Benteng Amsterdam, Saksi Bisu Kejayaan Rempah di Negeri Hila, Maluku

Senin, 18 Mei 2026
Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku. (ANTARA)
Dengarkan dgn suara Siap
3.3K pembaca
MALUKU TENGAH  (Kabarpublik.id) – Sekitar satu jam perjalanan naik mobil dari kota Ambon, Anda bisa melihat jejak sejarah yang masih berdiri tegak: Benteng Amsterdam.

Dibandingkan perjalanan di ibu kota Jakarta yang terasa panjang akibat macet, jarak yang ditempuh untuk tiba dari pusat kota Ambon ke Benteng Amsterdam memang cukup jauh: 42 km.

Dari keramaian bangunan perkantoran, restoran, toko kelontong, jalanan yang dilewati berubah menjadi jalan kecil berliku. Suasana kota berubah menjadi rumah-rumah pedesaan yang berjejer rapi. Sekilas terlihat warga berjualan ikan, menawarkan hasil melaut hari itu. Beberapa masjid juga terlihat begitu mencolok di pinggir jalan.

Berlokasi di Benteng Amsterdam siang itu ramai oleh pengunjung.

Rupanya mereka adalah rombongan berisi dosen-dosen yang sedang melakukan perjalanan wisata sejarah. Tenda biru yang lebar melindungi para tamu dari teriknya sinar matahari Maluku. Mereka duduk rapi sambil bercengkerama menunggu pertunjukan bambu gila yang dilakukan di depan Benteng Amsterdam.

Tawa dan jerit terdengar dari penonton ketika melihat rekan-rekan mereka mencoba sendiri permainan bambu gila yang membuat mereka bergerak ke sana sini. Keramaian itu hal yang biasa di Benteng Amsterdam.

“Buat masyarakat dan siapa pun dia yang mau datang ke sini bikin acara di sini, itu kami siap,” kata Damir Lating, polisi khusus cagar budaya, kepada ANTARA pada April 2026.

Menurut Damir, cagar budaya ini juga kerap menjadi lokasi acara-acara institusi seperti perpisahan pejabat hingga sosialisasi.

Sejarah panjang

Jauh sebelum dijadikan tempat berkumpul untuk acara-acara resmi, Benteng Amsterdam punya sejarah panjang.

Benteng telah berdiri sejak 1512 oleh Portugis yang dipimpin Fransisco Serrao. Awalnya, benteng ini berfungsi sebagai gudang rempah Portugis.

Nyaris satu abad setelah Portugis tiba, giliran Belanda yang memasuki Pulau Maluku pada 1605.

“Sebelum bangsa Portugis masuk Maluku, di sini sudah ada kerajaan Islam yang masuk dulu yang dikenal dengan nama Kerajaan Hitu, pusat kerajaannya di negeri Hila,” jelas Damir.

Ketika Belanda masuk, Kerajaan Hitu dan masyarakat setempat membantu Belanda untuk mengusir Portugis dari sana. Upaya mereka sukses. Gudang rempah-rempah ini beralih fungsi menjadi kubu pertahanan dan diberi nama Benteng Amsterdam.

Apa alasannya kerajaan Hitu dan warga lokal mau membantu Belanda mengusir Portugis? Kala itu, Portugis menerapkan sistem dagang monopoli. Mereka mengumpulkan rempah-rempah di Maluku secara paksa. Semua orang wajib menjual hasil seperti pala dan cengkih hanya kepada Portugis.

“Tidak ada lagi negara lain yang punya persediaan rempah yang lebih banyak seperti dia,” kata Damir.

Alasan Portugis begitu serakah mengumpulkan rempah-rempah tak lain karena pada masa itu rempah-rempah bernilai sangat tinggi, bahkan melampaui harga emas.

“Satu kilogram pala itu lebih mahal dari satu gram emas,” imbuh dia.

Maka, alasan Kerajaan Hitu dan masyarakat di Pulau Ambon membantu Belanda agar Portugis angkat kaki semata-mata karena ingin menyelamatkan cengkih dan pala yang mereka monopoli.
Benteng Amsterdam terdiri dari tiga lantai. Pada zaman Belanda, lantai pertama berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan.

Di sela penjelasan, suara ketukan palu dan kayu terdengar dari sudut ruangan. Papan-papan kayu bertumpuk di pojokan. Rupanya memang ada pemeliharaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku karena ada beberapa lembar papan kayu yang perlu diganti.

Bangunan segi empat dengan atap berbentuk limas ini masih terlihat “segar” karena memang sudah dipugar pada 1991 dengan acuan gambar dari buku Beschreiving van Ambonian karya Francois Valantyn. Struktur bangunan dan temboknya masih dipertahankan dari ratusan tahun lalu, namun kayu-kayu dan hampir semua tegel telah diganti. Jika diperhatikan secara seksama di lantai satu, terlihat jelas perbedaan tegel asli dan yang terbaru. Versi asli terlihat lebih kasar dan tidak terlalu beraturan.

Tak jauh dari pintu masuk, ada ruangan kecil di sebelah kiri. Pada masa penjajahan Belanda, ruangan ini berfungsi sebagai tempat menyimpan mesiu. Setelah Belanda hengkang dan digantikan tentara Jepang, ruangan kecil itu berfungsi jadi penjara.

Ruangan ini berseberangan dengan tangga kuning yang akan mengantarkan pengunjung ke lantai dua. Menurut Damir, lantai ini dulu difungsikan sebagai tempat tidur para perwira.

Jejak Rumphius

​​​​Dinding di lantai dua dipenuhi dengan jejeran pigura bergambar aneka ikan. Bukan sembarang dekorasi, rupanya ikan-ikan ini adalah sebagian ikan yang diteliti ahli botani Jerman bernama Georg Eberhard Rumphius. Dia bekerja untuk VOC di Ambon, Indonesia. Sebagian besar hidupnya diabdikan untuk meneliti tanaman di Ambon.

Gambar ikan yang diteliti Rumphius di Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku. (ANTARA)

“Ini adalah hasil penelitiannya di Maluku, tentang semua jenis ikan yang ada di perairan Maluku, yang kurang lebih ada sekitar 600 jenis,” kata Damir.

“Rumphius juga yang menulis tentang tsunami pertama di Maluku, pada tahun 1674.Tapi dalam catatan beliau, beliau tidak tulis kata tsunami, beliau tulis bahaya Seram, karena pusat gempanya dari Pulau Seram.”

Rumphius adalah salah satu saksi bencana alam yang menewaskan sekitar dua ribu orang, termasuk 1.200 orang di Negeri Hila.

Sebelum tiba di lantai tiga, tangga yang cukup curam sudah menanti. Setelah melangkah dengan penuh kehati-hatian, gambaran ruang pengintai masa lalu langsung terlihat.

Tembok yang tak seberapa tinggi menjadi penghalang dari pemandangan laut Maluku yang indah. Di satu sisi, kita bisa melihat Seram bagian barat. Dari benteng, tentara masa lampau bisa memantau kapal-kapal yang masuk.

Di sisi yang berseberangan dari laut, sebuah sumur (parigi) besar di tengah kebun tampak mencolok. Itu adalah sumur Rumphius yang termasuk peninggalan bersejarah.

Sumur itu juga sempat dikunjungi oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada November 2025. Kala itu, menteri sedang meninjau beberapa situs bersejarah, salah satunya Benteng Amsterdam.

Menteri sempat melontarkan keinginan untuk membangun Museum Rumphius di Ambon yang rencananya dibangun tepat di samping Benteng Amsterdam.

Saat museum itu sudah terwujud, maka perjalanan pencinta sejarah akan terasa lebih menyenangkan saat berkunjung ke Benteng Amsterdam. Tak cuma mengagumi kokohnya benteng, pengunjung juga bisa memahami keanekaragaman hayati Maluku yang memikat. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.