KONTROL

‘RAPOR MERAH’ KAJATI FIRDAUS DEWILMAR

Laporan : Jaringan Berita SMSI

Editor : Mahmud Marhaba

 

GORONTALO [KP] – Aktivis Anti Korupsi dan politisi kecewa dengan  kinerja mantan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Gorontalo, Firdaus Dewilmar, yang baru dimutasikan ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

 

Pasalnya, selama dua tahun menjadi Kajati di Gorontalo, tidak ada perkara korupsi berskala besar yang berhasil dibawa ke Pengadilan. Kasus pembebasan lahan bagi pembangunan Gorontalo Outer Ring Road (GORR) tidak tuntas penangannannya bahkan terkesan controversial. Memang ada perkara yang masuk pengadillan seperti korupsi Pasar Pontolo, Bulog, jalan tujuh ruas tapi semua itu hasil kerja Kajati sebelumnya. Firdaus Dewilmar tinggal melimpahkan ke penuntutan.

 

Aktivis LP3G, Abdul Deno Jaria mengatakan semula publik menaruh harapan Firdaus Dewilmar dapat menuntaskan lebih banyak perkara korupsi terutama sekali perkara pembebasan lahan untuk pembangunan GORR. Karena dalam sejarah korupsi Gorontalo, ini kasus yang menimbulkan kerugian negara terbesar yakni sekitar 85 milyar.

 

Ada 1200 orang diperiksa sebagai saksi selama sekitar 1.2 tahun, termasuk Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie. Tapi anehnya hanya beberapa hari menjelang dimutasi, Dewilmar menetapkan 4 tersangka dari level bawah, itu pun tidak disertai bukti kerugian keuangan negara dari BPKP, hanya dari perhitungan Perguruan Tinggi, jauh dari ekspektasi publik. “Kalau raport merah,” kata Deno.

 

Seperti diketahui Kepala BPKP Gorontalo Supriyadi sebagaimana yang dilansir oleh beberapa media online lokal mengatakan pihaknya belum menerbitan hasil perhitungan kerugian keuangan negara dalam kasus GORR. “Sedang dikonfirmasi ke penerima ganti rugi lahan,” katanya.

 

Sedangkan Ir. Qadri Bawondesz dari SMIAK menilai Firdaus Dewilmar meninggalkan banyak perkara korupsi yang tidak selesai. Diantaranya korupsi GORR yang mendapat atensi besar publik. “Satu tahun lebih periksa GORR  tidak sebanding dengan hasilnya. Tidak ada prestasi,” kata Qadri.

 

Lain lagi pendapat Politisi Adhan Dambea. Menurut mantan Walikota Gorontalo ini, penetapan tersangka kasus GORR selain tidak memiliki bobot hukum, juga bernuansa  pencitraan karena dilakukan hanya beberapa hari menjelang mutasi Dewilmar.

 

“Yang bisa menghitung kerugian Negara hanyalah BPK atau BPKP. lembaga lain tidak bisa. Makanya Saya katakan jika penetapan tersangka sangat prematur dan terkesan ambisius,” ungkap Adhan Dambea yang juga sebagai pembina LSM Yaphara Gorontalo.

 

Disebut tidak memiliki bobot hukum, kata Dambea  karena dirinya pernah beberapa kali berdiskusi dengan Dewilmar yang saat itu menjabat sebagai Kajati Gorontalo soal penanganan kasus GORR, dan  Dewilmar mengakui ada petunjuk dari KPK agar penyidik memasukan pasal pencucuian uang karena ada petunjuk temuan aliran dana ketiga rekening orang berbeda yang masih keluarga dan orang dekat pejabat penting di Gorontalo.

 

“Saya kecewa begitu tahu yang ditetapkan sebagai tersangka bukan orang yang dimaksud. Apalagi belakangan Kajati bilang Gubernur tidak terlibat,” kata Dambea seraya manambahkan kalau Kajati sudah menvonis Gubernur tidak bersalah padahal perkaranya sendiri belum disidangkan. Itu sebabnya Dambea berharap pengganti Dewilmar bisa secepatnya mengevaluasi keputusan pendahulunya.

 

Koordinator GCW (Gorontalo Corruption Watch) Deswerd Zougira dalam releasenya mengatakan penetapan tersangka kasus GORR tergesa-gesa. “Sprint penetapan tersangka bisa digugat, termasuk bisa digugat oleh pihak Ketiga yang berkepentingan,” kata Deswerd yang pernah memenangkan gugatan Praperadilan atas SP3 Fadel Muhammad beberapa waktu lalu.

 

Sementara itu, mantan Kajati Gorontalo Firdaus Dewilmar yang dimintai keterangan sejak pukul 22.00 wita malam tadi melalui layanan WhatsApp belum memberikan keterangan terkait penilaian ‘raport merah’ aktivis peduli penegakan hukum di Gorontalo. Kami akan berusaha memuat jawaban klarifikasi Firdaus Dewilmar terkait dengan pandangan LSM Gorontalo.#[KP/MM]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker