OPINIPARIWISATA

PESAN UNTUK BAPAK PRESIDEN IR. H. JOKO WIDODO TERKAIT HAK PREROGATIF PENUNJUKAN KEMENKRAF DAN WAMEN

Dari : Anak Bangsa yang peduli kemajuan Pariwisata Indonesia. (Mahasiswa Program Doktor Pariwisata Universitas Udayana Angkatan X)

HASIL diskusi kelas kami terkait dengan Kementerian Pariwata dan Ekonomi Kreatif yang baru dilantik, kami tidak bisa berharap banyak dari 2 sosok yang di tunjuk menjadi leader di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini.

Bagaimana tidak… menempatan sosok dua anak muda dengan profesi yang sama ini nampaknya bapak Presiden lebih ingin menitik beratkan pada akselerasi pengembangan pemasaran dan promosi Pariwisata, yang hingga saat ini dianggap tidak sempurna. Target mantan Menpar (Bapak Arif Yahya) yang ingin mendatangkan wisman 20 juta pada tahun 2019 merupakan target gagal, tanpa melihat ketersediaan dan kesiapan sarana dan prasarana pendukung Pariwisata. Anehnya lagi, detik-detik lengser dari jabatannya, bapak Arif Yahya melakukan down grade target kunjungan wisman yang semula 20 juta menjadi 18 juta Wisman.

Kami tadinya berharap yang ditunjuk sebagai Wamen adalah orang – orang yang mengerti betul soal problem Pariwisata di Indonesia. Begitu banyaknya professor dan ahli Pariwisata di Bali, mengapa harus memilih Wamen dari latar belakang yang sama, apakah karena faktor lain atau hanya mengedepankan faktor politik semata?

Hadirnya Kemenkraf  dan Wamen baru ini menjadi harapan baru bagi kita semua di industry Pariwisata  di Inonesia. Harapan tersebut tentu tidak jauh-jauh dari program-program terobosan di bidang promosi Pariwisata dan sekaligus mewujudkan 10 Bali baru super prioritas untuk menarik kunjungan Wisman lebih banyak lagi.

Berikut petikan beberapa teman yang kecewa atas penunjukan Wamen Kemekraf yang baru:

“Sudah bukan saatnya lagi  Pariwisata kita hanya di ukur dari target jumlah wisatawan semata,  tapi harus dengan indicator kualitas Pariwisata. Pemerintah harus punya program menumbuhkan Pariwisata yang berkelanjutan. Jangan sampai lingkungan kita rusak karena sebagai tuan rumah mendapatkan dampak negatif dari wisatawan. Promosi harus melihat kesiapan  kondisi lapangan. Dari segi komponen Pariwisata  modal utama kita adalah daya tarik wisata atau atraksi namun dari segi infrastructure, amenitas serta kualitas SDM masih banyak yg harus dibenahi” – Denpasar 26 Oktober 2019, Ersy Ervina Telkom University

“Saya melihat 2 sosok Menpar dan Wakilnya dengan profesi yang sama…nampaknya Presiden ingin banyak menitik beratkan pada pemasaran dan promosi” – Denpasar, 26 Okt 2019, Faid Rahman, Brawijaya University.

“Kami tadinya berharap banyak yang ditunjuk sebagai Wamen Kemenkraf adalah orang yang mengerti betul soal problem Pariwisata di Indonesia, tapi lagi-lagi kami kecewa, begitu banyaknya professor dan ahli Pariwisata dari Propinsi Bali, mengapa harus memilih Wamen dari latar Belakang yang sama, apakah karena faktor lain atau hanya mengedepankan faktor politik semata?” – Denpasar, 26 Okt 2019, LIINGGO, RHD, Universitas Nasional

“Tentang target meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, semoga menjadi pelajaran dari program Kemenpar sebelumnya, bukan serta merta menjalankan program untuk mendatangkan wisman tidak berkualitas alias zero dollar tourism. Seperti fasilitas bebas visa bagi 169 negara sejak tahun 2016. Sampai saat ini tidak pernah ada evaluasi bebas visa yang pada kenyataannya menghilangkan potensi devisa negara. Pengeluaran wisman di Indonesia akhirnya hanya berputar di jejaring mafia-mafia bisnis asing asal Wisman berasal. Pemasukan untuk negara dan masyarakat tidak sebanding dengan dampak sosial budaya yang mereka rasakan.” – Vany o- Telkom University.

“Kurangnya koordinasi antar Kementerian merupakan PR besar bagi Menteri yang mewakili kaum milenial (Wamen), Pariwisata tidak hanya berbicara tentang pemasukan devisa tetapi bagaimana menyelaraskan pembangunan infrastruktur penunjang kegiatan Pariwisata. Kemacetan di DTW menjadi ancaman besar saat ini jika ingin bersaing dengan negara lain. Saat ini Indonesia bukan menjadi destinasi utama Wisman di ASEAN. Apabila infrastruktur tidak segera digarap, kemacetan tidak teratasi bukan tidak mungkin Vietnam akan menjadi destinasi wisata baru dikawasan ASEAN. – Ni Nyoman Sri Astuti, Politeknik Negeri Bali.

Pariwisata adalah salah satu sektor yang paling mempengaruhi ekonomi di Indonesia. Target untuk meningkatkan jumlah wisatawan hanya akan menjadi kenangan semata. Terkadang pemerintah hanya memikirkan quantity dari wisatawan yang datang tetapi tidak memikirkan quality dari wisatawan tersebut. Sudah saatnya Indonesia berbenah untuk mampu meningkatkan kualitas Pariwisata di Indonesia. Banyaknya masyarakat yang belum sadar akan pentingnya Pariwisata merupakan tugas besar untuk pemerintah dalam membenahi sistem Pariwisata. Kinerja Pariwisata berkelanjutan merupakan capaian utama demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Putu Ayu Sita Laksmi, Universitas Warmadewa, Sudah saatnya kita bersama-sama mendukung dan mengawal Alternative Tourism dalam mengurangi dampak kerusakan yang diakibatkan oleh mass tourism, lebih detail lagi dalam memetakan destinasi Wisata mana yang memang masih membutuhkan promosi tapi juga memperhatikan destinasi yang memang harus dijaga kerusakannya dengan menyeleksi pengunjung yang boleh masuk dengan mau membayar harga tiket yang sesuai standar. Satu lagi tentang CBT yang harus semakin diperkuat, mengingat pemberdayaan masyarakat lokal yang harus diperkuat yang saat ini hanya sebagai buruh Pariwisata saja bukan sebagai tourism entrepreneurs. Pemerintah harus lebih berpijak pada local wisdom dan local community, sehingga kebijakan membuka keran investasi tidak menggusur dan mengalahkan para home industry. FX Setyo – Sahid Politeknik Jakarta.##

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
http://Vidyaamaliah.co.id
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button