RUTENG (kabarpublik.id) – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh meminta pemerintah mempercepat penanganan trauma dan pemenuhan layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak gempa bumi berkekuatan 7,7 SR di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Nihayatul, pemulihan psikologis kelompok rentan, terutama anak-anak, harus menjadi prioritas dalam penanganan pascabencana. Selain itu, pemerintah perlu mencegah penyebaran penyakit di lokasi pengungsian yang memiliki keterbatasan air bersih, sanitasi, dan fasilitas kesehatan.
Hal tersebut disampaikan Nihayatul saat melakukan kunjungan kerja Komisi IX DPR RI ke Ruteng, NTT, Jumat (21/8/2026).
“Persoalan terbesar pascabencana ini adalah trauma. Bahkan, terdapat laporan dari bupati mengenai adanya masyarakat, termasuk anak berusia 11 tahun, yang meninggal dunia akibat syok. Karena itu, intervensi trauma healing harus segera dilakukan,” tegas Nihayatul.
Politikus Fraksi PKB itu mendorong seluruh pemangku kepentingan memberikan pendampingan psikologis secara khusus kepada anak-anak korban gempa. Pendampingan tersebut dinilai penting agar anak-anak dapat kembali menjalani aktivitas, membangun motivasi, dan melanjutkan pendidikan meski fasilitas akibat bencana masih terbatas.
“Di samping penanganan psikologis, kondisi pengungsian yang serba terbatas membuat ketersediaan air bersih dan kualitas makanan berdampak langsung pada kerentanan fisik para korban,” ujarnya.
Antisipasi Penyakit di Pengungsian
Nihayatul juga meminta kementerian dan lembaga terkait meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya penyakit setelah bencana. Hal itu menyusul laporan awal mengenai gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah terdampak.
Menurutnya, kondisi pengungsian yang padat dengan fasilitas sanitasi terbatas dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Karena itu, koordinasi antarlembaga perlu diperkuat untuk memastikan kebersihan, sanitasi, ketersediaan air bersih, dan pemantauan kesehatan pengungsi berjalan secara rutin.
Ia juga meminta bantuan kepada korban tidak hanya berfokus pada kebutuhan pangan. Asupan vitamin dan kebutuhan penunjang kesehatan perlu dipastikan tersedia untuk membantu menjaga kondisi fisik para pengungsi.
“Imun masyarakat tentu perlu kita pikirkan. Jadi, alokasi bantuan tidak sekadar pada makanan pokok, tetapi kita juga harus menyiapkan asupan vitamin yang didistribusikan dengan baik agar daya tahan tubuh para pengungsi lebih kuat terhadap ancaman penyakit,” pungkasnya.





