OPINI

[OPINI PUBLIK] : PROF.DR. H.A NUSI, SE., MM, PERJALANAN JEJAK DAN SEPUTAR GAGASAN SMART CITY

Oleh : Nurhadi Taha (Direktur Ekseskutif NT Institute)

HARI ini,  Sabtu 8 Agustus 2020,  Provinsi Gorontalo  berkabung dengan berpulangnya tokoh Hasan Abas Nusi, mantan Walikota Gorontalo. Kita semua merasa berduka kehilangan tokoh yang telah banyak berjasa pada perjalanan Gorontalo. Saya masih teringat ketika itu pemerintah Kota Gorontalo di bawah kepemimpinan Marten Taha dan Budi Doku sedang menggalakkan visi Smart City. Beliaulah tokoh Gorontalo yang mensuport pemerintahan Marten Taha yang saat itu banyak yang membully terkait visi Smart City yang di canangkan Marten Taha. Hasan Abas Nusi menulis gagasanya itu dalam tulisan tangannya yang dicantumkan dalam buku, “Buah Pena Sang Guru  Smart City, Memaknai Visi Pemkot dan Membangun Optimisme” yang ditulis oleh Rusman Tahun 2014. Dalam pendapatnya Kota Gorontalo, hendak dibangun dengan pijakan nilai – nilai religius dan kearifan lokal serta menciptakan Smart Leader dalam Melaksanakan tugas tugas pemerintahan. Ia juga berpesan agar masyarakat Kota Gorontalo diharapkan dapat berperan serta dalam proses pembangunan yang dilaksanakan pemerintah. Bagaimanapun hebatnya pemerintah namun tanpa dukungan dari masyarakat , maka apa yang di laksanakan oleh Pemerintah tidak akan berhasil. Yang harus diingat bahwa Kota Gorontalo adalah milik kita bersama, baik itu tidaknya Kota Gorontalo terletak sejauh mana kita merasa bertangung jawab terhadap masa depan Kota Gorontalo. Itulah pesannya dalam secarik kertas yang ditulisnya pada tahun 2014 saat itu.

Hasan Abas Nusi sosok yang selalu memberikan pencerahan pada siapapun. Dia juga tokoh yang banyak mensuport para pemimpin – pemimpin Gorontalo.  Jejak perjalanan pada Tahun 2020 akan saya tuliskan dalam sebuah buku The Figure In the Development of Gorontalo, karena sosok teladan dan ketokohannya yang kharismatik. Sekilas gambaran sosok Abas Nusi yang saya tahu, saya mencoba mengulang kembali untuk kita ingat.

Abas Nusi lahir 4 Agustus 1937 di desa Pelabuhan kecamatan Moutong, Sulawesi Tengah. Pangilan akrabnya Acan. Ia semenjak kecil telah tinggal dan besar di Gorontalo. Ia memulai masa kecil di Gorontalo saat orang tuanya pindah ke Gorontalo, masuk Sekolah Rakyat di kelas III. Hasan Abas Nusi tumbuh menjadi sosok anak yang perkerja keras, dia berusaha hidup bekerja secara teratur dan jujur. Pada tahun 1952  masa SMP dan SMA, Hasan Abas Nusi dihabiskan di Padebuolo. Setelah lulus SMA karena ingin mengapai cita – citanya, Hasan Abas Nusi berangkat ke Ujung Pandang (saat ini Makasar) , ia melanjutkan studinya di Universitas Hasanudin, ia lulus di Fakultas Ekonomi. Saat mahasiswa, Hasan Abas Nusi termasuk salah satu mahasiswa cerdas, mata kuliahnya semuanya dengan nilai baik, sehingga kecerdasan dan bakatnya itu diamati oleh seorang pengajar asing Profesor Wolhof yang saat itu menjabat Dekan Fakultas Ekonomi. Dirinya ditawari sebagai asisten dosen, dengan ditempatkan di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM). Dan kariernya sebagai asisten dosen ini membawanya hinnga ia diangkat sebagai PNS pada Tahun 1961.

