OPINI

KPPS CS, NASIBMU KINI….

Oleh : Sukri *)

 
Proses pemungutan suara Pemilihan Umum Tahun 2019 sudah selesai. Meskipun di beberapa daerah termasuk 9 TPS di Provinsi Gorontalo terpaksa harus dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU). Pemilu 2019 ini merupakan Pemilu pertama yang menggabungkan antara Pemilihan Legislatif dengan Pemilihan Presiden. Ini pula yang membuat Pemilu kali ini menyuguhkan banyak tragedi, diantaranya proses pemungutan dan penghitungan suara di TPS memakan waktu hampir 36 jam nonstop. Durasi waktu yang cukup panjang ini ternyata memakan korban. Petugas KPPS yang jatuh sakit tidak sedikit, dan yang meninggal dunia sudah mencapai 91 orang. Bukan hanya anggota KPPS yang jatuh korban para petugas keamanan pun demikian, bahkan 1 perwira tinggi kepolisian turut wafat dalam menunaikan tugas Negara ini.
Pada masa pemungutan hingga penghitungan suara di TPS, dunia maya pun ramai dengan update status para penyelenggara. “Turun hampir siang (subuh-red), pulang hampir mati”. “Turun rupa Barbie, pulang rupa Vampir”. Demikian sebagian bunyi status para penyelenggara, yang mengungkapkan perasaan mereka saat menjalani tugas mulia ini.

Ungkapan ini tentu bukan hanya sebuah kiasan, karena faktanya memang demikian, mereka sudah standby di TPS sejak pagi buta hingga besok paginya lagi bahkan sampai sore. Bisa dibayangkan bagaimana kusutnya penampilan mereka, walaupun secara bergantian mereka menyempatkan diri untuk pulang mandi dan ganti pakaian. Tugas dan tanggung jawab menuntut mereka untuk harus tetap siap menyelesaikan semua tahapan pemungutan dan penghitungan suara. Para petugas keamanan (POLRI/TNI), PTPS, para saksi pun demikian. Bahkan untuk petugas keamanan, mereka harus mobile dari satu TPS ke TPS lain, karena 1 orang petugas bertanggung jawab hingga 3 TPS, ini dilakukan karena memang kekurangan personil keamanan. Belum lagi pada tanggal 17 April malam itu, disaat sedang sibuknya proses penghitungan suara, Gorontalo diguyur hujan deras, membuat petugas KPPS dan Linmas harus kerja ekstra mengamankan logistik khususnya kotak yang berisi surat suara yang sudah dicoblos.

Saya melihat langsung bagaimana petugas Pengamanan TPS (Linmas) harus bekerja keras dan rela basah-basahan untuk menghambat aliran air hujan yang masuk ke lokasi TPS. Bahkan saya sempat mengkhawatirkan kesehatannya, karena maklum saja, semalam suntuk H-1 Pemungutan suara mereka sudah bertugas menjaga keamanan TPS, esok harinya (Hari H) seharian bertugas tanpa istirahat hingga malamnya lagi. Dan usia Petugas Pengamanan TPS itu sudah tidak muda lagi, perkiraan saya usianya diatas 60 tahun, tapi memang sudah sangat berpengalaman, hampir setiap perhelatan pemilu baik legislatif maupun pilkada, beliau tidak pernah absen sebagai petugas. Alhamdulillah hingga hari ini beliau masih sehat walafiat.

“Mungkin ini kali terakhir pengabdian saya pak, so boleh baku ganti dulu dengan yang muda-muda, so banyak sekali seragam hansip pa saya itu, saya mo kumpul semua itu seragam, supaya kalau saya meninggal bisa dibacakan di riwayat hidup bahwa saya sering sekali jadi Hansip TPS,” selorohnya dengan nada bercanda.
Dilain pihak khususnya untuk Pilpres, klaim kemenangan masing-masing kubu terus memanas. Masing-masing mengklaim data mereka valid. Kubu yang satu mengklaim sesuai hasil quick count mereka unggul, kubu satunya lagi juga mengaku perolehan suaranya tertinggi atas dasar data real count yang mereka kantongi.

Para pengamat dadakan pun banyak bermunculan dengan segala argumentasi, baik argumentasi yang ilmiah maupun yang sifatnya hanya pendapat pribadi, bahkan tidak sedikit terjadi “debat kusir”.

Tuduhan-tuduhan kecurangan pun tidak terelakkan. Mirisnya tuduhan-tuduhan itu justru dialamatkan ke penyelenggara, yang sudah bekerja keras. Tuduhan ini tentu saja sangat menyakitkan hati para penyelenggara khususnya para KPPS, yang sudah rela mengorbankan banyak hal.
Pada tulisan saya sebelumnya sudah saya utarakan, berhentilah untuk mencurigai apalagi menuduh penyelenggara berbuat curang, karena untuk menyelesaikan tugas dengan kondisi normal tanpa tendensi curang saja sudah menguras tenaga dan kesehatan, apalagi kalau ada tindakan yang sengaja untuk berbuat curang, tentu tenaga dan kesehatan mereka lebih terkuras lagi, dan menurut saya ini tindakan konyol jika ada oknum yang sengaja berbuat begitu.

