Laporan tersebut diperlukan agar petugas dapat melakukan pemeriksaan, verifikasi, dan penanganan sedini mungkin sebelum risiko berkembang lebih luas.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, OIKN, Kementan, PDHI, dan instansi terkait berupaya memperkuat kesiapsiagaan, komunikasi risiko, serta koordinasi dalam pencegahan zoonosis dan penyelamatan satwa.

Langkah tersebut dinilai penting bagi pengembangan IKN yang mengedepankan kelestarian lingkungan dan perlindungan keanekaragaman hayati.

Bagi Kementan, penguatan kesehatan hewan merupakan bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat. Melalui deteksi dini, penilaian risiko, dan kerja sama lintas sektor, potensi ancaman penyakit diharapkan dapat diketahui lebih awal dan ditangani secara tepat.

Dengan demikian, pembangunan IKN tidak hanya berorientasi pada infrastruktur modern, tetapi juga pada terciptanya lingkungan yang sehat, aman, dan berkelanjutan bagi manusia maupun satwa.

No More Posts Available.

No more pages to load.