OPINI

MAMPUKAH GORUT ‘MENJADI POROS MARITIM UTARA INDONESIA’?

 

Bagian Terakhir

 

Oleh : Zulkarnain Musada

(Mahasiswa Jurusan Perikanan, Universitas Bosowa Makassar)

 

 

Hal pertama yang menjadi pertanyaan adalah masalah definisi, apa yang dimaksud dengan poros maritim utara? Apakah dengan menjadikan Gorut sebagai poros maritim utara maka segala aktivitas kemaritiman, kelautan dan perikanan (perdagangan, pengembangan riset dan teknologi) di kawasan utara nantinya akan berkiblat pada Gorut? Sehingga Gorut memegang peran penting dalam pemanfaatan, pengembangan dan pengendalian sektor maritim, kelautan dan perikanan di utara Indonesia?

Kalau benar hal tersebut yang dimaksud, maka mau tidak mau segala potensi ekonomi dalam bidang maritim, kelautan dan perikanan harus didorong semaksimal mungkin agar mampu berkontribusi secara signifikan dalam memutar roda ekonomi Gorut.

Namun, ironisnya saat ini bidang maritim, kelautan dan perikanan masih menjadi anak tiri dalam lansekap pembangunan Gorut, sehingga kontribusi dari bidang maritim, kelautan dan perikanan masih sangat minim jika dibandingkan dengan bidang lain dalam total anggaran pendapatan Gorut.

Hal kedua yang patut dipertanyakan adalah bagaimana konsep Poros Maritim Utara Indonesia? Apa langkah-langkah yang harus ditempuh? Seperti sebelumnya, bahwa Gorut memiliki potensi maritim, kelautan dan perikanan. Lantas akan berfokus kemana konsep Poros Maritim Utara Indonesia? Apakah akan digarap semua? Tentu tidak realistis untuk menggarap semua sektor maritim, kelautan dan perikanan dalam jangka 5 tahun kedepan ini (mengingat kecilnya APBD). Dan tentu tidak lucu jika agenda yang dikerjakan nanti bersifat sporadis dan tanpa road map atau blue print yang realistis.

Berbicara mengenai bagaimana konsep Poros Maritim Utara Indonesia, sebaiknya pemerintah lebih dulu men-sosialisasikan mengenai perbedaan konsep Gorut sebagi daerah kelautan/perikanan dan maritim. Terminologi kelautan/perikanan dan maritim adalah dua hal yang secara filosofi berbeda dan otomatis akan memiliki derivasi yang berbeda pula dalam implementasi kebijakan. Pemahaman baik mengenai  perbedaan ke-dua-nya akan memberikan dampak baik pula dalam pengambilan kebijakan dan sinkronisasi aktivitas dalam pembangunan Gorut.

Menurut Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Kelautan dan Perikanan RI pertama, menyampaikan bahwa terminologi kelautan/perikanan adalah segala hal yang berkaitan dengan sumber daya alam yang dianugerahkan (given) oleh Tuhan YME kepada kita sebagai penduduk nusantara. Sumberdaya perikanan dan biota laut lainnya, hidrokarbon di laut, terumbu karang dan marine renewable energy (OTEC, arus pasut, gelombang dan solar) adalah derivasi dari terminologi kelautan/perikanan.

Selanjutnya, terminologi maritim adalah segala aktivitas manusia dilaut untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Insdustri maritim (galangan kapal, Engineering – Procurement – Construction – Installation atau EPCI), pelayaran, rekayasa instrumen kelautan dan lain-lainnya adalah topik utama dalam terminologi Maritim.

Suatu perencanaan yang baik, tentu memiliki indikator-indikator sebagai ukuran keberhasilan. Nah, pertanyaannya adalah indikator apa saja yang akan digunakan sebagai ukuran keberhasilan gagasan/doktrin ini? Kapan Gorut dikatakan sudah berhasil mencapai target Poros Maritim Utara Indonesia? Apakah nanti kalau kita sudah bisa membuat kapal pesiar sendiri, lantas kita dikatakan sudah menjadi Poros Maritim Utara Indonesia? Tentu akan sangat menarik membayangkan bagaimana wajah kemaritiman, kelautan dan perikanan Gorut kelak ketika sudah sampai pada titik sebagai Poros Maritim Utara Indonesia.

Pertanyan kritis berikutnya adalah apakah sudah ada estimasi berapa anggaran yang dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita sebagai Poros Maritim Utara Indonesia? SKPD mana saja yang perlu mendapatkan kuncuran dana lebih untuk menggarap agenda-agenda kemaritiman, kelautan dan perikanan?

 

Beberapa Hal Perlu Diperhatikan

Terlepas dari berbagai pertanyaan seputar konsep, langkah-langkah yang harus ditempuh dan anggaran yang diperlukan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi para pemangku kebijakan terkait demi tercapainya cita-cita sebagai Poros Maritim Utara Indonesia.

  1. Indentifikasi Masalah

            Hal pertama yang harus menjadi perhatian adalah identifikasi potensi yang lebih komprehensif (tidak parsial atau terpisah-pisah dan tersebar di berbagai instansi) dan akurat. Sebagai contoh, sampai saat ini informasi mengenai berapa potensi pariwisata, kelautan dan perikanan yang benar dan akurat, masih menjadi tanda tanya. Masing-masing lembaga terkadang memiliki data berbeda-beda.

 Hal kedua yang penting untuk diperhatikan adalah identifikasi permasalahan yang menghambat dan bagaimana solusi penanggulangannya.

  1. Kendala di Sektor Maritim

Beberapa hal yang masih menjadi kendala antara lain minimnya kajian tentang karakteristik fisik, kimia dan biologi dari laut Gorut secara keseluruhan. Sebagai contoh dalam bidang Marine Engineering (Offshore Engineering), karakteristik energi laut di Gorut, atau lazim dikenal sebagai Wave Energy Spectrum, yang mewakili karakteristik laut Gorut masih belum teridentifikasi dengan jelas.

Sedangkan kendala lainnya antara lain minimnya kajian tentang berapa infrastruktur yang dibutuhkan (kapal penumpang, kapal kargo dan kapal untuk offshore operation lainnya).

  1. Kendala di Sektor Kelautan dan Perikanan

Beberapa hal yang masih menjadi kendala besar antara lain maraknya penangkapan ikan ilegal atau IUU Fishing, nelayan masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan BBM murah, kemudahan akses permodalan dan keringanan pajak bagi usaha mikro kecil, tengkulak/rentenir, kajian tentang berapa jumlah armada kapal dan alat tangkap yang dibutuhkan untuk memanfaatkan Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) Gorut, alat bantu penangkapan ikan (rumpon/ponton,  GPS, Fish Finder, Echo Sounder, dan sebagainya) kurang optimal dan memadai, manajemen aktivitas hidup nelayan menghadapi (musim panceklik), kapal-kapal nelayan (yang sebagian besar terbuat dari kayu) yang tidak memenuhi standar keselamatan (IMO) dan dalam desainnya masih jauh dari kaidah engineering yang benar (Naval Architecture). Industri rumahan pengolahan hasil perikanan ikan teri (bolowa) yang belum dilirik secara serius.

Selain itu permasalahan yang tidak kalah penting adalah perusakan terumbu karang, masih tingginya minat konsumsi penyu (tuturuga) masyarakat, penangkapan biota laut yang dilindungi. Minimnya jumlah kapal dan alat navigasi kapal pengawas perikanan dan minimnya sistem pengawasan kelautan dan perikanan.

 

  1. Kendala di Sektor Pulau-pulau Kecil

Pencaplokan dan pelanggaran wilayah oleh daerah lain masih sering terjadi sampai sekarang. Identifikasi semua pulau di Gorut (toponimi). Perlu di catat mengenai luas pulau-pulau (50 pulau tidak berpenghuni). Karena hampir separuh atau keseluruhan pulau-pulau belum terindetifikasi.

