Untuk kedua kali berturut-turut mereka menumbangkan tiga teratas ganda putra dunia, dengan menaklukkan nomor tiga dunia, Liang Weikeng/Wang Chang, dalam tiga gim.
Dalam semifinal mereka mengalahkan ganda putra nomor satu dunia dari Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, dengan cara yang lebih mudah dan lebih mulus ketimbang saat mengalahkan Liang/Wang.
Walau tetap menampilkan diri sebagai pasangan yang lebih percaya diri dan lebih tangguh daripada lawannya, dalam final, Leo/Daniel dipaksa melalui pertandingan yang paling alot yang mereka lakukan dalam kiprahnya pada nomor perseorangan Asian Games ini, dengan waktu 1 jam dua menit untuk menang 19-21, 21-13, 21-18.
Hampir menyelesaikan gim pertama dengan kemenangan, Leo/Daniel disusul ganda China ketika memimpin 19-18 guna balik dikalahkan Liang/Wang dengan 19-21.
Namun pada gim kedua, mereka tak mau lagi membiarkan diri mereka melakukan banyak kesalahan, dan sebaliknya memoles diri untuk tampil lebih sempurna, baik dalam bertahan maupun menyerang. Aksi Leo/Daniel membuat Liang/Wang mati kutu hingga menyerah dalam selisih poin sangat jauh, 13-21, dalam tempo 16 menit.
Sejak unggul 5-4 pada gim itu, perolehan poin Leo/Daniel tak pernah bisa disamai Liang/Wang, hingga dengan terjadi marjin sangat lebar untuk ganda putra kelas dunia, delapan poin.
Pada gim ketiga, Leo/Daniel dipaksa bermain lebih alot sampai memakan waktu paling lama sebanyak 23 menit. Walau begitu, Leo/Daniel tetap tak pernah bisa diimbangi dan disalip oleh Liang/Wang sejak memimpin 2-1 pada gim pamungkas tersebut.
Selain ganas di depan net, tangguh dalam bertahan, dan visioner dalam bergerak dari titik ke titik di daerah permainannya, juga tampil menawan dengan gerakan-gerakan akrobatiknya.
Gerakan akrobatik nan heroik yang paling memukau adalah saat Leo mengembalikan bola ketika tubuhnya sudah terjatuh, yang untungnya gagal dijangkau Wang yang juga sambil menjatuhkan diri di sisi kanan permainan mereka, sehingga Indonesia memimpin 17-13.
Leo kembali menampilkan gerakan akrobik ketika mengembalikan smes Lian dengan backhand di antara kedua kakinya, untuk membuat kedudukan 18-13.
Sempat didekati Liang/Wang pada kedudukan 18-17 dan kemudian 19-18, ganda putra yang baru dipasangkan lagi sejak April 2026 itu tak lagi memberi ruang dan ampun kepada China. Mereka menang tiga poin terakhir gim ketiga guna menang 21-18.
Sehari sebelumnya, Fajar Alfian meminta Leo/Daniel membalaskan kekalahannya dari ganda putra China itu dalam semifinal, yang tadinya diharapkan membuka jalan untuk All Indonesian Final dalam ganda putra Asian Games 2026.
Liang/Wang tidak saja mengalahkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dalam nomor perseorangan, tapi juga final beregu putra yang membuat Indonesia tertinggal 0-2. Sedangkan Leo/Daniel merupakan pasangan ganda yang membuat beregu putra menyamakan 2-2 melawan China dalam final beregu yang dimenangkan Indonesia 3-2.
Lebih dari sekadar juara
Leo/Daniel tidak saja menyanggupi permintaan Fajar, tetapi juga memberi lebih luka yang jauh dari sekadar mengalahkan Liang/Wang.
Mereka juga membunuh impian China mendapatkan lebih dari dua medali emas dari bulu tangkis Asian Games 2026, dan kemunduran besar karena tak berhasil mendapatkan medali emas dari sektor putra.
Sebaliknya, Leo/Daniel membuat Indonesia menyamai pencapaian China dan Korea Selatan, sebagai tiga negara yang mendapatkan dua medali emas dari Asian Games di Prefektur Aichi, Jepang ini.
China mendapatkan dua medali emas dari beregu putra dan ganda campuran. Korea Selatan mendapatkan dua emas juga, tapi dari ganda putri dan tunggal putri.
Akan halnya Indonesia, kontingen Garuda mendapatkan dua medali emas dari beregu putra dan ganda putra, setelah Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah nyaris mempersembahkan emas ketiga Indonesia dari bulu tangkis karena kalah dari ganda campuran China.
Leo/Daniel juga menyempitkan selisih kemenangan head to head atas Liang/Wang yang mantan nomor satu dunia, menjadi 2-3 dari total lima pertemuannya dengan ganda putra China itu.
Leo/Daniel juga berhasil mengulang pencapaian Asian Games 2018 ketika terakhir kali Indonesia mendapatkan dua medali emas dari bulu tangkis, yang waktu itu dipersembahkan oleh Jonatan Christie dari tunggal putra dan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dari ganda putra.
Mereka juga telah melestarikan dominasi ganda putra Indonesia dalam delapan dari 12 edisi Asian Games terakhir sejak Asian Games 1974 ketika Tjun Tjun/Johan Wahjudi menjadi ganda putra pertama Indonesia yang meraih medali emas Asian Games.
Penampilan, kinerja dan sumbangsih Leo/Daniel memang pantas dianugerahi lebih dari sekadar medali emas. Mereka nyaris tampil konsisten dalam total delapan pertandingan yang mereka ikuti selama Asian Games 2026.
Mereka hanya kalah sekali dari Aaron Teng Fong Chia/Tee Kai Wun dalam nomor beregu ketika mereka menyerah 21-17, 16-21, 13-21 kepada ganda putra Malaysia itu.
Tetapi selama tampil dalam nomor perseorangan, Leo/Daniel begitu dominan atas lawan-lawannya, dengan selalu menang dua gim sejak babak pertama, termasuk kala menumbangkan ganda nomor satu dunia, Kim Won Ho/Seo Seung Jae.
Hanya Liang/Wang yang lebih mempersulit Leo/Daniel untuk mempersembahkan medali emas ketiga Indonesia dalam Asian Games 2026.
Kerja keras dan penampilan Leo/Daniel yang nyaris sempurna tapi menelurkan hasil yang sempurna ini sungguh membanggakan Indonesia dan oase untuk dahaga medali emas tim Merah Putih. (ant)





