JAKARTA (Kabarpublik.id) Pasar properti Indonesia memasuki fase pemulihan yang semakin terarah dan matang. Kondisi tersebut dapat dilihat melalui aktivitas penyewa, investor, dan konsumen yang semakin memprioritaskan kualitas, nilai tambah, serta kemampuan eksekusi dibandingkan optimisme pasar secara umum.
Laporan Pasar Properti Q3 2026 yang diterbitkan Colliers Indonesia menyebut, berbagai sektor properti seperti perkantoran, hunian, ritel, logistik, dan perhotelan menunjukkan aktivitas pasar yang terus mengarah pada situasi perbaikan.
“Namun kinerja pasar properti saat ini semakin bersifat selektif dan ditentukan oleh karakteristik masing-masing aset, alih-alih mengalami penguatan yang merata di seluruh sektornya,” ujar Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia melalui siaran pers yang diterbitkan Senin (19/10).

Riset Colliers Indonesia menggarisbawahi beberapa highlight di antaranya, permintaan ruang perkantoran Jakarta mulai bergeser dari penyesuaian kebutuhan ruang menuju relokasi, perpindahan ke gedung berkualitas lebih tinggi, serta ekspansi usaha yang selektif.
Untuk tingkat penyerapan kumulatif apartemen di Jakarta sedikit menurun menjadi 87,7 persen pada kuartal ini. Penurunan tersebut lebih disebabkan oleh bertambahnya jumlah unit yang masuk dalam perhitungan pasokan, bukan oleh melemahnya permintaan pembeli.
Adapun sektor ritel Jabodetabek mulai bergeser dari strategi ekspansi untuk memperluas jaringan gerai menuju pertumbuhan yang lebih mengutamakan produktivitas dengan permintaan pada ruang pergudangan dan logistik Jabodetabek tetap berasal dari berbagai sektor, termasuk penyedia jasa logistik pihak ketiga (3PL), perdagangan elektronik, barang konsumsi sehari-hari (FMCG), ritel, dan manufaktur.
Sementara untuk permintaan kamar hotel di Jakarta semakin ditopang oleh kegiatan bisnis, penyelenggaraan acara, wisata, serta berbagai segmen komersial lainnya. Untuk permintaan sektor perhotelan Bali semakin dipengaruhi oleh kualitas wisatawan, pengalaman menginap yang berbeda dan menarik, serta pengeluaran wisatawan yang lebih tinggi.
“Kendati pemulihan semakin terlihat di berbagai sektor properti di Indonesia, pelaku pasar tidak lagi dapat hanya mengandalkan perbaikan yang bersifat siklis. Berbagai aaset dengan kinerja terbaik adalah yang mampu menyesuaikan diri dengan preferensi penyewa, pembeli, dan konsumen yang terus berkembang, serta menciptakan nilai lebih yang melampaui pertimbangan harga semata,” beber Ferry.
Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa fase pemulihan berikutnya akan semakin ditentukan bukan oleh pertumbuhan permintaan secara keseluruhan, melainkan oleh seberapa efektif pemilik aset, pengembang, dan operator dalam merespons perubahan ekspektasi penyewa dan konsumen.
“Semakin banyak keberhasilan suatu aset ditentukan oleh kualitas lokasi, efisiensi operasional, tingkat keterjangkauan, fleksibilitas, serta kemampuan dalam menghadirkan pengalaman pengguna yang berbeda dan relevan,” pungkasnya. (Y. Hanafi)