  1. Tumpah Tindih Tupoksi dan Ego Sektoral

Kurangnya pemahaman akan konsep maritim, kelautan/perikanan, pulau-pulau kecil akan berdampak pada tumpang tindihnya tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dari SKPD. Hal ini akan berdampak pada redundansi kegiatan kerja dan tentu akan membuat daerah menguncurkan dana pada dua kegiatan yang sama di dua instansi yang berbeda.

Indra Yasin – Thariq Modanggu harus punya langkah strategis untuk membenahi permasalahan ini. Jika perlu dilakukan merger dari beberapa unit kerja yang memiliki tupoksi sama, agar anggaran daerah tidak keluar mubazir, atau paling tidak dilakukan sinergi dan sinkronisasi sehingga penggunaan anggaran lebih efektif dan efisien.

Masalah tumpang tindih tupoksi ini akan diperparah dengan sikap ego sektoral antar SKPD. Seolah-olah tidak ingin kehilangan “kue” anggaran, jika ada sinyal-sinyal akan diberlakukannya merger atau sinkronisasi antar unit kerja yang beririsan tupoksinya.

  1. Daya Manusia

Sampai saat ini belum ada data spesifik yang menyebutkan berapa jumlah tenaga kerja dalam bidang maritim, kelautan dan perikanan di Gorut. Demikian juga belum ada data spesifik yang menyebutkan berapa jumlah ideal tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menggarap sektor maritim, kelautan dan perikanan di Gorut. Oleh karena itu, perlu sekali untuk melakukan pendataan jumlah tenaga kerja yang saat ini bekerja dalam bidang maritim, kelautan dan perikanan serta berapa jumlah ideal yang dibutuhkan.

Minat generasi muda Gorut dalam bidang maritim, kelautan dan perikanan masih sangat kecil. Ini terbukti dari kecilnya jumlah mahasiswa yang mengambil jurusan Teknologi dan Jurusan Kelautan- Perikanan di kampus-kampus yang tersebar di Provinsi Gorontalo atau Indonesia. Memang belum ada data yang detail menyebutkan jumlah mahasiswa yang mengambil dua bidang tersebut. Namun dari trend sekarang menunjukkan jurusan Hukum, Ekonomi, IT, Kesehatan, Kebidanan, Keperawatan, Pendidikan dan lainnya masih menjadi primadona bagi lulusan SMA/SMK/Sederajat untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

Ini ironis karena saat ini kita tentu sangat membutuhkan tenaga-tenaga profesional muda dan handal (dalam jumlah yang besar) dalam bidang kemaritiman, kelautan dan perikanan. Sehingga itu pemerintah harus melakukan sosialisasi secara masif akan doktrin dan gagasan Poros Maritim Utara Indonesia, agar anak-anak muda berbondong-bondong memenuhi kampus-kampus untuk belajar ilmu kemaritiman, kelautan dan perikanan. Sederhananya, bidang maritim, kelautan dan perikanan menjadi “lahan” perjuangan dan pengabdian yang baru.

  1. SKDP dan Instansi Lintas Sektor Menjadi Ujung Tombak

               Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa gagasan Poros Maritim Utara Indonesia adalah ide besar yang harus diimplementasikan dengan kerja exraordinary yang penuh dedikasi dan tim yang solid. Oleh karenanya, SKPD dan instansi lintas sektor harus bekerja super keras untuk mewujudkannya.

Akhirnya, gagal mewujudkan gagasan besar Poros Maritim Utara Indonesia artinya kita sebagai daerah dengan kekayaan alam laut dan pesisir gagal memanfaatkan potensi diri sendiri. Ambisi ini harus menjadi proyek semesta yang melibatkan semua komponen agar deklarasi misi yang disampaikan oleh Indra Yasin – Thariq Modanggu tidak berujung kesia-siaan.##

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Vidiyaamaliah.co.id
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button