KABGOROPINI

[OPINI PUBLIK] : “AKAR MASALAH KEMISKINAN” DI GORONTALO

Bagian 2 dari : “PANGAN NYAWA BANGSA”)

Oleh : Rustam Akili (Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Gorontalo).

KETIKA dulu, saya menjadi penguji skripsi salah satu mahasiswa ekonomi, terjadi diskusi menarik soal “content” kemiskinan. Adakah hubungan kemiskinan dengan pangan? Mahasiswa ini dengan sangat kukuh, mengajukan argumentasi bahwa kemiskinan memiliki keterkaitan erat dengan kerentanan pangan. Kerentanan pangan yang akut, menyebabkan terbatasnya konsumsi pangan, kekurangan gizi, dan kelaparan berkepanjangan, sehingga fisik petani dan masyarakat menjadi lemah, produktifitas petani pun menjadi sangat rendah. Bagi anak usia sekolah, kondisi ini cenderung berdampak pada penurunan kemampuan berpikir, daya kogntifnya sulit berkembang baik, akibat asupan gizi yang kurang. Pada akhirnya, saya pun mengerti, bahwa argumentasi mahasiswa ini, banyak dirujuk dari rekomendasi FAO (2008).

Kali ini, saya ingin menjawab pertanyaan itu, dari sudut pandang yang berbeda. Apakah sebenarnya “akar masalah” kemiskinan di Gorontalo.

Didasarkan data BPS Maret 2020, secara nasional, angka kemiskinan mengalami kenaikan sebanyak 1,28 juta orang (9,78%) dengan jumlah 26,42 juta orang. Angka kemiskinan pada tahun 2019, sebanyak 25,14 juta orang. Di Provinsi Gorontalo, data BPS Maret 2020, tercatat bahwa jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan sebanyak 310 orang menjadi 185,02 orang (15,22%) dibandingkan data pada bulan September 2019 sebanyak 184,71 orang. Komoditi makanan memiliki kontribusi terhadap garis kemiskinan di daerah perkotaan sebesar 75,22% dan di daerah pedesaan sebesar 79,76%. Persentasi ini menunjukkan bahwa lebih dari tiga per empat persen masyarakat cenderung menjadi miskin, akibat ketersediaan makanan yang terbatas. Menariknya adalah bahwa dari sebelas komoditas makanan, terdapat 24,55% masyarakat yang menjadi miskin, karena sulitnya memenuhi kebutuhan beras. Hal ini disebabkan karena Gorontalo berdasarkan data BPS Provinsi Gorontalo 2020, bahwa luas panen padi tahun 2019 seluas 49.009,95 hektar, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, yaitu 56.631,64 hektar. Hingga di titik ini, kita pun mulai mengerti bahwa masyarakat menjadi miskin, salah satunya karena sulitnya mendapatkan beras.

Di sisi lain, muncul pertanyaan baru, apakah selama ini produksi beras Gorontalo kurang? Kalau benar, apa buktinya?. Salah satu bukti yang faktual adalah Data BPS Gorontalo tahun 2020 sangat jelas menyatakan bahwa produksi beras Gorontalo tahun 2019 sebesar 128.434,50 ton, mengalami penurunan sebesar 21.301,36 ton dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 149.725,86 ton. Meskipun indikator luas panen dan produksi beras adalah salah satu indikator utama diantara indikator-indikator lainnya, tapi indikator tersebut terkait langsung dengan kebijakan pemerintah daerah dalam penanganan pangan yang cenderung tidak dikelola dengan sistem yang terpadu adalah akar masalahnya. Ini pun boleh dimaknai bahwa program “kemandirian pangan” merupakan prioritas utama dalam mengurai benang kusut akar kemiskinan di Gorontalo.

Kemandirian pangan adalah solusi mengurangi tingkat kerentanan pangan sekaligus tingkat kemiskinan. Mencegah terjadinya malnutrisi dan jumlah masyarakat yang mengalami gizi buruk. Dalam konteks ini, maka negara harus hadir untuk menjamin ketersedian pangan bagi rakyatnya. Lalu, bagaimana dengan komoditas jagung dan komoditas lainnya? Apakah hal ini tidak berdampak bagi pengurangan angka kemiskinan di Gorontalo? Ini, justru pertanyaan yang sulit ditemukan jawabannya. Karena sungguh berbeda, produksi jagung dinyatakan naik, tetapi angka kemiskinan tidak berkurang. Hampir delapan tahun pemerintahan “NKRI” di Gorontalo, jagung merupakan andalan utama, tetapi komiditas ini ternyata tidak sanggup untuk menekan laju angka kemiskinan.

Data Kementerian Pertanian tahun 2018, mencatat bahwa produksi jagung Gorontalo pada tahun 2016 sebesar 911,350 ton meningkat pada tahun 2019 menjadi 1,619,649 ton, dengan potensi pengembangan lahan sebesar 284.824,5 hektar; dan sekitar 50.087,50 hektar lahan yang belum dimanfaatkan (Sumber: BPS Provinsi Gorontalo, 2020). Selain jagung, Gorontalo juga memiliki potensi pengembangan beberapa komoditi hortikultura yang memiliki pengaruh besar terhadap inflasi ekonomi daerah, yaitu cabai merah, tomat dan bawang merah. Sumber data BPS Provinsi Gorontalo, tahun 2020, produksi komoditi hortikultura cabai rawit sebesar 208.419,00 kuintal, tomat sebesar 35.431,00 kuintal dan bawang merah sebesar 6.286,00 kuintal. Segi produksi dan luas lahan masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi konsumsi dan kebutuhan lokal dan juga dalam upaya untuk mendukung target kemandirian pangan nasional pada tahun 2025.

Pada akhirnya, meskipun masih relatif prematur, dengan data yang terbatas, kita berkesimpulan bahwa Gorontalo menjadi miskin bukan karena lahannya yang kurang, juga bukan karena masyarakatnya yang “malas” bekerja, atau bukan pula karena faktor alam dan lainnya. Akan tetapi, saya meyakini bahwa cara kita mengelola sektor pertanian tanaman pangan yang mesti dibenahi, karena inilah akar masalah kemiskinan di Gorontalo. Kita mesti mengkaji ulang dengan pertimbangan yang matang, menjadikan jagung sebagai komoditas utama. Solusi yang bisa kita bahas bersama adalah mengaktualkan urusan pangan ini menjadi tanggung jawab bersama dengan masyarakat. Menjadikan masyarakat sebagai penentu dan pengambil keputusan dalam pangan, dengan difasilitasi oleh pemerintah. Inilah yang saya sebut dengan “Kampung Cerdas Pangan (KCP)”.#(Bersambung)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker