KONTROLNASIONAL

ADHAN : TOLAK HASIL PILREK UNG

Laporan : Tim Kabar Publik, Editor : Mahmud Marhaba

GORONTALO [KP] – Pasca Pimilihan Rektor UNG (Universitas Negeri Gorontalo) putaran terakhir 17 September lalu hingga saat ini belum ada kabar kapan calon Rektor terpilih Eduart Wolok dilantik. Eduart meraih 62 suara, 35 suara diantaranya dari Kementerian, menyisihkan Baruadi Mahludin yang meraih 41 saura mayoritas Senat Guru Besar.

Beberapa sumber di UNG yang dihubungi mengaku tidak mengetahui kapan pelantikan Rektor terpilih digelar. Hanya disebutkan pelantikan bisa dilakukan di Jakarta atau di Gorontalo tergantung Menteri. “Biasanya kalau tidak ada gejolak pasca pelantikan langsung digelar,” katanya.

Informasi yang diperoleh Kabar Publik, kubu Mahludin berencana mengajukan protes kepada Menteri. Apa materi protesnya, masih belum jelas. Yang pasti Pilrek kali ini mengundang kontroversi banyak pihak.

Ketua Aliansi Perguruan Tinggi Swasta Gorontalo, Rustam Akili mengatakan, Pilrek UNG tidak fair. Dikutip dari Kronoligi.id, 17 September,Rustam mengatakan, mestinya suara Menteri itu disalurkan merata kepada semua calon, tidak ke satu calon saja sebagai bentuk netralitas. Sebab, kata dia, kalau caranya begitu tak perlu gelar Pilrek, cukup tunjuk saja. “Pilrek model begini tidak masuk akal. Kampus harus protes, tidak boleh diam dengan praktik-praktik yang tidak demokratis,” tegas Rustam.

Pernyataan paling keras disampaikan mantan Walikota Gorontalo, Adhan Dambea. Adhan menyesalkan keputusan Menteri yang menyalurkan seluruh 35% hak suaranya hanya kepada Eduard Wolok, tidak dibagikan merata ke semua kandidat. Kata dia, selain keputusan Menteri itu melecehkan suara Senat yang mayoritas memilih Mahludin, yang paling tahu rekam jejak setiap calon dibandingkan Menteri yang tinggal di Jakarta, calon yang lain seperti tidak ada nilainya samasekali. Padahal, masih kata Adhan, Mahludin seorang professor senior, mantan Dekan, sedang menjabat Wakil Rektor dan bersih, tidak pernah berurusan dengan Polisi atau Jaksa. Sedangkan Eduart masih junior, belum lama meraih gelar doktor dan namanya ada dalam pertimbangan putusan Mahkamah Agung dalam kasus korupsi yang sewaktu-waktu dapat dibuka.

Menurut Adhan, Menteri sebenarnya sudah mengetahui rekam jejak semua calon dan sudah mengetahui pula aspirasi kampus dan masyarakat yang menginginkan Mahludin sebagai rektor. Apalagi aturan 35% itu nyata-nyata melanggar azas-azas umum berdemokrasi. Tetapi kenapa Menteri tetap memilih Eduart.

Itu sebabnya, kata Adhan, Menteri harus memberi penjelasan ke kalangan kampus dan rakyat Gorontalo apa dasarnya hingga  mengambil keputusan yang tidak masuk akal itu. Ini penting, masih menurut Adhan, agar tidak menimbulkan dugaan adanya praktik transaksional dibalik Menteri memilih Eduart.

“Hasil Pirek ini menampar muka kalangan kampus yang selama ini selalu menuntut keadilan berdemokrasi di eksternal kampus, tetapi tak berdaya ketika terjadi ketidakadilan berdemokrasi di internal kampus. Kalau ini tidak diprotes dan dibatalkan, Saya khawatir jangan-jangan Menteri di Jakarta mengganggap kita di daerah masih bodoh,” papar Anggota DPRD provinsi Gorontalo ini.

Aktivis antikorupsi Arten Mobongi mengatakan hasil Pirek kali ini pasti mengecewakan mayoritas kalangan kampus di Gorontalo. “Saya sendiri masih sulit memahami model berpikir Menteri hingga mengambil keputusan menyalurkan suaranya hanya kepada satu calon saja, kata dosen IAIN Sultan Amai Gorontalo ini.

Hingga berita ini dibuat, beredar kabar bahwa utusan Menteri, Agus Indarjo, yang memberikan suara dalam Pilrek kemarin, saat tiba di Gorontalo sehari sebelum pilrek  dijemput dan  ‘disimpan’ salah satu tim sukses, dan nanti ketemu Panitia Pemilihan besoknya saat hari pemilihan. Namun kabar itu pun masih sulit dibuktikan karena berbagai narasumber enggan mengungkapkan hal ini.#[KP]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
http://Vidyaamaliah.co.id

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button