Pengalamannya, “mengajar sambil belajar” membawa sebuah keberkahan bagi Hasan Abas Nusi. Ia banyak mendapatkan teman dan dia dikenal oleh banyak orang, termasuk dia sangat disukai oleh beberapa anak pejabat dan orang yang memiliki kerdudukan social, baik saat itu, berkat prestasi dan ketekunannya Hasan Abas Nusi semakin mendapatkan kepercayaan bersama Bahrudin Agie, diberi kepercayaan oleh Bupati Sidenreng Rapang untuk membantu pengembangan daerah. Hasan Abas Nusi diserahi tugas untuk mendirikan sekaligus memimpin Universitas Nene Mallomo, pada saat pertama dibuka. Fakultas yang pertama diselenggarakan adalah Fakultas Tata Niaga, tugas tersebut dengan sendirinya telah memberikan peluang bagi Hasan Abas Nusi, mengetahui banyak hal tentang manajemen pengelolaan pendidikan, sehingga sosok Abas Nusi juga diminta memimpin lembaga – lembaga pendidikan menegah lainnya, seperti Sekolah Menegah Ekonomi Pertama (SMEP) dan Sekolah Menegah Ekonomi atas (SMEA).

 Setelah berhasil menangani berbagai lembaga pendidikan, pengalamannya itu telah menjadi tolak ukur bahwa Hasan Abas Nusi sosok yang mempunyai talenta, ulet bekerja sehingga kepercayaan lebih besarpun dating. Ia di minta menjadi kepala Keuangaan Daerah dan Direktur Perusahaan Daerah.

 Walau banyak tugas dan kesibukannya, Hasan Abas Nusi tak melupakan jenjang pendidikannya . Prinsipnya bekerja harus optimal dan belajar pun harus Optimal, sehingga pada Tahun 1964 ia menyelesaikan kuliahnya skripsinya yang berjudul, “Pengaruh Ekonomi Terhadap Politik di Sulsera“ rampung dan diterima oleh dewan penguji dan ia pun mendapatkan gelar Sarjana selama 6 tahun.

            Setelah menyelesaikan sarjananya, Hasan Abas Nusi karier PNS nya semakin sukses, diawal diangkat menjadi PNS pada 1 Januari tahun 1961, statusnya  hanya pegawai bulanan, namun tak cukup rentang waktu yang lama, Hasan Abas Nusi langsung menduduki sebagai pejabat bagian keuangaan BKDH Tingkat II Sidrap.

Keberhasilan Hasan Abas Nusi di Sulawesi Selatan telah membawa hikmah dan jalan kariernya terbuka, baru setahun bekerja, Hasan Abas Nusi mendapatkan angin segar dimutasi ke daerah asal (Sulawesi Utara)  pada 29 Maret 1966 diangkat menduduki jabatan Wakil Kepala Biro Distribusi tingkat I Sulawesi Utara. Tak selang waktu lama, ia mendapatkan promosi dari jabatan  “ Wakil” naik ke posisi ”Kepala” tepatnya ia menduduki kepala Biro Distribusi dan setahun kemudian tanggal 12 April tahun 1967 dia menjadi Direktur Panca Setia Sulawesi Utara. Secara reguler karier Hasan Abas Nusi dari waktu ke waktu semakin menanjak setahun menjadi Direktur Panca setia lantas ia menduduki jabatan Wakil Ketua Kepala Biro Pembagunan tingkat 1 Sulawesi Utara.

            Hasan Abas Nusi tak ingin memendam bakat dan ilmunya di dunia birokrasi. Ia kembali berprofesi sebagai dosen, sejak tahun 1967 ia kembali menjadi tenaga pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Samratulangi Manado. Mata kuliah yang diampuhnya antara lain Ekonomi Industri, Ekonomi Moneter dan Bank, serta Ekonomi Umum. Selain di Unsrat, Hasan Abas Nusi mengabdikan dirinya dengan cara mengajar di APDN, serta STAIN Allauddin Manado.

