GORONTALO

FKPT GORONTALO UNGKAP HASIL SURVEY TERHADAP PERAN KEARIFAN LOKAL MENANGKAL TERORISME DI INDONESIA

Laporan : Rizky Umar, Editor : Mahmud Marhaba

GORONTALO [KP] – Diseminasi Hasil Survei Nasional dan Penelitian Eksplorasi Kearifan Lokal melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Gorontalo, Selasa (27/08/2019) digelar di Hotel Grand Q Kota Gorontalo.

Turut hadir dalam kegiatan ini ketua FKPT Provinsi Gorontalo Kombes Pol. (Purn) Drs. Abdullah Hayati, Dr. Solehudin M. Pd. Selaku Tim Reviewer Riset Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) serta Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT Dr. Hj. Andi Intang Dulung sekaligus untuk membuka kegiatan hari ini.

Dr. Masri Kudrat Umar, M. Pd. selaku Kabid FKTP Gorontalo sekaligus pembicara dalam kegiatan ini, dalam paparannya mengatakan survei Nasional 2018 BNPT berhasil mendapatkan beberapa temuan yang sangat berarti, diantaranya hasil survei menunjukkan bahwa kearifan lokal efektif menangkal potensi radikalisme di masyarakat Indonesia, khususnya akademisi di ibu kota dengan determinasi mencapai 64%. Kearifan lokal juga masih dipercaya masyarakat sebagai nilai-nilai yang mampu merekatkan bangsa Indonesia dan menghalau nilai-nilai negatif dari luar.

Dirinya juga mengatakan pengetahuan real masyarakat masih sangat terbatas terkait kearifan lokal, pemahaman yang banyak berkembang bahwa kearifan lokal adalah bagian dari budaya saja, bahkan hanya sebatas komoditas wisata, bukan sebagai nilai dasar dan tata moral berbangsa.

“Partisipasi masyarakat pun masih sangatlah rendah dalam proses pemeliharaan kearifan lokal sebagai tata nilai, norma, budaya tutur dan tata ruang,” ungkap Masri.

Berdasarkan hasil kajian dan FGD (Focus Group Discussion) dengan para pemangku kebijakan serta tokoh budaya di 32 Provinsi, didapatkan konsep yang cukup komprehensif mengenai definisi dan dimensi kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan nilai-nilai kebijakan nan arif yang muncul akibat interaksi manusia dengan alam, maka kearifan lokal dibuat sebagai tata nilai yang mengarahkan manusia agar bisa hidup berdampingan secara sinergis dengan alam untuk kemaslahatan.

Masri mengatakan kearifan lokal sendiri terdiri atas 4 dimensi besar yaitu tata nilai/moral, tutur lisan, tata ruang (landscape), dan kesenian yang kesemuanya berfungsi sebagai situs untuk mengingatkan manusia tentang aturan-aturan yang harus dijaga demi keseimbangan alam tempat manusia melangsungkan kehidupan.

“Dari keempat dimensi kearifan lokal tersebut, tutur lisan merupakan kearifan lokal yang paling tinggi pengaruh dan signifikansinya sebagai daya tangkal potensi radikalisme-terorisme”.

Disisi lain, aktivitas keagamaan masyarakat signifikan berpengaruh dalam menangkal potensi radikalisme-terorisme, tetapi tidak diiringi oleh bekal keagamaan yang baik, terpaan konten keagamaan di media sosial sangat lah tinggi. “Sehingga masyarakat banyak yang melakukan aktivitas keagamaan hanya berbekal informasi dari media sosial, tidak berdasarkan pola pendidikan keagamaan yang komprehensif,” Tutur Masri.

Dirinya juga mengatakan habituasi keluarga memerankan posisi penting dalam menangkal potensi radikalisme-terorisme di era milenial, mampu menangkal berbagai potensi terpaan informasi negatif dan pola pendidikan keluarga berupa sharing, diskusi, mengaji, shalat berjamaah merupakan pola-pola habituasi sosial yang signifikan.

Inti dari paparan Masri yaitu terkait tentang Hu’limo/Cincin yang merupakan simbol perlawanan Gorontalo pada radikalisme-terorisme,
“Dila pomilaya, dadata arinaya/jangan lengah, banyak bahaya yang menggerogoti”.#[KP]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker