oleh

Sang Engku Itu pun Telah Tiada

-TOKOH-70 views

Penulis : Komisaris Harian Rakyat Maluku H. Ahmad Ibrahim

Kematian itu ibarat pintu. Setiap orang akan melewatinya. Dan pintu itu telah dilalui oleh ayah kami tercinta H.Djafar Ibrahim. 

Usai azan Subuh pukul 05.30 WIT, Senin, 19 Juli 2021 tadi, beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya menghadap Sang Khalik di usianya ke-81 di kediamannya di Ternate. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Inilah hari yang oleh riwayat sebagaimana dikutip dalam Kitab Ibnu Katsir sebagai hari istimewa sebab bertepatan dengan Hari Arafah 9 Dzulhijjah 1442 H. Hari dimana puncak pelaksanaan wukuf di Padang Arafah bagi jamaah haji. 

Hari dimana Rasulullah Muhammad SAW mengakhiri masa tugasnya dalam menjalankan Risalah Islam yang dikenal haji wada atau haji perpisahan.

Kepergian sang ayah ini bagi kami tentu merasa kehilangan. Sebab selama ini beliau adalah tempat berkeluh-kesah, meminta pendapat, nasehat, dan doa.

Kepergiannya begitu mendadak. Selama ini tidak ada keluhan kecuali kakinya yang sering sakit. Seolah tak mau membebani kepada anak dan keponakan yang selama ini merawatnya almarhum selalu bersikap tegar. 

Walau di tengah keterbatasan kakinya yang sakit itu pikirannya tetap “menerawang” ke mana-mana. Instingnya sangat tajam. Ia selalu mengikuti perkembangan berita melalui radio kesayangannya. 

Pun televisi. Juga surat kabar. Dari soal isu politik, sosial, dan budaya. Dari lokal hingga nasional. Salah satu kebiasaan yang sudah dimulainya sejak ia duduk di bangku sekolah hingga di usianya yang senja.

Kondisi kesehatannya memang mulai berubah sejak pekan lalu. Sejak beliau mendapat kabar sang kakaknya Mahmud Ibrahim (86) meninggal dunia di kampung. Sejak itu kondisi kesehatan ayah saya mulai menurun. Stamina dan wajahnya ikut berubah. Pun saat berkomunikasi tak lagi mendapat respon balik.

Dari delapan bersaudara tinggal mereka bertiga. Kini setelah kakaknya meninggal disusul ayah saya yang wafat tadi pagi berarti tinggal satu yang masih hidup yakni sang bungsu: Sitti Zulaeha Ibrahim.

Ayah saya dilahirkan di sebuah desa nun jauh di Kecamatan Loloda Kepulauan, tepatnya di Pulau Doi, Desa Dagasuli, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Ia dilahirkan dari seorang ayah bernama Ibrahim Kotadadi dan ibunya Saleha Ngawi, tanggal 25 Agustus 1940.

Ayah beranak tujuh dengan 24 cucu dan satu cicit itu semasa hidup tak henti-hentinya mendoakan keselamatan anak dan cucu beserta keluarganya karena itu beliau selalu meminta kami untuk terus berdoa dalam bekerja. Pun shalat lima waktu tak boleh ditinggalkan.

Datang dari keluarga sederhana, ayah kami memang sudah merasakan hidup susah sejak duduk di bangku sekolah. Kehidupan yang serba terbatas menuntut beliau harus bekerja keras. 

Untuk ke sekolah di sebelah kampung tetangga Desa Dedeta, tahun 1951, misalnya, beliau harus berjalan kaki tanpa alas kaki. Semangat ingin berubah di tengah keluarga yang serba terbatas itulah mendorong beliau untuk hijrah dari tanah kelahirannya mengikuti pendidikan lanjutan di Tobelo dan Ternate.

Untuk menjangkau Tobelo dan Ternate ia ditemani sang ayah Ibrahim Kotadadi — mereka harus menyeberangi lautan lepas dengan perahu sampan. Berhari-hari terombang-ambing di atas laut. 

Bila bekal makanan dan minuman habis mereka harus menepi di bibir pantai sembari mencari buah-buahan atau apa saja yang bisa mengganjal perut.

Ya, itulah semangat ingin berubah membuat ayah kami pantang menyerah. Untuk mengongkosi biaya hidup dan biaya sekolah beliau harus menjadi buruh tani. Sesekali jika mengisi hari libur beliau menjadi pedagang sarung Mandar dengan berjalan kaki hingga ke pedalaman Kecamatan Galela sepanjang 40 Km Pp.

