KONTROL
Trending

[TRENDING PUBLIK] : KEKURANGAN PERSONIL, PENERAPAN PSBB DI TIBAWA DIDUGA TIDAK BERLAKU

Lapran : Tim Investigasi Kabar publik (JMSI), Editor : Mahmud Marhaba

KABUPATEN GORONTALO [KP] – Ini fakta yang terjadi dilapangan. Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo seakan tidak berlaku.

Hal ini terbukti saat Tim Investigasi kabarpublik.id melakukan pemantauan didaerah tersebut, Kamis, 07 Mei 2020.

Aktivitas yang ada disekitaran tugu Masjid Baiturrahman Isimu kecamatan Tibawa normal, dimana aktivitas warga terus berlangsung meskipun sudah diberlakukan PSBB yang memasuki hari ke 5. Padahal pemerintah daerah telah melakukan sosialisasi 3 hari sejak diberlakukannya PSPB, 4 Mei 2020 lalu.

Camat Tibawa, Latif Suparman yang dimintai keterangan dengan kondisi daerah yang dia pimpin, dirinya langsung melampiaskan seluruh keluhannya kepada media ini.

“Alhamdulillah sampai saat ini kami sudah melaksanakan sosialisasi selama 3 hari, namun masih banyak juga masyarakat yang belum paham pentingnya arti PSBB ini, dan itu bisa dilihat dari banyaknya warung-warung yang masih buka, para pengendara kenderaan juga masih lalu lalang berboncengan, sehingga ini harus ada perhatian khusus dari kita, dan kita juga akan meminta bantuan dari kabupaten karena personil disini sangat terbatas,” ucap Latif, Kamis (07/05/2020). 

Dirinya juga mengatakan bahwa kecamatan Tibawa ini merupakan kecamatan yang paling terluas yang ada di Kabupaten Gorontalo.

“Tidak mungkin kita bisa menangani satu kecamatan yang begitu luas, sehingga kita butuh tambahan personil untuk melaksanakan patroli untuk mengamankan lokasi-lokasi yang masih banyak orang berkerumun,” tambah Latif lagi.

Segala bentuk upaya telah dilakukan, namun hal ini disadari oleh Latif bahwa tingkat kepedulian dari warga terhadap aturan ini masih minim.

“Kalau pada saat kita patroli mereka tutup, tapi ketika kita balik lagi saat jam 12 malam, lapak pada dibuka lagi. Kalau mau dibilang kita juga sudah cukup capek ini, bahkan berulang-ulang ditegur,” keluhnya.

Mirisnya lagi, salah seorang dari petugas kecamatan sempat mendapat pemukulan.

“Itu gara-gara kita membubarkan kerumunan orang, kejadian itu sekitar 2 minggu lalu saat menindaklanjuti Maklumat bupati, sedangkan Maklumat jam 10 malam saja masyarakat bereaksi, apalagi jam 5 sore, kalau mungkin ada tambahan minimal dari Satpol saja yang ditempatkan disini untuk mengontrol sama-sama dengan kita, mungkin bisa terbantu. Sementara kalau kita mengharapkan Polsek dan Koramil disini kita akan kewalahan,” keluhnya lagi.

Disisi lain, Koramil yang ada disekitar Tibawa sudah punya jadwal untuk melakukan pengawasan.

“Jadi kalau misalkan malam ini di kecamatan Tibawa maka besok malam di kecamatan Pulubala,” jelasnya.

Disisi lain, kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Udin Pango saat di mintai tanggapan tentang hal tersebut, mengakui jika saat ini Satpol PP terbatas personilnya.

“Yang kita awasi ini ada 19 kecamatan, kalau memang kita ada kesempatan, kemudian juga ada personil dan memungkinkan, kita akan turun. Bahkan setiap malam kita turun hampir semua kecamatan,” kata Udin Pango.

Ketika akan dimintai keterangan lebih rinci terhadap upaya kedepan guna memaksimalkan penerapan PSBB di wilayah kabupaten Gorontalo, Udin Pango enggan menjawab via telepon. Padahal situasi saat ini dengan penerapan social distancing cukup melakukan komunikasi melalui telepon atau video conference.#[KP]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker