Laporan : Ifan Saluki
Editor : YR
GORONTALO [kabarpublik.id] – Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Dr. H. Zulkarnain Suleman, M.HI secara resmi melepas 767 Peserta Kuliah Kerja Sosial Tematik (KKST) tahun 2024, Senin (29/01/2024).
Dalam sambutannya, Rektor Zulkarnain Suleman mengatakan bahwa KKST ini menjadi salah satu kegiatan penting dalam kurikulum pendidikan di IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Program ini kata dia, dirancang untuk memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa, memperluas wawasan mereka, serta membentuk keterampilan sosial yang mendalam.

“KKST ini menjadi langkah nyata untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama studi. Kami berharap pengalaman ini dapat membuka wawasan mereka dan membentuk keterampilan sosial yang berharga,” ungkap Rektor.
Rektor Suleman berharap agar para peserta KKST dapat mengoptimalkan peluang ini untuk meningkatkan pemahaman mereka dalam konteks pelayanan sosial.
Dirinya juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
“Saya berharap para peserta dapat menjaga kebersamaan serta mampu memberikan manfaat dan kontribusi positif kepada masyarakat secara umum,” harap Rektor.
Selain itu, Rektor juga mengingatkan para peserta KKST agar bisa menempatkan diri untuk tidak terlibat dalam politik praktis.
“Saat ini kita sudah masuk pada tahun politik. Olehnya itu saya ingatkan peserta KKST untuk tidak terlibat dalam politik praktis. Kita fokus pada pelayanan sosial, jauhi politik praktis, dan jaga integritas sebagai agen perubahan positif,” pesan Rektor Zulkarnain Suleman kepada para peserta KKST.
Sebagai informasi, para peserta KKST ini akan ditempatkan di wilayah Kabupaten Boalemo, Gorontalo, dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara.
Total Desa yang akan diisi oleh peserta, yakni 45 desa di Kabupaten Boalemo, Gorontalo, dan 40 desa di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara.
Dengan tema “Masjid Hebat,” diharapkan KKST tahun ini dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat setempat. Tema ini tidak hanya merujuk pada fungsi ibadah, tetapi juga menggambarkan masjid sebagai pusat kegiatan sosial yang berdaya guna untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat.





