JAKARTA (kabarpublik.id) – Ekspektasi untuk mendapatkan kekayaan dalam waktu singkat menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan literasi investasi dan keuangan generasi Z. Karena itu, edukasi investasi dinilai perlu menekankan pentingnya proses, disiplin, dan konsistensi dalam membangun kekayaan.
Head of Investment Specialist PT Syailendra Capital Syanne Gracetine Polii mengatakan generasi muda perlu memahami bahwa membangun kondisi finansial yang kuat membutuhkan waktu dan tidak bisa hanya berorientasi pada keuntungan cepat.
“Kita harus mengakui bahwa sekarang itu persaingan dalam era di mana anak muda fokusnya kaya cepat,” kata Syanne dalam Syailendra Media Talks bertajuk “Gold 360°: One Asset, Four Perspectives” di Jakarta, Senin.
Menurut Syanne, pesan mengenai investasi jangka panjang menghadapi tantangan dari banyaknya informasi keuangan di media sosial yang sering menampilkan peluang memperoleh keuntungan dalam waktu singkat.
Paparan informasi tersebut berpotensi membuat sebagian investor muda mengabaikan proses membangun kekayaan secara bertahap. Oleh sebab itu, generasi muda perlu memiliki pola pikir yang mampu mempertimbangkan dampak keputusan keuangan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Syanne mengatakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat dan konsekuensi dari setiap keputusan finansial.
“Kalau dari pribadi saya yang juga pernah merasakan struggle nominal investasinya terbatas, selalu pakai pertimbangan pain and gain,” ujarnya.
Menurut dia, pola pikir tersebut dapat membantu seseorang menentukan prioritas ketika harus memilih antara memenuhi kebutuhan atau keinginan saat ini dan mempersiapkan kondisi finansial di masa depan.
“Pertanyaan antara memilih masa kini dan masa depan sebenarnya itu dua hal yang memang harus diperjuangkan, harus dicicil, harus ada pengorbanan masing-masing,” katanya.
Ia menilai edukasi investasi juga perlu memberikan pemahaman bahwa membangun kekayaan merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Literasi keuangan tidak cukup hanya mengenalkan berbagai produk investasi, tetapi juga harus membentuk kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan sesuai kebutuhan dan tujuan finansial.
Syanne mendorong penguatan edukasi melalui kanal yang dekat dengan generasi muda, seperti media sosial, konten digital, podcast, dan berbagai kegiatan yang menghadirkan edukator maupun praktisi keuangan.
“Kita harus fokus memperkuat juga literasi melalui sosial media, melalui event-event, melalui konten, mengundang edukator melalui podcast untuk sharing pengalaman mereka building wealth dalam jangka panjang,” katanya.
Literasi Keuangan Gen Z Meningkat
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks literasi keuangan kelompok usia 18–25 tahun mencapai 73,32 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan kelompok usia tersebut berada di level 95,69 persen.
Secara nasional, indeks literasi keuangan 2026 tercatat sebesar 69,57 persen dan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang masing-masing berada pada 66,64 persen dan 92,74 persen.
OJK menjelaskan bahwa pengukuran literasi keuangan dalam SNLIK mencakup pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku. Sementara itu, indeks inklusi keuangan mengukur tingkat penggunaan produk dan layanan jasa keuangan.
Untuk memperkuat literasi keuangan, OJK mencatat telah menggelar 3.228 kegiatan edukasi yang menjangkau 11,31 juta peserta sepanjang 1 Januari hingga 23 Juli 2026.
Hingga 30 Juli 2026, kanal edukasi digital Sikapi Uangmu juga telah menerbitkan 227 konten dengan jumlah penonton sekitar 2,15 juta.
Selain itu, OJK bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan LPS menjalankan program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026.
Salah satu kegiatan program tersebut pada Agustus 2026 memberikan edukasi kepada 3.500 anggota Pramuka mengenai kebiasaan menabung, pengelolaan uang secara bijak, serta pentingnya mempersiapkan kebutuhan dan tujuan keuangan sejak usia muda.





