JAKARTA (kabarpublik.id) – Kolonel Sus DR. H. Muttaqin, M, Ag menjadi imam dan khotib di Lapangan SMP 20 Bulak Rantai Jakarta Timur, Sabtu, 21/3/2026. Acara yang dihadiri Wakil Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Letjen TNI (Purn) Lodewijk Fredrick Paulus tersebut mengangkat tema “Kejujuran Modal Utama Keberkahan Dunia dan Akherat.
Dalam khutbahnya Kolonel Muttaqin yang kesehariannya menjabat sebagai sekretaris Dinas Pembinaan Mental Angkatan Udara (Sesdis Bintalau) menyampaikan bahwa Ramadhan adalah madrasah kejujuran yang paling agung, saat kita sendirian di kamar yang terkunci, dan tidak ada seorangpun yang melihat, kita tetap tidak berani menyentuh setetes air pun. Mengapa, karena kita jujur dan yakin bahwa Allah Maha Melihat. Pertanyaannya apakah kejujuran itu akan tetap tinggal di tempat ini, ataukah ia akan ikut pulang ke rumah, ke kantor, dan ke pasar bersama kita?
Menurutnya kejujuran bukan sekadar basa-basi moral. Kejujuran adalah modal utama untuk menjemput keberkahan dunia dan akhirat. Tanpa kejujuran, harta yang melimpah hanyalah tumpukan jerami yang menunggu percikan api neraka. Tanpa kejujuran, kesuksesan kita hanyalah fatamorgana yang menipu diri sendiri, imbuh Muttaqin.
Lebih lanjut orang nomer dua di Disbintalau tersebut menambahkan di zaman yang penuh fitnah ini, kita sering mendengar bisikan syetan: “Kalau jujur, kamu tidak akan kaya. Kalau tidak menipu sedikit, kamu akan rugi.”
Muttaqin mengatakan dunia boleh saja menganggap kejujuran sebagai keanehan, keluguan atau kebodohan. Namun ingatlah, dunia ini hanya sekejap mata. Di padang Mahsyar nanti, tidak ada yang laku kecuali hati yang bersih dan lisan yang jujur. Bayangkan jika maut menjemput kita saat kita sedang merangkai kebohongan. Bayangkan betapa malunya kita bertemu Allah membawa harta yang didapat dari jalan yang tidak jujur dan haram.
Di akhir khutbahnya Ustadz Muttaqin menekankan bahwa ramadhan adalah momentum untuk melepaskan segala topeng kepalsuan. Jangan biarkan pakaian kita putih bersih hari ini, sementara lisan kita masih penuh tipu daya. Jangan biarkan kita bersalam-salaman dengan tangan yang masih gemar mengambil hak orang lain secara tidak jujur. Mari kita pulang ke rumah dengan identitas baru: menjadi pribadi yang jujur, tidak curang, tulus dan ikhlas. Jujur dalam berdagang, jujur dalam bekerja, jujur dalam berjanji, jujur dalam keluarga dan yang paling utama adalah jujur kepada Allah SWT., paparnya.





