JAKARTA (kabarpublik.id) – Pemerintah menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia mencapai sedikitnya 45 miliar dolar AS pada 2026. Target tersebut didorong oleh pengembangan industri hilirisasi yang terus meningkatkan nilai tambah komoditas mineral di dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan pengolahan sumber daya alam sebelum diekspor menjadi strategi utama pemerintah untuk memperkuat perekonomian nasional.
“Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya, Kamis (15/10/2026).
Nilai Ekspor Nikel Melonjak Berkat Hilirisasi
Bahlil menjelaskan, kebijakan hilirisasi telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan nilai ekspor nikel Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Pada periode 2017–2018, nilai ekspor nikel tercatat sekitar 3,3 miliar dolar AS. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi lebih dari 40 miliar dolar AS pada 2025.
Peningkatan itu terjadi seiring kebijakan penghentian ekspor bijih nikel dan pembangunan fasilitas pengolahan mineral di dalam negeri.
Menurut Bahlil, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah mampu meningkatkan manfaat ekonomi dari kekayaan sumber daya alam Indonesia.
Selain mendongkrak ekspor, hilirisasi juga dinilai berperan dalam memperkuat struktur industri nasional.
Pengembangan industri pengolahan membuka peluang bagi pertumbuhan sektor pendukung, meningkatkan keterlibatan pengusaha dalam negeri, serta memperluas kesempatan kerja.
Di sisi lain, hilirisasi diharapkan mendorong penguasaan teknologi dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Pemerintah Siapkan Investasi Hilirisasi 618 Miliar Dolar AS
Untuk memperluas keberhasilan hilirisasi nikel, pemerintah telah menyusun peta jalan pengembangan industri hilir hingga 2040.
Dalam rencana tersebut, pemerintah membidik investasi sebesar 618 miliar dolar AS untuk mendukung pengolahan berbagai komoditas unggulan nasional.
Program hilirisasi tidak hanya difokuskan pada sektor mineral dan batu bara, tetapi juga mencakup minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, serta pertanian.
“Saya ingin menyampaikan bahwa master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040 target kita mencapai 618 miliar dolar AS,” kata Bahlil.
Melalui peta jalan tersebut, pemerintah berupaya memperluas pengembangan industri berbasis sumber daya alam sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah.
Hilirisasi Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Global
Pemerintah memandang keberhasilan hilirisasi nikel sebagai salah satu contoh transformasi ekonomi berbasis peningkatan nilai tambah.
Dengan mengembangkan industri pengolahan di dalam negeri, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu meningkatkan perannya dalam rantai pasok industri global.
Strategi tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi, memperluas pasar ekspor, dan menciptakan lebih banyak peluang usaha bagi pelaku industri nasional.
Pemerintah pun terus mendorong investasi pada sektor pengolahan sumber daya alam agar pertumbuhan industri memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.





