45 Pelaku Usaha IRTP di Kota Ternate Ikuti Bimtek Keamanan Pangan

BERITA48 Dilihat

Laporan : Yadi / Editor : YR

MALUKU UTARA [kabarpublik.id] – Sebanyak 45 pelaku usaha Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) di Kota Ternate mengikuti bimbingan teknis (Bimtek) penyuluhan keamanan pangan, bertempat di Surya Pagi, Selasa (09/7/2024).

Bimtek tersebut dilaksanakan oleh Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ternate. Agenda ini dibuka dengn resmi Kepala Dinkes Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma dengan menghadirkan lima narasumber.

Lima narasumber yang dimaksud, Sakina Sfara, Apt (BPOM Provinsi Maluku Utara). Sementara dari Penyuluh Keamanan Pangan (PKP), Apt. Ratna Angiasari Gunara, Apt. Rahni Sfarm, dan Nuraini, Skm, serta dari Districk Food Inspector (DFI) atau pengawas pangan.

Fathiyah dalam sambutannya mengemukakan, keamanan pangan bukan hanya merupakan isu dunia, tapi juga menyangkut kepedulian individu.

Ia mengatakan, jaminan akan keamanan pangan adalah hak asasi konsumen. Pangan yang aman, bermutu, dan bergizi dihasilkan dari industri rumah tangga maupun dari industri pangan.

Kepala Dinkes Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma (tengah), Kepala Bidang SDK Dinkes Kota Ternate, Muh. Asri (kanan). [Istimewa].

“Karena itu, industri pangan adalah salah satu faktor penentu beredarnya pangan yang memenuhi standar keamanan, mutu, dan gizi yang telah ditetapkan pemerintah. IRTP saat ini telah menunjukkan kemajuan yang cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dari munculnya berbagai produk olahan disamping produk pangan tradisional,” ucapnya dihadapan para peserta.

Sampai saat ini ia menyebut, jumlah IRTP yang sudah dilatih dan diterbitkan sertifikat pangan kurang lebih ada 600 IRTP. Namun harus diakui bahwa keamanan pangan tersebut masih beragam sehingga diperlukan upaya untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologi, kimia, dan benda lain yang dapat menganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.

Lebih lanjut Fathiyah, serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. Menurutnya, pangan yang tidak aman dapat menyebabkan berbagai penyakit yang disebabkan oleh pangan “Foodborne Disease”.

“Adakalanya penyakit itu di derita oleh beberapa konsumen dalam waktu bersamaan sehingga dinyatakan sebagai kejadian luar biasa atau KLB keracunan pangan atau sering dikendal dengan istilah Foodborne Disease Outbreak, yaitu suatu kejadian dimana terdapat dua atau lebih yang menderita sakit setelah mengkonsumsi pangan yang secara epidemiologi terbukti sebagai sumber penularan,” beber Kepala Dinkes.

Ia menegaskan, masalah keamanan pangan yang menjadi penyebabnya perlu ditanggani bersama, baik oleh pemerintah, produsen, dan konsumen. Produsen pangan bertanggung jawab untuk memantau keamanan pangan yang ada di sekitarnya. Sedangkan pemerintah bertanggung jawab mengatur dan mengawasi keamanan pangan yang beredar di masyarakat.

“Keadaan yang terjadi sekarang ini khususnya di Kota Ternate adalah masih ada pelaku industri rumah tangga pangan yang belum mengikuti penyuluhan dalam rangka sertifikasi produksi pangan industri rumah tangga sehingga banyak produk pangan yang beredar belum memiliki nomor P-IRT,” kata mantan DPPKB Kota Ternate.

Berdasarkan dengan hal tersebut, untuk memberikan jaminan produk yang berkualitas dan aman serta melindungi masyarakat Kota Ternate dari pemakaian produk pangan yang tidak layak untuk dikonsumsi serta dalam rangka pengawasan makanan minuman dalam wilayah Kota Ternate maka dilakukan penyuluhan dalam rangka Sertifikasi Produk Pangan Industri Rumah Tangga atau SPP-IRT.

“Serta pembinaan terhadap industri rumah tangga yang telah memiliki izin edar, dimana tujuan akhirnya memberikan keamanan pangan kepada konsumen. Kegiatan ini rutin dilaksanakn tiap tahun oleh Dinkes, dengan harapan semua produk IRTP yang beredar di Kota Ternate memiliki ijin edar dan dapat melindungi masyarakat dari produk yang tidak memenuhi syarat kesehatan,” sebut Fathiyah.

Sementara itu Kepala Bidang SDK Dinkes Kota Ternate, Muh. Asri menjelaskan, tujuan dari Bimtek ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang keamanan pangan pada 45 IRTP agar produk yang dipasarkan kepada masyarakat itu aman, bermutu, dan terjamin keamanan pangan.

“Jadi dalam kegiatan ini kami menghadirkan 45 IRTP yang belum memiliki sertifikat pangan, sehingga Dinkes menghadirkan narasumber dari BPOM untuk memberikan penguatan dan pemahaman kepada pelaku IRTP agar saat melakukan produksi produknya itu sesuai dengan standar aturan yang berlaku,” ucapnya.

Apa Reaksi Anda?
+1
0
+1
0
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Komentar