Kiprahnya di dunia akademik telah menjadikan Hasan Abas Nusi menjadi sosok yang populis dan juga kecerdasannya telah membuat Hasan Abas Nusi menjadi tokoh yang berpengaruh di Sulawesi Utara sehingga pada tahun 1971 Hasan Abas Nusi dipercaya menjadi Anggota DPRD tingkat I Sulawesi Utara. Sosoknya yang merakyat dan cerdas sehingga Hasan Abas Nusi belum genap setahun menjadi Anggota DPRD dia di percaya menjadi Wakil  Sementara Daerah Tingkat II Gorontalo tepatnya 3 Februari 1972.

            Tak lama bertugas sebagai wakil sementara daerah Tingkat II Gorontalo, Hasan Abas Nusi pada Tanggal 15 September 1972 kembali diserahi tugas sebagai Asisten 3 Bidang Umum, Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat 1 Sulawesi Utara . Karena kepiawaian dan kecerdasan, Hasan Abas Nusi sebagai seorang pamong Gubernur  Sulut saat itu H.V.Worang memilih Hasan Abas Nusi dalam program Studi Pendalaman  di Inggirs, pada Tahun 1975, di Inggris dia mengambil Jurusan “Social Policy Administrasion”, setelah selesai Studi di Inggris, Hasan Abas Nusi mendapatkan tugas yang sangat penting menjadi Inspektur Wilayah Daerah Tingkat I Sulawesi Utara, pada 7 Desember 1976.  

            Hasan Abas Nusi di tahun 1978 ia dipercaya menjadi marsaoleh “Walikota Gorontalo, diawal kepemimpinannya ia memperbaiki sarana ibadah yang saat itu satu satunya sarana ibadah umat Islam di Gorontalo mesjid Baiturahim Kota Gorontalo dan perbaikan mesjid ini mendapat pertentangan dua aliran Nahdatul Ulama dan Muhamadiyah dan Hasan Abas Nusi mengumpulkan semua tokoh agama, baik itu para tokoh agama Nahdatul Ulama dan tokoh agama Muhamadiyah. Dirinya tak mau ada konflik pembagunan mesjid dan ia memposisikan dirinya bukan sebagai Walikota NU dan juga sebagai Walikota Muhamadiyah, tetapi Walikota semua rakyat dan Hasan Abas Nusi memutuskannya secara adil, dia meneruskan pembangunan mesjid Baiturahim dan juga membangun mesjid baru Darul Arqam.

            Hasan Abas Nusi juga mengalakkan operasi subuh, ia sentiasa berkeliling subuh dan menyapa para pedagang pada bada subuh. Hasan Abas Nusi juga di masa kepemimpinanya juga sering melakukan kunjungan ke sarana – sarana publik baik itu pada fasilitas kesehatan Puskesmas dan rumah sakit, Hasan Abas Nusi juga salah satu Walikota yang menghibahkan tanahnya untuk pembangunan depot Pertamina. Ia juga yang mengagas berdirinya realey stasiun TV yang saat itu dibelakang rumah Dinas Walikota sekarang sudah pindah di jalan Agus Salim (Stasiun TVRI). Juga beberapa sarana publik lainnya seperti pelebaran jalan kampung, industri kecil rotan, pemasangan instalasi air minum, mengembangkan sekolah STM dan SMEA, juga pembagunan gedung STAIN Gorontalo. Karena dedikasi dan karyanya semua rakyat Kota Gorontalo, tokoh Agama dan tokoh Adat dan masyarakat memberikan gelar pada Hasan Abas Nusi sebagai Tauwa Lo Hunggia . Saat menakhiri masa jabatannya seluruh rakyat Kota Gorontalo menangis haru biru atas pemimpin yang mereka cintai.##

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker