oleh

SERDADU KASIH: HEART “Seruan Edukasi dari IPE-14 untuk YPAC Terkasih: Help YPAC Jakarta Get Through The Pandemic”

JAKARTA[kabarpublik.id] – Masa pandemi tidak menutup kemungkinan mahasiswa untuk melakukan kegiatan perkuliahan walaupun secara daring. Sama halnya dengan perkuliahan, 18 mahasiswa-mahasiswi kelas IPE-14, dengan ketua kelas Jesslyn dan koordinator kegiatan Yandrevz, memanfaatkan masa pandemi ini lewat kegiatan sosial daring dalam rangka memenuhi Sustainable Development Goal nomor pertama (SDG 1), melalui Group Project yang merupakan bagian dari proses  perkuliahan mata kuliah (MK) Kolaborasi, MK wajib Rumpun Ilmu Kesehatan. Tujuan memenuhi SDG 1 mencakup kesetaraan di bidang ekonomi yang perlu didapatkan setiap warga. Dengan memanfaatkan teknologi dan jaringan informasi, mahasiswa-mahasiswi kelas IPE-14, dengan didampingi tutor Dr. Robiana Modjo, SKM, M.Kes, ingin memperkenalkan suatu lembaga di Jakarta yang membina dan mengembangkan potensi dan kemandirian dengan cerebral palsy (CP), yaitu YPAC Jakarta.

YPAC Jakarta merupakan organisasi nirlaba yang memusatkan layanannya dalam pembinaan potensi dan kemandirian bagi penyandang disabilitas fisik, khususnya Cerebral Palsy (CP). Penanganan disabilitas fisik di YPAC Jakarta, pada awalnya ditujukan untuk kasus polio, tetapi pada perkembangan selanjutnya penanganan beranjak pada kasus-kasus Cerebral Palsy dan masalah gangguan perkembangan, baik fisik maupun sensori.

Selama pandemi ini, YPAC Jakarta tetap berusaha menjalankan aktivitas operasionalnya dengan menerapkan protokol kesehatan. Dalam menjalankan aktivitasnya, YPAC Jakarta mengumpulkan dana operasional melalui program-program kemitraan dan kontribusi orang tua disabilitas yang mempercayakan pembinaan kemandirian putera-puterinya kepada YPAC Jakarta.

YPAC Jakarta mendedikasikan yayasannya untuk pemberdayaan disabilitas fisik khususnya cerebral palsy (CP) karena kelompok ini seringkali termarginalkan pada bidang kesehatan, melalui layanan di bidang pendidikan/edukasi (TKLB-SMALB), layanan kesehatan (terapi, layanan psikologi, klinik dan studio ortotik prostetik,layanan penitipan anak yang disabilitas (day care center) dan Unit Karya.

Kelompok cerebral palsy sebenarnya memiliki hak yang sama dengan penyandang disabilitas lain, tetapi dengan hambatan fisik yang mereka miliki, kelompok ini mengalami kesulitan dalam pemenuhan haknya, sebagai contoh adalah mereka tidak bisa hadir ke sekolah biasa, karena kondisi cerebral palsy cenderung membutuhkan alat bantu tambahan untuk mendukung proses belajar antara lain penyangga leher, pencil grasp atau mouse dan keyboard khusus dan masih banyak lagi. Sebagai kelompok dengan kondisi yang sangat rentan, kelompok CP seringkali juga mengalami kesulitan untuk menggunakan transportasi publik.

Kebanyakan dari kelompok CP merupakan CP dengan kondisi yang cukup berat dan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Meski orangtua ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah biasa, namun tidak semua sekolah dapat menerima kondisi mereka dan untuk itulah YPAC Jakarta yang memiliki sarana prasarana khusus untuk disabilitas fisik siap menerima mereka yang berkeinginan untuk memaksimalkan kemandirian dan potensinya.

Di tengah semua keterbatasan dan kondisi pandemik seperti ini pun, YPAC Jakarta tetap menaruh perhatian kepada pemberdayaan cerebral palsy, tidak berhenti membantu mereka dan terus mencari cara untuk mensubsidi anak-anak penyandang cerebral palsy yang tidak mampu,  tentunya dilakukan dengan melibatkan kepedulian masyarakat, organisasi, perusahaan dan pemerintah.

Mahasiswa kelas IPE-14 mengadakan kampanye melalui platform media sosial yang penggunanya banyak dari kalangan yang bervariasi agar dapat memperkenalkan lembaga YPAC Jakarta kepada kelompok masyarakat pengguna aktif media sosial. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain, publikasi poster dan challenge di Instagram dengan mempublikasikan konten yang interaktif agar pengguna aktif media sosial pun dapat lebih mengenal YPAC Jakarta itu sendiri.

Pertama, poster yang dipublikasikan oleh mahasiswa-mahasiswi kelas IPE-14 berisikan perkenalan singkat mengenai YPAC Jakarta dan cerebral palsy. Selain itu, poster ini juga mencantumkan link donasi dan contact person YPAC Jakarta. Berikutnya adalah berbagai challenge di Instagram. Challenge ini berupa Get to know YPAC Jakarta, TTS Instagram Story, Twibbon Instagram Story, dan Kindness Challenge. Template Get to know YPAC Jakarta berisikan fakta dan challenge true or false mengenai YPAC Jakarta. Sedangkan pada template TTS, akan menguji masyarakat mengenai pengetahuan seputar YPAC Jakarta dan cerebral palsy. Pada Twibbon Instagram Story, kami mengajak masyarakat untuk mengunggah foto mereka dengan twibbon yang sudah kami sediakan dan Kindness Challenge berisikan template mengenai hal-hal baik sederhana, tetapi berdampak besar.

Pada dasarnya, seluruh poster dan challenge tersebut diharapkan dapat memperkenalkan YPAC Jakarta kepada masyarakat luas, meningkatkan semangat berbagi kepada anak-anak penyandang disabilitas khususnya cerebral palsy di YPAC Jakarta, serta mengajak masyarakat pengguna instagram untuk ikut berkontribusi dan mendukung YPAC Jakarta.

Selain melakukan hal-hal di atas untuk mewujudkan harapan-harapan menjadi nyata, mahasiswa-mahasiswi kelas IPE-14 juga mengajak masyarakat agar dapat ikut serta berkontribusi dengan cara berdonasi untuk YPAC Jakarta. Donasi ini bertujuan untuk membantu pendanaan operasional YPAC Jakarta sehingga anak-anak penyandang cerebral palsy dapat mendapatkan pelayanan yang lebih baik untuk mereka. Donasi dapat diberikan melalui website langkahbaik.com atau rekening YPAC Jakarta.

Rangkaian kegiatan di bawah bimbingan Dr. Robiana Modjo, SKM., M.Kes, tutor kelas IPE-14, diharapkan dapat membuat masyarakat luas menjadi lebih menyadari bahwa ada kelompok penyandang cerebral palsy yang sebenarnya sangat membutuhkan dukungan kita. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan YPAC Jakarta kepada masyarakat luas, sebagai yayasan yang memberdayakan anak-anak penyandang cerebral palsy. Ini merupakan ajakan bagi kita semua untuk peduli kepada orang lain, bukan memandang mereka sebagai objek yang hanya membutuhkan pengobatan, tetapi sebagai sesama manusia yang perlu dikasihi dan mendapatkan kesempatan yang sama di lingkungan masyarakat.

Laporan : Tim KP Jakarta

Editor : YR

Apa Reaksi Anda?
+1
1
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Komentar

News Feed