Kondisi inilah membuat karakter beliau sangat kuat dalam memegang  prinsip hidup serta tegas memegang komitmen dalam perjuangan dan keyakinan. 

Prinsip-prinsip hidup yang telah dibentuk dalam lingkungan keluarga Bin Syekh Abubakar dan Ibu Tjum Albaar di Kampung Falajawa, Ternate, setidaknya juga ikut mendorong beliau menjadi seorang yang tangguh.

Setamat di bangku sekolah menengah atas di Ternate begitupun saat menjadi guru di Kecamatan Galela, Maluku Utara, sang ayah ini tidak silau dengan keadaan. Sikapnya yang sederhana tetap menjadi prinsip dalam hidupnya.

Sebagai seorang guru dan kepala sekolah, banyak suka dan duka telah dialami namun tidak pernah membuat semangat pengabdiannya sebagai guru memudar. Gajinya yang kecil dan teramat sedikit begitu pun jatah beras yang tidak pernah cukup, tidak membuat ayah dan ibu kami Hajjah Saida Marsaoly mengeluh.

Cara untuk menutupi kekurangan itu adalah beliau menjadi nelayan mencari ikan di laut, sedangkan ibu kami membuat roti dan kue. Siang hari mengajar, malam hari melaut dan membuat roti. Hasil tangkapan ikan dan membuat kue itu dijual sebagai tambahan mata pencaharian.

Jatah beras yang kurang harus disiasati dengan cara menambah makanan tambahan berupa pisang atau umbi-umbian agar tercukupi selama sebulan. Pisang dan umbi-umbian itu merupakan hasil olahan di tanah garapan milik orang lain. 

Sebagai seorang guru, ayah kami juga aktif di organisasi kemasyarakatan seperti di perburuhan dan Muhammadiyah Galela. Dengan posisi itulah ia kerap bersentuhan dengan gesekan politik. 

Setiap kali musim Pemilu tiba beliau selalu menjadi sasaran “tembak” dan fitnah. Itu semua tak lepas karena kedekatannya dengan masyarakat selama ini dianggap menjadi ancaman bagi para elite politik yang ingin mendulang suara di basis Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Ketika asas tunggal Pancasila diberlakukan bagi semua partai politik oleh rezim Soeharto banyak aktivis Islam ditangkap di Jakarta hingga menimbulkan apa yang disebut dengan Peristiwa Lapangan Banteng 1982 karena menolak asas tunggal.

Peristiwa Lapangan Banten itu kemudian merembet ke Galela. Sebuah selebaran gelap yang berisi mendiskreditkan umat Islam untuk memberontak kepada pemerintah beredar. Tidak jelas dari mana selebaran itu sampai di Galela tapi tak berselang lama ada yang melaporkan ke polisi dengan tudingan ayah saya bersama tiga rekan gurunya yang lain menyebarkan. Polisi kemudian menginterogasi. 

Tak lama kemudian datang tim Pelaksana Khusus Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (LAKSUS KOPKAMTIB) dari Polda Maluku ke Galela. 

Tim bentukan Menkopolhukam Soedomo itu dibentuk khusus untuk menginterogasi orang-orang yang dicurigai berbuat subversif atau merongrong kewibawaan pemerintah.

Persoalan itu kemudian dilanjutkan hingga ke pengadilan dan oleh Jaksa M.N Umaternate mengancam dengan pasal subversif: dihukum mati, hukuman seumur hidup, dipecat dari jabatan atau di-Nusakembangan-kan. 

Bersyukur hingga usai sidang, PN Tobelo  akhirnya membebaskan ayah kami dari tuntutan hukum. Meski ada upaya banding dari jaksa namun oleh Mahkamah Agung tetap menguatkan putusan PN Tobelo.  

Di tengah usia yang terus bertambah saat itu ayah kami tak aktif lagi beraktivitas. Semenjak pensiun dan konflik sosial menerpa Maluku Utara 1999, ayah kami lebih memilih istirahat mengakhiri masa tuanya di Ternate bersama anak dan cucunya. 

Sejak ibunda kami Saida Marsaoly dipanggil Sang Khalik,  Juni 2013, beliau ingin sekali membuat kisah hidupnya itu dalam bentuk buku. Setelah kami bersaudara berembuk terbitlah buku beliau, Desember 2013. Ternyata beliau sangat tertib menyimpan dokumen dan foto-foto.

Setahun kemudian, Oktober 2014, Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) DR.H. Kasman Hi.Ahmad, M.Pd bersama sosiolog DR.Herman Oesman menginisiasi buku tersebut untuk diterbitkan oleh Lembaga Penerbit UMMU Press. 

