Laporan : Endang Suherli (JMSI), Editor : Mahmud Marhaba
BANDUNG [KP] – Wabah Covid 19 menjadi sangat menakutkan sepanjang sejarah dengan berbagai macam virus yang sudah terjadi. Pandemi Corona semakin menjadi dan tidak terkendali. Dampak ekonomi salah satu kekhawatiran masyarakat menjadi jadi mewabah hingga takut kehilangan pekerjaan.
Kepala Bidang Manajemen Tansportasi dan Parkir Dishub Kota Bandung, Khairul Rizal dalam keterangan nya menjelaskan jika hasil survey lebih besar mereka takut kehilangan pekerjaan ketimbang wabah Covid.
“Survei selama PSBB Bandung, 62 persen warga takut kehilangan pekerjaannya di banding penyakit Covid-19 dengan menggunakan metode Road Side Interview (RSI),” kata Khairul Rizal.

“Adapaun survey dilakukan di delapan titik pemeriksaan kendaraan selama PSBB. Dari setiap titik diperoleh 30-40 responden dengan total berjumlah 310 responden. Sedangkan status pekerjaan responden antara lain wirausaha sebesar 37 persen, karwayan swasta 32 persen, buruh lepas 13 persen, lainnya 8 Persen, PNS, TNI, POLRI masing-masing 7 Persen,” bebernya.
Dalam survei ini Khairul Rizal mengatakan petugas menghentikan kendaraan lalu mewanwancarai langsung pengemudi. Selain itu, pengemudi juga diminta mengisi sejumlah pertanyaan di formulir yang sudah di siapkan.
Lanjut Rizal, tujuan perjalanan masih didominasi oleh orang yang hendak bekerja yaitu sebanyak 46 persen, sedangkan belanja 18 %, pulang ke rumah 16 %, dan sisanya variatif.
“Hasilnya sekitar 62 persen responden khawatir kehilangan pekerjaan. Sedangkan 26 Persen khawatir pengahasilannya berkurang hanya ada 10 persen yang khawatir tertular virus dan 2 persen yang khawatir mati,” kata Rizal sambil mengatakan jika survei berasal dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang) Kota Bandung.
Ditambahkannya, durasi keluar rumah responden yang kami survey lebih dari 6 jam terdapat 75 persen, sisanya dibawah dua jam,” tambah Rizal.
Menariknya dari survey tersebut terungkap jika sebagian besar responden telah mengethaui PSBB, 81 persen yang mengetahui aturan PSBB, sementara sisanya mengakui belum mengetahuinya.
Selain survei tersebut, Dishub Kota Bandung Counting pada delapan titik pemeriksaan dan pintu tol, hasilnya selama PSBB diberlakukan, terjadi penurunan kendaraan masuk Kota Bandung rata-rata sekitar 13 persen. Meskipun peningkatan kembali terjadi di hari ke 6 dan 8 PSBB dengan rata-rata kenaikan sampai 42 persen dengan dominasi sepeda motor.
Selain itu rizal menegaskan penurunan juga terjadi pada kendaraan keluar dari Kota Bandung. Penuruanan terbesar terjadi di Gerbang Tol Pasirkoja. Sebelum PSBB, kendaraan yang keluar sebanyak 7.974, sedangkan setelah PSBB menjadi sekitar 3.000-an. Di gerbang Tol Pasteur, jika sebelum PSBB kendaraan keluar 22.000-an setelah PSBB menjadi 17.000 an.

Koordiator Bidang Perencanaan, Data, Kajian dan Analisa Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung, Ahyani Ranksanagara menyatakan estimasi angka reprouduksi Covid-19 semakin mengecil. Hasil perhitungan kalangan akademisi pergerakan angka reproduksi Covid-19 sejak 22-28 April di Kota Bandung berada di angka 1,06.
“Ada angka yang diangkat oleh akademisi yaitu angka reproduksi kemampuan orang menularkan dalam populasi, kalau angka itu di atas 1, itu kecil masih bisa dikendalikan. Namun, jika di bawah 1 berarti berhenti,” katanya.
Ahyani menjelaskan, kecilnya angaka reproduksi ini menjadi indicator Gugus Tugas Covid 19 di Kota Bandung mampu mengendalikan dan menekan risiko jangkaun penularan virus. Kalau tanpa intervensi itu bisa 2.5 ke 4 orang, jadi satu yang positif itu ditular ke 4, lalu 4 ke 16 lalu ke 64 lalu ke 374 orang, itu bias menular dengan waktu cepat. Tapi dengan dibatasi reproduksi 1 ini resiko penularannya hanya kesatu saja.
“Penurunan angka reproduksi di masa PSBB tak lantas bias dikorelasikan pada penurunan jumlah kasus positif. Sebab, masuknya data kasus pada saat itu bias jadi merupakan hasil pemeriksaan ketika sebelum PSBB diberlakukan,” kata Ahyani.
“Jadi seperti kita ketahui, kalau seseorang didiagnosis positif melalui masa inkubasi 14 hari. Artinya kalau masa PSBB didiagnosa positif, sebetulnya itu terinfeksi sebelumnya. Jadi kita tidak boleh mengartikan setelah PSBB itu hasilnya positif banyak, bisa jadi itu perjalanan dari masa inkubasi sebelumnya, “ paparnya.#[KP]







