(Catatan dari Obrolan Pakar Dewan Riset Daerah Provinsi Gorontalo)
Dr. Aryanto Husain (Anggota DRD Provinsi Gorontalo)
MENARIK tema obrolan pakar pada malam itu. Kesejahteraan masyarakat dan guncangan perubahan iklim! Tema bernada provokatif ini menyiratkan betapa seriusnya dampak perubahan iklim terhadap kesejahteraan masyarakat. Perubahan iklim bahkan dianggap sebagai silent tsunami yang dapat merusak kehidupan.
Bumi memang makin panas. Efek rumah kaca yang memerangkap emisi CO2 semakin meningkatkan suhu bumi. Menipisnya lapisan ozon semakin memperparah. Intensitas radiasi sinar matahari sampai kebumi meningkat berkali-lipat membuat permukaan bumi melepaskan gelombang panas. Akibatnya, iklim menjadi tidak tentu (climate change) dan menyebabkan kemarau berkepanjangan.
Kemarau ternyata mengkonfirmasi sifat merusak yang dimiliki manusia. Alih-alih menjaga lahan, masyarakat justeru membakar lahan untuk membuka lahan baru selama musim kemarau, Meskipun bisa memicu kebakaran pada areal permukiman, kondisi ini banyak diabaikan. Jurnal Nature Climate Change melaporkan ulah manusia ikut mempengaruhi perubahan iklim yang berlangsung selama beberapa dekade. Manusia membakar bahan bakar fosil, seperti minyak, batu bara, dan gas. Semua itu melepaskan karbon dioksida (CO2), metana, dan gas lainnya ke atmosfer, dan lautan. Akibatnya terjadi gas rumah kaca yang paling bertanggung jawab untuk pemanasan global.
Sikap kita terhadap perubahan iklim ditandai oleh respons parsial, tidak substansial, dan bahkan cenderung hanya berupa reaksi dan aksi yang sifatnya formalitas belaka. Sampai hari ini, Amerika tak kunjung meratifikasi Protokol Kyoto. Pertemuan-pertemuan internasional yang membahas perubahan iklim justeri diwarna pemborosan energy dan polusi. Kita bisa menghitung berapa banyak emisi gas CO2 yang berpengaruh besar terhadap gas rumah kaca dibuang pesawat-pesawat jet saat para Kepala Negara menghadiri konferensi perubahan iklim. Beberapa negara bahkan belum memasukkan variabel perubahan iklim sebagai dasar pertimbangan untuk merumuskan program pembangunan yang signifikan dalam menghadapi ancaman perubahan iklim. Hasilnya, solusi terhadap perubahan iklim hanya menjadi jargon semata. What a paradox!
Paradoks perubahan iklim adalah implikasi kegagalan perilaku. Kondisi ini adalah bias psikologis yang menyebabkan kita membuat pilihan yang justru bertentangan dengan kepentingan utama. Dalam bukunya Thinking Fast and Slow, pakar ekonomi perilaku Daniel Kahneman mengatakan manusia memiliki dua sistem pemikiran yaitu sistem respon otomatis alami (intuitif dan irasional) dan sistem reflektif kompleks (penuh kesadaran). Umumnya, kita sering menganggap diri rasional dan mengambil keputusan-keputusan berdasarkan rasionalitas. Faktanya, kita justeru sering bertindak irasional dalam mengambil keputusan yang akan diambil.
Hal ini terjadi akibat keterbatasan mengelola informasi dan menyelesaikan persoalan yang digunakan dalam memutuskan sesuatu tindakan (bounded rationality). Orang membatasi jumlah penalaran yang mereka gunakan ketika harus membuat keputusan karena ingin menghemat upaya kognitif yang diperlukan. Mereka juga tidak ingin menghabiskan waktu yang dibutuhkan menggali informasi yang diperlukan dan membuat keputusan yang optimal. Bias heuristic ini mendorong kita sering membuat keputusan berdasarkan kemudahan suatu informasi tertentu muncul dalam pikiran. Akibatnya, yang terjadi adalah paradoks-paradoks mulai dari membakar lahan, menumpang pesawat jet ke konferensi perubahan iklim, menggunakan jaket dari kulit binatang dan lain sebagainya. Pertanyaan bagaimana memperbaiki kondisi ini?
Manusia sejatinya memiliki dorongan untuk berbuat baik atau buruk. Dalam bukunya Freakonomics, Levitt dan Dubner menyebut dorongan ini sebagai insentif yang dibagi dalam insentif ekonomi, social dan moral. Kita sudah terbiasa hidup dengan perilaku yang didorong dengan insentif (incentivize behavior). Mulai dari bujukan orang tua dengan mainan agar rajin ke sekolah saat kanak-kanak hingga pemberian bonus bagi karyawan berprestasi yang disediakan perusahaan untuk merangsang produktivitas. Memberikan insentif terhadap perilaku ini juga diterapkan dalam merubah respons manusia terhadap perubahan iklim. Clean development misalnya, memperkenalkan sistim perdagangan karbon sebagai bentuk insentif terhadap pengendalian emisi karbon. Perubahan perlaku juga dirangsang dengan mendorong kehidupan yang pro terhadap lingkungan (ecological lifestyle). Insentif yang digunakan misalnya membuat malu mereka yang belum menggunaan produk yang eco-friendly. Starbucks mengantisipasinya dengan menggunakan penutup gelas sippy cup untuk mengganti sedotan. Pendekatan serupa dilakukan Richard Thaler, pemenang Nobel ekonomi 2017. Dalam bukunya yang terkenal, Thaler memperkenalkan teori βNudgeβ dalam mengarahkan orang ke arah keputusan yang lebih baik dengan menghadirkan pilihan tepat dengan cara yang berbeda.
Teori ini sangat aplikatif dalam mengubah perilaku secara efektif. Kekuatannya pada pemberian pancingan, sehingga secara psikologis orang akan terdorong memilih yang tepat dan terbaik tanpa merasa disuruh. Pada kasus local, teori ini dapat diaplikasikan untuk membersihkan sampah yang semakin banyak teronggok didalam parit dan saluran. Pemda misalnya dapat merangsang partisipasi masyarakat dengan memperbaiki tempat sampah dan manajemen pengangkutan sampah. Teori Nudge dan incentivize behavior justeru efektif diterapkan dalam skala kecil seperti ini.
Perubahan iklim masih akan terus terjadi seiring dengan akumulasi aktivitas bumi. Suhu rata-rata global untuk 10 bulan pertama tahun 2018 sekitar 1,8 derajat. Kondisi ini jauh melebihi yang terjadi di akhir 1800-an saat pertumbuhan industri mulai mengeluarkan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer. Dampak sangat buruk khususnya pada sektor keamanan pangan dan sektor perikanan; mengubah pola tanam mengakibatkan gagal panen; mengubah arus laut dan menyebabkan pengasaman laut, sehingga menurunkan hasil tangkapan ikan. Pertanyaannya, apakah kita akan terus berdiam diri terperangkap dalam paradoks perubahan iklim? Atau mulai belajar memahaminya dan memperbaiki kegagalan perilaku. Bumi memang semakin tua, dan andil kita membuatnya makin renta.##