Di buku ini juga Rektor Kasman Hi.Ahmad ikut memberikan kata sambutan. “Beliau tidak hanya sebagai pendidik, tapi juga sebagai pejuang. Semoga buku ini bisa menanamkan nilai-nilai kejuangan yang telah dirintis oleh beliau,” ujar Kasman dalam buku berjudul: Meretas Jalan di Tengah Badai, itu.

Untuk kepentingan umat, ayah kami telah “mewakafkan” buku tersebut kepada UMMU sebagai amal jariah. “Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi inspirasi dalam menatap masa depan bagi generasi kita yang akan datang,” ujarnya.

Banyak suka-duka telah dilaluinya setelah puluhan tahun mengabdi sebagai guru sejak 1960. Di tengah kehidupan bermasyarakat dan membangun hubungan kerja dengan sesama koleganya di Galela, Pulau Halmahera, ayah kami ini selalu menjaga kekerabatan. Saking dekatnya sehari-harinya beliau sering disapa “engku” dan ibu kami dipanggil “mama nyora”.

Di tengah kehidupan yang beraneka ragam itu sang “engku” bisa melintasi kehidupan lintas komunitas. Menyeberangi sungai hingga pendalaman dan melintasi lautan di pesisir pantai. Menemui kolega dan masyarakat dengan latar belakang berbeda baik suku, agama, dan ras. 

Para guru yang menjadi koleganya itu datang dari Ambon, Manado, dan Sangihe Talaud. Ada bermarga Mailoa, Oktolseja, Anu, Mathias, Talahatu, Saumtaki, Selong, Manderos, Ngantung, Papuling, dll. 

Untuk mengurusi kenaikan pangkat para guru di Ambon beliau harus meninggalkan keluarganya memakan waktu berbulan-bulan. Dengan menaiki kapal perintis KM.Baruna Bhakti dari Galela ke Ambon bisa memakan waktu tiga bulan perjalanan pergi-pulang mengikuti jalur kapal yang harus menyinggahi pulau-pulau di Maluku.

Dalam hubungan kerja antara atasan dan bawahan pergaulan mereka seolah tak ada batasan dengan para guru yang tinggal di pedalaman atau di kawasan pesisir. 

Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain meski kadang-kadang juga menyeret beliau pada hiruk-pikuk politik oleh elite politik dalam rangka meraup kantong-kantong suara menjelang Pemilu. Menghadapi kondisi semacam itu sebagai guru ayah kami tetap istiqomah pada perjuangannya.    

Dari tangan beliaulah sebuah peradaban generasi masa depan nun jauh di Jazirah Utara Pulau Halmahera telah beliau tanamkan.

Menanggapi terbitnya buku ayah kami 2014 lalu, sosiolog UMMU DR.Herman Oesman menilai beliau tidak saja sebagai pendidik tapi juga sebagai pejuang.

“Setelah membaca resensi buku: “Meretas Jalan di Tengah Badai,” Dari Dagasuli, Meretas Politik dan Pendidikan oleh Dr. Herman Oesman meneguhkan keyakinan saya bahwa sebuah biografi tidak harus terpusat pada orang-orang besar, tapi juga lahir sosok orang biasa yang begitu istimewa,” begitu komentar Abdul Malik, pengamat sosial dan budaya di Ternate.

Karena hidup adalah pilihan, kata Malik, tentu kita semua harus belajar, apakah mau memilih jadi orang biasa yang biasa-biasa saja, atau orang biasa yang istimewa seperti H. Djafar Ibrahim.

Kisah inspiratif bagi generasi muda harus mendorong kita agar tidak gampang menyerah. “Karena untuk memilih menjadi manusia istimewa maka konsekuensi  berat selalu menghadang. Itu artinya kita berhadapan dengan besarnya resiko, seperti kisahnya menolak berkampanye untuk Golkar pada masa Orde Baru itu,” ujarnya. 

Untuk menjadi orang biasa yang istimewa, kata Malik, tentu jalannya panjang dan berliku seperti kisah yang tertuang dalam biografi H. Djafar Ibrahim ini.

“H.Djafar Ibrahim adalah sosok orang biasa yang berpikiran besar. A change Is brought about because ordinary people do extraordinary things. Kata Barack Obama perubahan terlantar karena orang biasa melakukan hal-hal yang luar biasa,” ujar Malik mengomentari terbitnya buku ayah saya saat itu.

Selamat jalan sang engku. Sang pahlawan tanpa tanda jasa.#KP

Apa Reaksi Anda?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Komentar