Kesalahan-kesalahan yang muncul, tentu tidak bisa dihindari, itulah keterbatasan mereka, mungkin kurang pengetahuan dan pengalaman mereka karena memang saya melihat mayoritas petugas KPPS ini adalah orang-orang baru, atau memang kondisi stamina yang berdampak pada konsentrasi, karena begitu panjangnya durasi pelaksanaan penghitungan suara ini, saya kira itu sangat alamiah dan manusiawi. Sebagaimana prinsip dalam ilmu hukum dan karya ilmiah, bahwa salah boleh, bohong tidak boleh. Mungkin demikian pula bagi KPPS ini.
Perjuangan berat para penyelenggara ini tidak berhenti hanya pada KPPS saja, di tingkat PPS dan PPK pun demikian. Pada Rapat Pleno Rekapitulasi Penghitungan Suara di tingkat Kecamatan yang dimulai hari Ahad (21/4) hingga Senin (22/4) malam pukul 23.00, 1 kelurahan pun belum selesai. Ada beberapa TPS terpaksa harus dilakukan penghitungan surat suara ulang, karena ditemui ada selisih data antara jumlah suara sah dan tidak sah dengan surat suara yang digunakan. Ini dilakukan PPS dan PPK, sesuai permintaan saksi dan rekomendasi Panwas, agar hasil penghitungan ini benar-benar akurat. Saya menyaksikan langsung teman-teman PPS dan PPK di Kecamatan Sipatana melakukan Rekapitulasi Penghitungan Suara ini dengan penuh tanggung jawab meskipun wajah-wajah lelah tidak bisa disembunyikan.

Hal ini menggambarkan bahwa para penyelenggara ini menginginkan hasil Pemilu benar-benar valid, tanpa ada manipulasi yang bisa dipertanggung jawabkan dunia akhirat.
Olehnya sudah sepantasnya kita menghargai dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada para penyelenggara baik KPPS, PTPS, PPS, PPL, PPK, PANWASCAM, Personil Keamanan, dan KPU atas kerja keras dan dedikasi mereka. Disaat kebanyakan orang sudah dengan eufhoria atas klaim kemenangannya para penyelenggara ini masih berjibaku dengan rekapitulasi perhitungan suara.
REGULASI PERLU DIKAJI KEMBALI
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu Pasal 347 yang mengamanatkan Pemilu diselenggarakan secara serentak yang menjadi pijakan pelaksanaan Pemilu 2019, perlu dikaji lagi. Pasalnya akibat disatukannya Pileg dan Pilpres membuat pekerjaan penyelenggara pemilu bertambah berat. Tanpa Pilpres pun, para penyelenggara khususnya KPPS sudah kelimpungan melaksanakan tugasnya, apalagi sekarang sudah dilaksanakan serentak dengan Pilpres.

Saya tidak pada posisi untuk menggugat regulasi ini, tetapi hanya mengetuk hati para pengambil kebijakan untuk meninjau kembali. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Bapak Anwar Usman sebagaimana diberitakan sejumlah media massa mengaku berdosa mengabulkan uji materi Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, yang menjadikan Pilpres dan Pileg dilaksanakan bersamaan, setelah melihat banyak korban jiwa berjatuhan dikalangan penyelenggara.

Hal ini mengindikasikan bahwa amanat Undang-Undang ini sangatlah berat bagi penyelenggara. Selain meninjau kembali Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, tahapan Rekapitulasi Perhitungan Perolehan Suara juga perlu dipertimbangkan, karena akibat dipusatkan pelaksanaan rekapitulasi di tingkat kecamatan membuat pelaksanaan rekapitulasi ini juga sangat memakan waktu.

Waktu 1 minggu dikhawatirkan tidak mencukupi untuk pelaksanaan rekapitulasi. Menurut hemat saya sebaiknya tahapan rekapitulasi ini, setelah selesai penghitungan suara di TPS dilanjutkan rekapitulasi di tingkat PPS (kelurahan/desa), agar selain menghemat waktu karena bisa dilaksanakan secara serentak juga kekeliruan penghitungan dan pencatatan di TPS bisa langsung dibenahi di tingkat PPS sebelum pelaksanaan rekapitulasi di tingkat PPK (Kecamatan). Sehingga pelaksanaan rekapitulasi di tingkat PPK sudah lebih lancar tinggal membenahi kekeliruan-kekeliruan yang luput dari PPS, dan beban penyelenggara pun relatif lebih ringan. (*)
*) Penulis adalah mantan Penyelenggara Pemilu : KPPS (2004 & 2013), PPS (2017) & PPK (2018)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker