KONTROL

MANTAN AUDITOR BPK RI SOROTI MANAGEMEN TMII

Laporan : Jaringan Berita SMSI

Editor : Mahmud Marhaba

 

JAKARTA [KP] – Managemen Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menuai sorotan. Mantan Auditor BPK-RI, Sjafrudin Mosii akhirnya bersuara. Bukan persoalan uang atau besaran uang yang dikeluarkan saat masuk di kawasan TMII, tetapi sebuah perlakuan yang dianggap ‘tidak adil’ diberlakukan saat masuk ke kawasan tersebut.

Suatu ketika, dirinya mendapat undangan untuk menghadiri pesta perkawinan. Berhubung kondisi Jakarta yang dikenal macet dan padat itu, maka kecanggihan teknologi pun dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan, termasuk undangan perkawinan kepada dirinya. Di era revolusi industri 4.0 dewasa ini, surat undangan yang konvensional sudah mulai berdampingan dengan undangan berbentuk digital melalui media sosial, dan hal itu sudah mulai dipahami oleh masyarakat sebagai undangan yang bersifat resmi.

 

Dirinya menuju TMII. Saat memasuki pintu utama TMII, Sjafrudin Mosii harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 55 ribu untuk membayar karcis masuk TMII dan bea parkir. Berbeda dengan berapa pengunjung yang menghadiri undangan yang sama. Mereka mendapatkan fasiltas gratis saat masuk komplek TMII.

 

Setelah ditelusuri, ternyata mereka menggunakan undangan secara konvensional yang didalamnya sudah termasuk biaya masuk kompleks TMII.
“Apabila kita mendapatkan undangan kawinan di TMII melalui medsos. Pihak TMII mengharuskan kita membayar tiket masuk sebesar Rp.20.000 perorang termasuk sopir. Sebagai ilustrasi, Saya dan sopir harus bayar Rp. 40.000 untuk tiket masuk dan Rp.15.000 untuk parkir, total Rp. 55.000. Padahal mereka yang mendapatkan undangan konvensional tidak dikenakan tiket masuk karena pada undangan tersebut sudah dilampiri tiket masuk,” ungkap Mosii yang juga selaku Ketua Umum Pusat KKIG.
Mosii pun kemudian bertanya, Kenapa pengelola TMII harus mengenakan tarif tiket masuk kepada mereka yang diundang secara digital melalui medsos? Bukankah haknya sama dengan pengunjung yang di undang secara konvensional?
demikian juga dengan undangan kawinan di malam hari yang oleh pengelolah tetap dikenakan biaya tiket masuk kepada tamu undangan, padahal jelas-jelas di malam hari tidak ada lagi kegiatan di TMII selain menghadiri undangan?

 

Olehnya, Mosii berharap agar pihak pengelolah meninjau kembali penerapan aturan yang dianggapnya ‘kurang adil’ di zaman moderen ini.

 

Hingga berita ini diturunkan, jaringan berita SMSI di Jakarta sedang melakukan konfirmasi ke pihak Managemen TMII. #[KP/Ati]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker